19

1430 Kata
Selepas tergesa keluar tadi, Uetaro memimpin pelarian mereka dari gedung Kepolisian Metropolitan Tokyo di Distrik Chiyoda, Tokyo, ke restoran di daerah yang sama untuk mengobrol. Yah, itu niatan awalnya. Uetaro punya alasan di balik kemunculannya yang tiba-tiba, membawa kunci penjara, mengeluarkan Detektif King, dan melanggar hukum. Dia punya alasan serius membawa Detektif King ke restoran untuk mengobrol, dan alasannya bukan karena ada makanan pengganjal perut, tapi karena banyak sipil di sana. Tetapi sejak tadi, Detektif King terus mengunyah dan belum bisa diajak serius. Sepiring pancake berlumuran madu datang ke meja mereka. Detektif King sudah siap dengan pisau dan garpu. Setelah berterima kasih pada pelayan, dia antusias memakannya lahap-lahap, seolah empat roti isi yang dimakannya tadi hanyalah sepotong kue. "Kau belum makan dari semalam?" tanya Uetaro, sedang retorik sebenarnya. Tapi Detektif King menggeleng. "Lupa. Semalam terlalu fokus mencari kejanggalan dari koran-koran terbitan tiga tahun lalu, yang menyangkut Insiden Malam Merah, sampai tidak sempat makan malam ke Kedai Ramen Nakayama." "Nakayama?" sahut Uetaro untuk dirinya sendiri. "Ah, kata rekanku yang tinggal di dekat Distrik Akasaka, ramen mereka memang enak. Kaya rasa dan tidak terlalu berminyak. Bintang lima!" Detektif King mengangkat kedua alisnya setuju. "Iya, kan?" yakinnya, sehabis menelan gumpalan besar. "Aku biasanya makan malam di sana. Pemiliknya selalu memberi harga khusus pada langganan lama." Uetaro hampir menimbrung dan berkata bahwa dirinya juga ingin mendapatkan keistimewaan tersebut. Dia hampir saja melupakan tujuannya menemui Detektif King—bahkan sampai membantunya kabur—tapi kemudian dia menggeleng, tersadar. "Bukan itu yang mesti kita bicarakan sekarang, Kingu-san." Detektif King mengangguk-angguk. Bukan menyetujui kalimat Uetaro, melainkan refleks karena pancake yang dimakannya terasa enak dan manis, pas sekali di perutnya yang kelaparan. "Bicaralah. Aku mendengarkan." Uetaro memandang datar dan lama, menunggu Detektif King benar-benar memaku perhatian kepadanya. Detektif King yang semula asyik mencecap makanannya pun cepat-cepat menelan kunyahan, meminum kopinya untuk membantu melicinkan kerongkongan, kemudian menyingkirkan pancake yang tersisa setengah bundaran ke pojok meja. "Baiklah," tandasnya. "Ada apa?" Detektif King memasang wajah serius. Tanpa mendebat, Uetaro menyodorkan ponselnya, memperlihatkan sebuah video yang di-pause. "Lihatlah." "Apa ini?" Detektif King mengambil ponsel, mendekatkan layar ponsel ke matanya. "Orang yang sedang… berlatih bela diri?" Uetaro mendekat, melirik kanan dan kiri restoran dari bahunya, lalu memberi isyarat pada Detektif King untuk melakukan hal yang sama. Dia kemudian berbisik di jarak telinga lawan bicara yang sudah dekat, "Sebuah petunjuk." "Petunjuk?" tanya Detektif King, tak paham. Uetaro mengeluarkan suara sssshhh, menyuruh Detektif King memelankan suara. tapi Detektif King mengerutkan kening. "Apa yang bisa orang ini tunjukkan? Otot perutnya?" tanyanya tidak nyambung. Uetaro bergelagat seperti seorang informan amatir yang menyetor informasi untuk tuan yang dilayaninya. Sikapnya sekarang tampak seperti aktor tak berpengalaman. Sungguh amatir. Dia merebut ponsel dari tangan Detektif King, menggeser layar, dan menunjuk sebuah foto yang berbeda. "Lihat ini." Foto yang satu itu diambil di malam hari, terlihat dari langitnya yang berwarna hitam dan gelap. Ada pula dua orang di dalam foto, mereka tersorot sinar merah dan biru yang membias dari belakang kamera. Salah satunya memakai baju hitam, satu yang lain memakai jas dan dasi. Mereka sama-sama membelakangi kamera. Gerakan mereka tak jelas, tampak buram dan terseret seperti saat kau memotret sesuatu yang sedang 8bergerak cepat. Detektif King semakin mengerutkan alisnya. "Apa yang ingin kau tunjukkan, Uetaro? Bicaralah pakai bahasa manusia." Uetaro mengetuk layar ponsel, jengkel. Dia menggeser layar ponsel lagi, segera tampilan layar pun berubah. "Aku akan memutar videonya. Kau lihat baik-baik gerakan si Otot Perut ini." Uetaro menggeser foto, kembali pada video lelaki bertelanjang perut. Sekali ketuk, video pun dimulai. Detektif King melihat secermat mungkin, seperti yang diminta Uetaro. Dimulai dari seorang pria tak dikenal yang mereka berdua sepakati untuk dipanggil si Otot Perut, yang memperkenalkan diri sebagai praktisi bela diri, lalu mempraktikkan macam-macam pukulan, tendangan, dan tangkisan. Berselang beberapa waktu, dia memanggil seorang rekan yang akan membantunya memperagakan sebuah gerakan bersama. Rekannya diperintahkan untuk menyerang tubuh bagian atasnya, dan si Otot Perut refleks memutar tubuh serta kepalanya dengan gerakan tipis, menangkis dengan sebelah tangan, dan sebelah tangannya lagi menumbukkan satu pukulan ke perut rekannya. Sampai di bagian itu, Uetaro menghentikan video. Detektif King masih mengernyit. Lalu Uetaro menggeser layar, kembali pada sebuah foto dua orang berbaju hitam dan berjas tadi. "Kau lihat ini?" Uetaro menarik sebelah sudut bibir. Dia menggeser-geser foto dan video yang di-pause itu bergantian, menyerahkan dugaan pada Detektif King yang masih mencari poin kalimatnya. Layar video itu berhenti tepat saat si Otot Perut menangkis sekaligus memukul lawannya. Kemudian, pada foto malam hari itu, setelah entah berapa kali mengerutkan kening, Detektif King menangkap apa yang sedang dua orang dalam foto itu lakukan. Walau buram dan mereka berdua tampak membelakangi kamera, Detektif King yakin, bahwa orang berbaju hitam itu sedang memukul perut si Pria Berjas, karena si Pria Berjas agak terhujung ke samping, dan Detektif King dapat melihat sebelah tangan si Baju Hitam menepis pukulan Pria Berjas dari wajah bermaskernya. Semuanya kemudian menjadi jelas. Detektif King membulatkan mata pada Uetaro, tak menyangka pada petunjuk yang diberikan Uetaro padanya. "Apa yang kau dapatkan dari si Otot Perut?" Uetaro menyeringai senang, bertanya retorik. Akhirnya, Detektif King hanya bisa melotot tanpa kata-kata yang tersusun rapi. "Gerakannya…." Uetaro mengangguk yakin. "Sama persis." "Tapi—" "Memang bukan," potong Uetaro. Dia mendekatkan kepala lagi, memastikan suaranya hanya bisa didengar oleh Detektif King, tidak sampai tumpah ke meja-meja pengunjung restoran lainnya. "Aku tidak bilang, kalau praktisi bela diri ini adalah tersangka pencurian tiga rumah mewah di Distrik Omotesando. Bukan. Mustahil pria ini tersangkanya. Dia terlalu berotot, dan dia seorang pria, bukan wanita seperti Pretty Devil yang menjadi tersangka utama kasus pencurian ini. Jadi, tidak mungkin. Bukan itu yang ingin kukatakan." "Jadi, maksudmu…." "Aku sudah bilang akan memberi tahu sebuah petunjuk, bukan?" Uetaro tersenyum lagi, berlagak misterius. "Foto yang kau lihat ini adalah Pretty Devil yang sedang berkelahi dengan salah satu inspektur yang mencegatnya semalam. Fotonya diambil dari kamera dasbor mobil polisi, maklum saja jika kualitasnya tidak terlalu bagus. "Informasi ini sedang dalam proses pemeriksaan lebih dalam. Divisiku dan divisimu yang dulu sudah diperintahkan untuk bekerja sama. Aku baru mendapat foto itu saat masuk kantor tadi. Timku sedang melakukan pencocokkan gerakan Pretty Devil dengan berbagai aliran bela diri di Jepang." Uetaro tertawa dengan suara besar. Dia menggeleng, entah dalam maksud apa, tapi Detektif King tahu kalau Uetaro terlihat senang akan penemuan teorinya. "Apa? Lalu apa?!" serobot Detektif King tak sabar. Uetaro menghela napas, membuang sisa jenaka dalam mulutnya dalam sekali sembur. Dia mengetuk-ngetuk layar ponselnya lagi. Kali ini menggeser foto demi foto yang sama, hanya gerakannya saja yang sedikit-sedikit berbeda—seperti memotret dalam mode burst, dan kau akan mendapatkan hasil gerakan terkecilmu, frame per frame. Jadi, gerakan sekecil menggerakan jari saja akan tertangkap di foto. “Lalu?” "Jika menunjukkan video aslinya padamu, gerakan ini tak akan tertangkap mata. Terlalu cepat, dan tubuhnya serba hitam karena kostum yang dia pakai. Coba kau perhatikan ini." Uetaro menggeser satu per satu foto. Dia menunjuk telapak bersarung tangan hitam milik Pretty Devil. "Kau lihat bagaimana tangannya terbuka seperti hendak menjabat tangan orang ini?" Uetaro bertanya, ingin tahu sampai mana Detektif King mengikuti informasinya. Dan untunglah dia mengangguk. "Lalu," Uetaro menggeser lagi," Fokuslah pada tangannya, Kingu-san." Uetaro menggeser lagi, satu demi satu. Perlahan-lahan supaya Detektif King tak ketinggalan satu pun gerakan. "Tangannya!" pekik Detektif King. "Tangannya—" Dia kembali terbelalak menatap Uetaro. Uetaro mengubah wajahnya menjadi semakin serius. Dia mengangguk dan berkata, "Terkepal. Perlahan-lahan tangannya terkepal. Mulai dari posisi hendak berjabat, hingga masuk memukul perut Pria Berjas, tangannya berubah menjadi terkepal." Detektif King masih berwajah tak menyangka, bahwa dia selangkah lebih dekat dengan identitas Pretty Devil, walau baru bela dirinya saja yang dia ketahui. "Hahaha!" Uetaro tertawa, mengambil atensi Detektif King. "Bajiingan ini," Uetaro menggeleng lagi, "Dia bukan hanya seorang pencuri. Jika dia benar warga Jepang, maka sepertinya dia penghianat warisan budaya negara kita!" Melihat Uetaro tertawa lagi, Detektif King kebingungan. Kerut alisnya sudah menumpuk di kening. "Kingu-san, apa kau tahu gerakan tangan ini?" tanya Uetaro. "Pukulan dengan gerakan tangan yang seolah ingin menusuk, kemudian mengepal dan memukul lawannya. Apa kau tahu bela diri apa itu?" Detektif King menggeleng, hanya diam dan menatap Uetaro sambil menunggu jawaban. “Aku sudah semalaman mencari contoh gerakan memukul seperti itu. Dan kau tahu apa yang kudapatkan?” Sedang Uetaro, tak lagi menyeringai, wajahnya mengeras seraya berkata, "Jeet Kune Do, bela diri yang diciptakan Bruce Lee, orang terhebat dalam sejarah bela diri, dengan kewarganegaraan Cina." "Jeet… Kune Do? Ci…na?" “Sepertinya, negara kita kemasukan teroris dari negara tetangga. Apa jangan-jangan Insiden Malam Merah juga ada sangkut pautnya dengan aksi Pretty Devil? Apa ini naskah Cina untuk menggulingkan ekonomi Jepang?” Uetaro menatap Detektif King serius. “Kingu-san, menurutmu bagaimana?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN