Berbagai obrolan dan suara riuh rendah singgah sebentar sebelum empas dari telinganya. Nakayama Anzu geram pada antrean yang dirasa tak juga berkurang, pun pada si kasir yang terlalu menikmati kegiatannya.
Bunyi tut tut tut berat tanda mesin pembaca kode bar yang beroperasi pun seakan berjalan lama, membuat Nakayama Anzu ingin berlari ke arah konter dan menampar si kasir—dan kalau perlu menggantikan perannya sekaligus.
Atau Nakayama Anzu bawa pergi saja belanjaan miliknya, sekeranjang-keranjangnya sekaligus, ya?
Dan, Nakayama Anzu bukan hanya satu-satunya orang yang gelisah pada kondisi menyebalkan ini. Ryu pun bukan satu-satunya orang yang buru-buru dikejar waktu.
Lima orang di depan Nakayama Anzu, yang berpakaian kemeja dan jas khas kantor, mungkin saja merasa jengkel, diterka dari sepatu beberapa dari mereka yang mengetuk-ngetuk lantai, satu-dua orang yang berkali-kali menghela napas, dan ada juga yang mengecek jam tangannya sembari menggerutu. Tiga anak sekolah di belakang Nakayama Anzu dan Ryu mungkin juga demikian. Tetapi, bisa jadi hanya Ryu-lah satu-satunya manusia yang tak merasa sebal oleh keleletan sang kasir.
Ryu memang berkali-kali melirik keranjang belanjaannya, tapi melihat cengiran di wajahnya, Nakayama Anzu berasumsi kalau adiknya itu bukan merasa jengkel, melainkan terlalu senang dibelikan banyak makanan, persis seperti anak kecil yang dibolehkan membeli mainan mahal. Tangan kasir yang tak cekatan tidak mempengaruhi perasaan gembiranya. Ryu asyik saja pada perasaannya sendiri—membuat Nakayama Anzu mendengus geli. Mirip Aiko, batinnya.
Kemudian Ryu menyadari, jika yang membayar seluruh makanan yang diambilnya adalah sang kakak, yang saat ini sedang menekuk wajah sembari melipat kedua tangan di d**a, menatap ke arahnya.
Ryu tersenyum, berpikir barang kali kakaknya akan luluh. Ingin Ryu menanyakan dengan apa sang kakak akan membayar belanjaan sebanyak itu, tapi kemudian urung, karena tahu, kakaknya akan tambah sebal jika Ryu bertanya soal keuangannya. Sama halnya dengan Ryu yang tidak suka ditanyai perihal kehidupan sekolahnya—walau Ryu merasa penasaran sekali tentang keuangan kakaknya, mengingat kakaknya belum punya pekerjaan.
Pada akhirnya, Ryu berkesimpulan, bahwa kakaknya giat sekali membantu di kedai ramen keluarga mereka, dan tentu baik hati sekali membelanjakan gajinya untuk Ryu. Maka, daripada melihat kakaknya manyun dan mengerutkan dahi, Ryu mengajaknya berbasa-basi setelah melihat kedua tas yang dibawa sang kakak. "Enggak berat?"
"Apa?" Nakayama Anzu menoleh, mengikuti titik pandang adiknya. "Oh, ini?" Dia menyentak tali bass case di pundaknya, kemudian dengan senyuman tulus berkata, "Meyakinkan Ayah kalau apa yang sedang kulakukan itu tidak sia-sia, lebih berat, Ryu."
Ryu ikut tersenyum. Entah karena rencananya berhasil, entah tertular kakaknya, pun merasa bersimpati. "Berapa lagu yang bisa kau mainkan?"
"Panggil aku kakak atau Kak Anzu, bocah. Kau ini gak sopan banget." Nakayama Anzu tertawa kecil, meninju lengan adiknya, tapi tak merasa tersinggung. "Yah, cukup banyak, sampai aku berani melamar kerja sebagai musisi kafe."
"Memangnya Kak Anzu bisa main bass?" Ryu terdengar tidak percaya cerita kakaknya.s
Nakayama Anzu mengedikkan kedua bahu, tersenyum penuh arti. Sedang Ryu merotasi mata, sedikit menyesali mulutnya karena terbalas dengan kesombongan kakaknya. "Aku gak pernah lihat Kak Anzu berlatih atau main bass di rumah. Jangan-jangan, Kakak bawa-bawa itu cuma untuk pamer saja, ya? Biar dikira keren, padahal gak bisa main bass?"
Nakayama Anzu memukul lengan adiknya lagi, kali ini agak kencang. "Ayahmu pasti menceramahiku setiap aku baru mau buka gerendel hardcase bass-ku. Padahal, aku mencuri waktu saat ayahmu melayani para pembeli di lantai satu, tapi telinganya tajam banget, deh. Heran. Masa, baru ctek satu gerendel, Ayah sudah manggil aku untuk turun. Padahal pintu kamar aku tutup, lho! Gila, kan?"
“”Gila”? Nanti aku bilangin Ayah, kalau Kak Anzu ngatain Ayah gila!”
“Kau dengar gak, sih, aku ngomong apa?” Nakayama Anzu menoyor kepala adiknya, membuat Ryu limbung. “Yah, kalau kau mengaduiku, tinggal kubilang saja pada ayahmu, kalau anaknya juga ikut mengatainya ‘gila’.” Nakayama Anzu tersenyum puas.
Ryu pun menyengir singkat. "Itu, kan, ayahmu juga."
"Itu?" selidik Nakayama Anzu. "Memangnya Ayah benda, sampai kau sebut itu?" Dia menepak belakang kepala sang adik, membuat Ryu hendak membalas tapi urung karena kedua tangannya terlalu berat membawa keranjang belanjaan, yang mengingatkannya pula kalau seluruh makanan di dalamnya akan dibayar oleh si kakak.
Tahan, tahan. Seenggaknya sampai keluar konbini!
Antrean akhirnya berkurang. Nakayama Anzu dan Ryu, beserta semuanya maju satu langkah. Nakayama Anzu yang tadinya ingin mengancam Ryu untuk diadukan ke Ayah atas kalimatnya, seketika lupa ingin melanjutkan bicara. Nakayama Anzu akhirnya tertawa kecil saja seraya menatap keluar kaca, pada laju-laju kendaraan yang melintas di pinggiran ruas-ruas jalan Distrik Akasaka, Tokyo, dan pada para pejalan kaki yang melintas di luar minimarket.
"Oh, iya. Kapan ujian? Kau, kan, sudah kelas tiga SMA," tanya Nakayama Anzu, menyudahi pengamatannya dengan menoleh pada Ryu dan membuat wajah adiknya tertekuk.
"Ck. Baru beberapa minggu sejak musim semi dimulai." —Di Jepang, musim semi itu juga sebagai pertanda dimulainya semester ajaran baru.
"Haha. Aku juga tidak terlalu mengerti pelajaran anak SMA, kok. Karena… yah, pokoknya kau jangan aneh-aneh kalau mau terus sekolah sampai lulus." Nakayama Anzu menyengir, tak menghabiskan kalimat awalnya. "Oh, iya. Beberapa hari lalu, aku dengar Ayah bisik-bisik sama Ibu di dapur. Katanya, Ayah dan Ibu dipanggil ke sekolah karena kau babak belur. Itu benar?"
Ryu menjeling tak suka. Nakayama Anzu menambahkan kalimatnya dengan nada jenaka, "Aku bukan menguping, kok. Malam-malam, aku terbangun karena haus. Waktu mau ke dapur untuk minum, tahu-tahu dapur sudah dipesain duluan sama Ayah dan Ibu untuk rapat darurat. Haha." Nakayama Anzu berdecak dan menggeleng kagum. "Kau punya telur sebesar apa, sih, sampai berani berantem di sekolah?"
"Aku cuma terjatuh saat jam pelajaran Olahraga." Ryu mendaratkan mata pada bungkus-bungkus cokelat di etalase sebelah kanannya, melengos dari mata kakaknya. "Lagian, kau itu perempuan. Masa, sebut-sebut telur, sih?!" bisik Ryu kemudian, geram karena kakaknya asal ceplos di tengah publik dan membuatnya malu.
"Kakak!" Nakayama Anzu mengoreksinya. "Terus mau kusebut apa? Biji? Kau punya biji sebesar apa, sampai berani main tonjok-tonjokan di sekolah?"
"Nakayama Anzu!" Ryu menoleh ke segala arah, memeriksa perhatian orang-orang yang tertuju pada mereka—atau tepatnya tatapan mereka tertuju pada sang kakak. Tapi tetap saja membuat Ryu ikut malu. Kan, biji miliknya yang disebut-sebut.
"Kak Anzu!" Ditepuknya punggung Ryu hingga membuat adiknya itu sedikit terdorong ke depan dan menumbuk lelaki asing. Ryu melotot, berbisik menyuruhnya diam, lantas melirik ke semua arah hanya untuk mendapati mereka berdua diperhatikan dengan curi-curi pandang dan tolehan kepala.
Tapi kakaknya tak mau ambil pusing pada sekeliling. "Cuma terjatuh?" tanya Nakayama Anzu, tak melupakan topik mereka. "Sampai babak belur?" Nakayama Anzu menggeleng, dia melihat Ryu sudah kembali diam dan tak berdesis ini-itu, tapi mata adiknya dikaburkan ke lantai.
Mereka maju, antrean tersisa dua pembeli di depan. Satu wanita berpakaian kantor, satu lagi laki-laki berambut putih yang tadi hampir Ryu tumbuk, dan yang Nakayama Anzu yakin jika warna rambut putihnya itu bukanlah uban, saat Nakayama Anzu sedikit memanjangkan leher untuk melihat pipinya yang terbukti belum keriputan.
Nakayama Anzu melirik Ryu. "Tapi kau menang, kan?" tanyanya, membuat Ryu mengangkat wajah, agak kebingungan. Lantas Nakayama Anzu tersenyum, dan seolah tahu segala dia berkata, "Ah, kalah, ya?"
"E-enggak, kok!" jawab Ryu cepat.
Sebelah alis Nakayama Anzu terangkat merespons tingkah laku adiknya. "Jadi kau berantem?"
Nakayama Anzu mendapati raut kaget pada wajah Ryu. Kemudian dia menggeleng. "Bocah," komentarnya. “Gak pintar bohong dan gampang ditebak, seperti Ryu yang biasanya. Haha!”
Kelakuan sok dewasa Nakayama Anzu ini bertambah menyebalkan bagi Ryu, karena kakaknya mengambil salah satu bir dalam ring di keranjang yang Ryu pegang, membuka kancing kaleng, menimbulkan suara krrk-csss yang menggugah, lalu si kakak menenggak birnya—yang belum dibawa ke kasir.
“Glek, ahh….” Nakayama Anzu meloloskan alkohol dingin itu ke dalam perut. "Mau kuajarkan bela diri?" tanya Nakayama Anzu, menggoda Ryu.
Sedang menurut Ryu, kakaknya itu tampak seperti pria tua pemabuk yang hobi menceramahi orang-orang sambil memegang kaleng alkohol di tangannya; yang sering ditemui di pinggir jalan, terutama di dekat-dekat stasiun. Kemudian di setiap akhir kalimatnya, dia tutup dengan satu tegukan alkohol, macam habis merayakan sebuah kemenangan. Nakayama Anzu persis seperti itu menurut Ryu—tapi tidak memenangkan apa pun.
Karena Ryu tidak menjawab, mata Nakayama Anzu mengikuti garis tatapan sang adik yang tertuju pada kaleng birnya. "Oh, tidak, Kawan. Kau itu masih tujuh belas tahun!" Nakayama Anzu menenggak birnya kembali. Setelah mengeluarkan suara ahh lagi, dia tersenyum, "Kau masih terlalu bocah untuk mencecap sebuah dosa."
"Apa? Oh— bukan, bukan." Ryu menggeleng kecil dan mengerjap-ngerjap. "Bela diri? Memang Kakak bisa berantem?" Lalu melihat Nakayama Anzu meminum birnya lagi. "Masih pagi sudah minum bir. Nanti aku bilangin Aya— maksudku, gak baik minum alkohol pagi-pagi, Kak Anzu."
Sang adik yang menyadari posisi dan keadaan dirinya, membuat Nakayama Anzu menertawai Ryu ketika adiknya itu hendak mengadukan dirinya kepada Ayah. Tapi Nakayama Anzu memilih membahas yang lain, karena tahu adiknya takkan mengadukan hal ini kepada Ayah. Mulut Ryu sudah disumpal dengan makanan sekeranjang penuh.
"Mmm." Nakayama Anzu memikirkan pertanyaan Ryu, mengingat-ingat bela diri yang belakangan ini dilakukannya. "Yah, bisa dibilang aku jago memecahkan telur laki-laki."
Dia membuat Ryu kaget lagi. Tak tahu karena Nakayama Anzu mengucapkan kata telur, tak tahu pula karena Ryu benar-benar mempercayai omongan kakaknya.
"Oh, hei, Ryu, maju." Nakayama Anzu mengedikkan dagu, menunjuk depannya yang sudah kosong. Antrean yang tersisa tinggal si lelaki berambut putih.
Untuk beberapa lama, tidak ada obrolan lanjutan dari keduanya. Ryu dan Nakayama Anzu bersiap menghadap kasir dan membayar belanjaan mereka selagi antrean hanya tersisa satu orang.
Sudah gitu, Nakayama Anzu dan Ryu perhatikan, laki-laki bersetelan jas pink yang tampak berantakan—dua kancing atas kemejanya tak tersemat, ujung kemeja tidak dimasukkan ke dalam celana, dan jasnya dipakai asal-asalan—itu tidak membawa apa-apa ke kasir. Benar-benar tidak mengambil satu pun barang dari lorong-lorong etalase untuk dibayarkan di kasir.
Penasaran karena tangan lelaki berambut model mullet—sisi kanan dan kiri dicepak, sedang sisi yang lain dibiarkan panjang melewati leher dan dahi—warna putih itu kosong, Nakayama Anzu dan Ryu masing-masing mengintip di kanan dan kiri pundak tingginya.
Dia, si Laki-laki Mullet, menyapa si kasir, kemudian menunjuk kotak-kotak kecil berwarna-warni di belakang tubuhnya dengan dagu kokoh miliknya. Hal tersebut membuat Ryu dan Nakayama Anzu langsung terbelalak, tak menyangka jika si Laki-Laki Mullet itu akan membeli tiga kotak pengaman khusus permainan orang-orang dewasa di pagi hari seperti sekarang!
Nakayama Anzu memandangi si Laki-laki Mullet dari atas sampai bawah, lalu naik lagi ke atas. Nakayama Anzu agak bingung juga, meski lebih banyak memaklumi. Karena, hei, Tokyo itu kota yang besar, dan apa pun dapat terjadi di ibu kota metropolitan, tahu!
Lain halnya dengan sang kakak, Ryu masih tak berkedip melihat lelaki tersebut yang mengeluarkan sebuah kartu dari dompet tebal dan penuhnya dari balik jasnya; entah tak pernah melihat bentuk karet pengaman orang dewasa, pun karena membayangkan apa yang lelaki itu akan lakukan dengan pengaman-pengaman tersebut di pagi hari—di pagi hari—atau sedang terpelongo melihat tebalnya dompet lelaki itu..
Oh, dan apa kalian pernah dengar tentang fakta psikologis yang mengatakan, jika ada seseorang yang menatapmu, meski di keramaian sekali pun, kau juga akan merasakan energi tatapan tersebut hingga akan membuatmu kembali menatap kepada sumber energi—orang itu.
Itulah yang terjadi pada Nakayama Anzu! Dia sedikit berjengkit kaget saat si lelaki berambut mullet mendadak menoleh ke belakang dan mempertemukan matanya dengan mata cokelat Nakayama Anzu. Mereka tak sengaja saling menatap satu sama lain. Karena beberapa detik hanya diam dan tidak nyaman dipandangi oleh orang asing, Nakayama Anzu jadi canggung. Pun, karena sudah terlanjur bertatapan, Nakayama Anzu memberanikan diri membuka mulut.
Dia bertanya seraya sekali lagi melirik penampilan berantakan si Laki-laki Mullet, "Sepertinya… kau habis melalui malam yang menyenangkan?"
Entah dari mana keberaniannya untuk menanyakan hal semacam itu, terlebih kepada lawan jenis, hingga membuat Ryu membulatkan mata pada kakaknya, tak menyangka akan mendengar kakaknya akan bertanya sesuatu yang bersifat pribadi—sangat pribadi.
Si Laki-laki Mullet berlagak santai dengan mengedikkan bahu, tak mempermasalahkan pertanyaan Nakayama Anzu. Kemudian dia memasukkan kartu yang telah dikembalikan si kasir ke dalam dompet tebalnya. "Begitulah," katanya tanpa malu dan dengan senyuman panjang pada bibir.
Nakayama Anzu merasakan sebuah sikutan di lengannya. Itu pasti Ryu yang memberi kode untuk diam atau melarangnya melanjutkan perbincangan penuh basa-basi dewasa itu. Mungkin alasannya karena banyak orang yang menyimak kasir—menyimak mereka. Tetapi hanya sebuah sikutan tidak cukup untuk menghentikan rasa penasaran Nakayama Anzu.
"Kau akan menggunakan semuanya sekaligus?" Nakayama Anzu menunjuk kotak-kotak pengaman yang ada di meja kasir.
Yang juga membuat si Laki-laki Mullet terdiam sejenak sebelum makin menyeringai dan berkata, "Jika mereka sanggup, mungkin tiga kotak tidak akan cukup," lantas mengakhirinya dengan sebuah kedipan nakal kepada Nakayama Anzu.
Keranjang yang dipegang Ryu hampir saja jatuh melihat kejadian itu. Kedua adik kakak itu membeliak dengan raut wajah kaget, tak menduga jawaban macam itu akan datang darinya— akan terdengar sampai ke telinga mereka.
“Si— Sinting!” batin Nakayama Anzu, melirik ke bagian bawah tubuh si Laki-laki Mullet.
“Do hentai-yaro!” batin Ryu, merinding mendengar itu.
“Lagi pula, kenapa aku bertanya begitu, sih??” heran sang kakak.