12

2030 Kata
Selepas Nakayama Anzu dan Nakayama Ryu pergi dari sekolah preschool Aiko. Seorang lelaki, berkacamata sunglasses mengilap keungu-unguan dan bersetelan jas mahal berwarna putih, mengintip dari balik sebuah tembok bangunan yang tak jauh dari dua tubuh yang berdiri di depan gerbang sekolah. Penampilannya tampak mencolok dibanding orang-orang lewat dan orang tua-orang tua yang mengantar anak mereka ke dalam area sekolah. Terlebih, lelaki itu dipayungi oleh lelaki lain yang berpakaian jas dan celana bahan rapi berwarna hitam, seperti seorang bawahan pada umumnya; atau seperti bodyguard pada umumnya, siap sedia kapan pun kau membutuhkannya. Lelaki itu menatap tubuh tampak belakang Nakayama Anzu lurus-lurus, tajam menembus bass case yang digendongnya, dan terus memaku tatapan hingga tubuh gadis dan laki-laki tanggung di sebelahnya itu mengecil dan semakin jauh. Tak beberapa lama, sebuah mobil hitam berbodi ceper, berkilau, mengilap, dan mewah, berhenti tepat di trotoar di sebelahnya. Lelaki yang memegangi payung dengan ringkas membuka pintu belakang mobil, memberi isyarat bagi sang majikan untuk masuk. Namun sebelum menoleh dan masuk ke mobil, lelaki yang bersetelan jutaan yen itu menarik sebelah bibirnya naik, menyeringai penuh arti menghadap dua tubuh remaja di depan sana. "Setelah puluhan bulan, akhirnya aku menemukanmu." Lelaki itu agak mendongak mengangkat dagunya, meninggikan satu sudut bibir, dan menyombongkan harga dirinya; kemenangannya. Dia merogoh saku dalam jasnya, mengambil sesuatu. "Kali ini, kau tidak akan bisa lari lagi…," lantas membaca selembar kertas berisi foto berukuran kecil yang memuat wajah seorang perempuan di pojokan kertas, beserta rentetan tulisan yang mengekor di seluruh halaman. Dia tersenyum, "Nakayama Anzu… ya?" *** Pantat bass case menjadi labuhan mata Ryu, sedang kedua kakinya berusaha mengejar sang kakak yang melangkah lebar-lebar meninggalkannya beberapa langkah di belakang, tak sabaran entah ingin berbuat apa. Ryu agak tertinggal karena Nakayama Anzu berjalan cepat-cepat seperti disengaja menggoda adiknya. Ryu sedikit heran juga dengan tubuh kakaknya yang hanya menyentuh 160 senti, tapi kuat sekali memanggul bass case yang lebih tinggi dan menenggelamkan tubuhnya itu. Ah, jangan lupakan juga tas silinder gym bag yang membuntal besar dan penuh sesak di salah satu pundak tampak rapuhnya itu. "Kak Anzu! Kita harus ke stasiun!" Ryu mengingatkan, sambil sekali lagi berlari menyusul kakaknya, dan kembali memanggil, "Kak Anzu!" karena kakaknya tidak menoleh juga, malah semakin melebarkan langkah. Nakayama Anzu menoleh dengan cengiran lebar. "Kaku banget, sih? Kau gak pernah bolos, ya?" Kemudian tertawa, berbelok ke ruas jalan yang lebih besar. "Hah, bolos?! Jangan! Kak Anzu! Stasiun lewat sini!" Ryu berhenti di pertigaan, menunjuk sebuah liukan di kanannya, memaksa Nakayama Anzu menggagalkan rencana bolos untuknya. “Pfft! Kenapa? Takut Ayah tahu kalau kau bolos?” “Kak Anzu!” Ryu memanggil saja tanpa menjawab, sudah menelan kegelisahan yang membengkak di tenggorokan. Sedangkan Nakayama Anzu, berhenti dan mendorong sebuah pintu kaca di bangunan di depannya. "Memang kau gak lapar? Cari cemilan dulu sini!” ajaknya, kemudian masuk dan ditelan bangunan itu. “Eh, Kak Anzu—!” Wajah Ryu tersirat ragu, dia diam saja melihat papan nama toko minimarket di atas bangunan itu. Bingung memilih antara menurut atau meninggalkan kakaknya saja ke stasiun, pergi berangkat sekolah. Dan karena tak menemukan Ryu di punggungnya, Nakayama Anzu menyembulkan kepala di pintu yang dia dorong lagi. "Ngapain kau? Ayo, sini! Kakak yang bayar!" Ryu langsung melupakan sekolahnya dan menyengir lebar, alisnya naik bersama kedua sudut bibirnya. Ryu berlari menyusulnya, menarik gagang pintu, menyingkirkan Nakayama Anzu dari pandangan, dan masuk lebih dulu. "Ya sudah, ayo!" Nakayama Anzu menggeleng, tersenyum tak kalah lebar. "Sialan," ejeknya. *** Minimarket itu tampak ramai di pagi hari, penuh dengan orang-orang berseragam khas kantor dan anak sekolah berbagai jenjang. Mereka mengambil berbagai macam makanan untuk dibawa ke kasir; entah tak sempat sarapan, entah sebagai sarapan yang tak bisa didapatkan di rumah karena kesiangan, entah pula memang sudah lapar lagi meski telah sarapan di rumah seperti Nakayama Anzu. Perempuan yang menggendong bass case itu berdiri di hadapan etalase makanan-makanan kotak bekal berbagai isi, mulai dari chicken karaage, chicken katsu, tonkatsu gyoza, pasta, salad, soba, bahkan sampai sushi. Nakayama Anzu bertolak pinggang. Sesekali menunduk, mendekatkan wajahnya pada berbagai bungkus gyoza—pangsit berisi daging cincang dan kubis—lalu beralih ke kotak berisi lima macam sushi. Beberapa saat hanya mengerutkan wajah sembari menimbang akan memilih makanan yang mana, Nakayama Anzu tidak sadar jika tubuhnya menghalangi tangan-tangan orang lain yang juga ingin mengambil makanan tersebut. Bass yang menempel pada punggungnya apalagi, terlalu besar dan menghalangi pandangan. Akhirnya, karena melihat Nakayama Anzu begitu serius memilih makanan, mereka jadi segan untuk berkata sesuatu agar Nakayama Anzu bergeser sedikit, atau menyuruh bersegera menentukan pilihannya. Namun yang membuat geram, adalah Nakayama Anzu yang dengan enteng berbalik tanpa membawa apa-apa selepas lima menit menimbang-nimbang. Masih dengan tangan kosong, Nakayama Anzu mencari adiknya di tengah ramai para karyawan kantor berjas dan anak-anak sekolah. Mereka pasti ingin mencari sarapan, pikir Nakayama Anzu sok tahu. Tapi bisa dikatakan begitu, karena konbini tersebut dekat dengan Stasiun Akasaka. (Dan makanya tadi Ryu kukuh mengajak kakaknya segera ke stasiun yang jaraknya tinggal terpeleset saja sampai di sana) Bisa jadi mereka tidak sempat sarapan di rumah dan memutuskan untuk membeli dan makan sarapan di jalan sebelum masuk kereta komuter. Makanya, Nakayama Anzu kesal sekali tidak menemukan Ryu di dalam desak-desakannya konbini. Tetapi, saat mengingat Ryu menyukai soda, Nakayama Anzu berjalan ke salah satu lorong, dan langsung saja menemukan Ryu di salah satu pintu kulkas besar transparan yang terbuka. Berjongkok serius sekali, entah melakukan apa; memilih minuman bersoda, atau sedang menikmati dinginnya AC kulkas. "Memilih apa, sih? Lama banget," keluh Nakayama Anzu. Ryu mendongak. "Kak Anzu…," panggilnya dengan mata berkilau. "Sudah, ayo, pilih yang mana saja. Aku malas, antreannya panjang banget, tuh, lihat." "Tunggu sebentar," pinta Ryu. "Aku mau ambil yang kaleng itu," Ryu menunjuk benda silinder berkeringat berwarna merah dengan bibir yang dimayunkan, "tapi gak bisa." "Terus?" tanya Nakayama Anzu retorik. Ryu berdiri. "Tolong pegangin," katanya cengengesan, menyerahkan setumpuk berbagai makanan dalam pelukannya ke tangan Nakayama Anzu, lalu berfokus ke dalam kulkas, mengambil satu kaleng cola. "Kau beli sebanyak ini?" Nakayama Anzu mengernyit, agak tak percaya melihat isi dekapannya. “Kau gak bawa uang, ya? Atau gak punya uang?” tanya Ryu seenak hati. “Kak Anzu!” koreksi Nakayama Anzu. Ryu menyengir saja tanpa dosa. "Apaan, nih? Cokelat? Chips? Karaage bento? Ini apa, es krim? Permen karet? Yang bulat-bulat ini apa, cokelat juga?" tanya Nakayama Anzu, mengabsen makanan yang diambil Ryu. "Banyak banget!" pekiknya kemudian. Selepas Ryu mengambil cola, Nakayama Anzu tak berkomentar apa-apa, tidak pula menyuruh Ryu untuk menaruh kembali makanan yang dirasa tak perlu dibeli. "Bawa sendiri, nih!" Nakayama Anzu lepas tangan, membuat Ryu kewalahan dengan seluruh makanannya. "Tolong bawain setengah, dong!" "Kau gak lihat, nih, aku bawa bass berat gini? Yang ada, kau bawakan bass-ku!" Nakayama Anzu menyentak bass case di punggung, lalu melengos memimpin jalan keluar dari lorong. "Ayo, cepat. Antreannya gila banget, sudah panjang gitu. Nanti kau telat." “Ck. Bass Kak Anzu, kan, di punggung, bukan di tangan. Bawain, kek.” “Ambil keranjang sana. Repot banget, sih?” “Tolong,” rayu Ryu. “Tanganku penuh.” “Nope.” “Ih, sok pakai bahasa Inggris.” Ryu tidak bisa mendebat lebih banyak, sadar jika menyanggah ini-itu, bisa-bisa dia hanya membawa sekaleng soda saja ke kasir. "Eh, tunggu." Nakayama Anzu berhenti di etalase makanan, hampir membuat Ryu menumbukkan diri ke bass case milik kakaknya. Lagi, Ryu hanya bisa manyun tanpa mengomel. Lebih baik menahan mulut daripada harus kehilangan seluruh makanan dalam pelukan. "Yuk," ajak Nakayama Anzu. Bukan ke arah kasir, tapi putar balik ke barisan kulkas tadi. “Hah, ke mana?” Ryu lantas menelan ludah ketika melihat sang kakak mengajaknya ke etalase makanan. "Kau beli dua bento box? Memang tadi belum sarapan?" tanya Ryu, melirik kotak makan yang Nakayama Anzu ambil dan peluk seperti buku—berisi sushi dan gyoza. "Bagaimana sekolahmu akhir-akhir ini?" tanya Nakayama Anzu, melarikan mata pada puluhan kaleng bermacam merek di kulkas di depannya. Ryu mengernyit karena pertanyaannya dialihkan. “Kenapa tiba-tiba bertanya tentang sekolahku?” Nakayama Anzu mengedikkan bahu. “Jawab saja.” "Tidak begitu menarik,” jawab Ryu sekenanya. Nakayama Anzu tergelak ringan. "Aku tahu kau bŏdoh, tapi berjanjilah kau akan bertahan sampai lulus, Ryu. Setidaknya sampai membawa pulang ijazah SMA ke rumah." Ryu mendengus. "Memangnya kau siapa? Ayah juga bukan," katanya, tak lagi takut makanannya akan dikembalikan ke etalase. Ryu tidak suka jika dinasihati tentang pendidikannya. "Dasar, anak kurang ajar ini." Nakayama Anzu menutup kulkas, berdiri, lalu menendang bokŏng Ryu dengan tulang keringnya. “Argh!” pekik Ryu, kemudian melihat apa yang kakaknya tentang. "Kau beli bir?!" tanya Ryu, sedikit berteriak di punggung kakaknya. "Panggil aku Kak Anzu!" "Masih pagi, kenapa sudah beli bir?!" Nakayama Anzu menoleh, menyeringai pada Ryu. "Memang kau siapa? Ayah juga bukan," balasnya dengan lidah yang dijulurkan. Ryu mendecak, kalimatnya menjadi bumerang baginya. "Tapi itu satu ring! Isinya enam bir!” Ryu menunjuk satu ring bir yang berada di tangan kakaknya, yang mengikat enam kaleng bir sekaligus. “Kau mau menghabiskannya sekaligus?!" "Ayo, ah, ke kasir." Nakayama Anzu meninggalkannya, berjalan lebih dulu, mengabaikan Ryu. Lantas langsung menghela napas melihat barisan pembeli yang memanjang di depan kasir. “Tuh, kan, ramai.” Nakayama Anzu menyeret langkahnya menuju buntut antrean, tapi saat tiba di ujung dan berbalik untuk berdiri dengan posisi yang benar, Nakayama Anzu tak menemukan Ryu. "Nyangkut di mana lagi, sih?! Sudah beli banyak, memang masih kurang?" omelnya sendiri, tapi beberapa orang di depan menoleh tipis, meliriknya aneh sebelum kembali menatap ke depan. Setelah itu, Nakayama Anzu mau tak mau menyusul adiknya, merelakan antreannya pada dua anak sekolah SMA di belakangnya. "Bocah sialan!" desisnya, membuat empat-lima orang menjengkit, tak menyangka u*****n itu akan keluar dari seorang perempuan yang—lumayan—cantik sepertinya. Terlihat dari ekspresinya, Nakayama Anzu marah karena Ryu masih berhenti di sana-sini untuk mengambil makanan, walau Nakayama Anzu tak masalah sebetulnya pada berapa pun jumlah harga makanan yang adiknya beli. Tetapi yang jadi masalah, Nakayama Anzu tidak sabar pada antrean kasir. Maka dari itu, Nakayama Anzu berniat memarahi Ryu karena sudah membuatnya meninggalkan antrean—yang bertambah panjang lagi—untuk menyusul Ryu. Namun begitu menemukan Ryu tengah bingung di depan etalase kotak bekal seperti dirinya tadi, kemarahan itu lantas lenyap tak bersisa. Kemudian, Nakayama Anzu memutar menuju depan kasir untuk mengambil sebuah keranjang belanjaan, dan kembali lagi menghampiri Ryu. Ryu (masih) fokus sekali, sampai matanya tinggal segaris karena mengernyit, dan tangannya kewalahan menangkup segunung makanan. Dia tampak seperti sedang memutuskan hal paling krusial dalam hidupnya, padahal yang Nakayama Anzu lihat, Ryu hanya kebingungan memilih kotak bekal pasta atau sushi yang ingin dia beli. "Kau mirip Aiko yang galau ingin beli es krim cokelat yang gagang atau yang di cup, deh," komentarnya, mengoper keranjang belanjaan yang baru diambilnya pada Ryu. "Taruh makananmu di sini." Mata Ryu berbinar-binar, kakaknya mau mengambilkan keranjang untuknya. Ryu pun menurut, menumpahkan semua makanannya ke dalam keranjang. Begitu pula Nakayama Anzu yang menaruh enam bir dalam satu ring dan dua bento box miliknya. Ryu kemudian berdiri, mengambil salah satu kotak bekal, membawa keranjang belanjaan, lalu tersenyum pada Nakayama Anzu. "Iya, lah, mirip. Aiko, kan, keluargaku juga." Ryu mendapati kakaknya memandang wajahnya sebentar. Ryu pun demikian, mencermati wajah kakaknya dulu, berpikir apakah omongannya salah atau bagaimana. Tapi kemudian Nakayama Anzu menyengir. "Terima kasih. Usaha yang bagus." Dia meninju lengan Ryu. "Sekarang taruh lagi sushi box itu." "Eh?" Ryu melongo. "Tapi sushi ini kelihatan enak!" "Halo, Tuan Rakus. Lihatlah isi keranjangmu yang penuh itu." Nakayama Anzu menggeleng. "Ayo, antre di sana." "Tapi kau juga beli sushi!" "Kau beli lebih banyak, Ryu. Dan sudah kubilang, panggil aku Kak Anzu." Nakayama Anzu hendak berbalik, tapi gelagat Ryu seperti anak anjing yang kehujanan. "Yang namanya sushi itu, ya harus makan di restoran sushi atau omakase." [Omakase adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti “meninggalkan keputusan pada orang lain untuk memilik yang terbaik”. Biasanya, ini adalah tradisi pada tempat makan atau restoran di Jepang yang membiarkan koki memilihkan pesanan untuk pengunjung] "Tapi di sana jauh lebih mahal." Ryu masih berekspresi sama—mungkin jika dia benar anak anjing yang kehujanan, matanya sudah membesar dengan buntut yang mengibas ke kanan-ke kiri. Nakayama Anzu tersenyum bangga. "Kapan-kapan akan kuajak kau ke sana." "Benaran?!" Ryu membuntuti kakaknya menuju kasir. "Janji, ya!" "Taruh dulu sushi di tanganmu itu, sialan." "Hehe."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN