Selama sekitar lima menit, Nakayama Anzu menggenggam telapak mungil Aiko dengan gemas, membawanya menyusuri ruas-ruas jalan Distrik Akasaka, Tokyo.
Sesekali, keduanya bertemu wajah-wajah tetangga, menyapa dengan sopan, serta melambai sebelum berpamitan. Dengan orang asing yang tak sengaja mempertemukan mata pun demikian. Rupanya, mereka tak kuasa melihat keimutan seorang anak kecil berseragam preschool dengan topi dan tas yang lebih besar dari tubuhnya di punggung.
Lagi pula, orang asing sekali pun mana bisa menolak keimutan gadis cilik tiga tahun—kurang—seperti Aiko? Sudah cantik, imut, wangi, dan menularkan senyum saat kau bertemu tatap padanya lagi.
Nakayama Anzu tidak mengantarkan Aiko dengan kereta komuter ataupun kendaraan lain seperti bus umum, karena sekolah preschool Aiko letaknya hanya enam blok dari rumah, dan masih satu distrik dengan rumah-kedai mereka. Cukup berjalan sekitar sepuluh menit juga langsung sampai.
Dan lagi, Aiko lebih suka berjalan kaki daripada naik kereta, ataupun ikut angkutan bus penjemput sekolah. Karena, jika berjalan kaki, dia bisa bertemu sebuah taman di perumahan mereka yang ada perosotan dan ayunannya, juga pohon sakura berukuran sedang yang tengah mekar di pinggirannya.
Aiko mengajak—menarik tangan—Nakayama Anzu untuk mampir di taman. Setelah bermain-main sebentar, Nakayama Anzu mengajaknya untuk bergegas, karena jam pada ponselnya sudah menunjuk pukul delapan pagi. Tiba-tiba, Aiko menagih janji es krim tadi pagi. Nakayama Anzu meminta maaf padanya, berkata akan membelikannya nanti sore, karena sekarang masih terlalu pagi untuk segenggam es krim.
“Bisa-bisa, nanti Aiko batuk dan sakit. Kalau ketahuan Ibu, nanti Kakak yang dimarahin, lho,” kata Nakayama Anzu.
“Maksudmu, dimarahin Ayah?” tanya Ryu, yang membuntuti mereka tanpa suara, menyindir kakaknya.
“Ck, diam,” tuntas Nakayama Anzu, tak berdebat lebih jauh. Ngapain juga dia ikut mengantar Aiko, sih? batinnya.
Aiko, meski wajahnya menekuk, dia mengangguk, menyisakan secuil perasaan bersalah pada Nakayama Anzu. Dia tidak pernah bisa menyesuaikan diri pada ekspresi sedih Aiko, tapi tidak bisa menurutinya juga untuk membeli es krim. Es krim di pagi hari? Sama buruknya dengan alkohol di pagi hari.
Kemudian mereka melanjutkan jalan menuju sekolah. Di depan sana adalah belokan terakhir, dan bangunan sekolah yang lumayan besar dan ditumbuhi pepohonan lebat membuat bangunan itu tampak teduh, menyapa mereka.
Mereka sampai di depan gerbang sekolah Aiko, preschool khusus anak-anak di bawah tujuh tahun; mirip seperti PAUD, tapi jauh berbeda. Di preschool, Aiko lebih banyak mengembangkan pengetahuan sosial, kecerdasannya dengan permainan, dan sebagainya daripada belajar secara akademik seperti anak TK. Preschool juga lebih santai dan menyenangkan, karena memiliki jadwal tidur siang. Makanya, sekolah Aiko berakhir pukul tiga sore. Iya, tiga sore. Dari pukul 8.30 pagi sampai 15.00 sore.
Nakayama Anzu mengantar Aiko masuk hingga ke dalam gedung preschool. Sampai matanya menemukan beberapa orang guru, dia berhenti, memutar tubuh Aiko untuk menghadapnya, lalu turun untuk memeluk Aiko. Sementara Ryu, menunggu di depan gerbang dengan canggung.
"Uhhh!" erang Nakayama Anzu gemas, mengeratkan dekapan sebelum melepas dan menatap Aiko yang tergelak. "Aiko, ingat, ya. Jangan ikut pulang sama orang yang Aiko gak kenal. Tunggu Ayah, Ibu, atau Kak Anzu yang jemput. Jangan mau digandeng sama orang asing. Jangan mau ikut kalau diajak dan dikasih permen, cokelat, ataupun es krim. Ingat, ya?” Nakayama Anzu mewanti-wanti, menatap dalam mata Aiko yang berbinar.
“Es krim juga gak boleh?”
Nakayama Anzu tertawa. “Es krim juga gak boleh!” katanya tegas. “Nanti, kan, pulangnya mau beli es krim sama Kakak.”
“Un!” Aiko mengangguk antusias.
Nakayama Anzu mengusap kepalanya. “Ingat, kalau ada yang menawarkan makanan dan mengajak Aiko pergi, Aiko harus bilang apa?"
"Aku maunya daging wagyu sesapi-sapinya!" sahut Aiko kencang, membuat beberapa guru yang berdiri menggandeng anak-anak murid menoleh dan tersenyum geli.
Walaupun, yah, entah metode itu akan manjur atau tidak.
"Hahaha," Nakayama Anzu menjawil pipi Aiko. "Pintar!" Dia menangkup kedua pipi adiknya, menatap mata besar Aiko yang berkilau dalam-dalam.
"Aiko," panggilnya lembut. "Jangan keluar dari kelas kalau belum dijemput, ya," peringatnya. "Tunggu di dalam kelas sama sensei. Aiko main puzzle atau minta sensei buatkan pesawat untuk Aiko, atau ajak sensei untuk menemani Aiko main di ayunan, ya. Jangan pernah keluar gerbang sekolah sebelum dijemput, oke?"
Meski tersenyum dan tak menanggalkan rona wajah, Aiko agak bingung harus menjawab apa. Bukan tidak bisa mengimbangi nasihat kakaknya, melainkan karena sudah tak fokus pada obrolan serius mereka akibat teralihkan oleh suara-suara ceria teman-temannya yang berlari-lari dan bermain-main di sekitarnya.
Akhirnya, Aiko mengangguk saja. “Un!”
Nakayama Anzu juga mengangguk, tersenyum, lalu menunjuk kedua pipinya, meminta ciuman di sana. Aiko langsung menyosor. Ketika melepaskan diri, Nakayama Anzu membalas ciuman-ciuman itu lebih banyak, membuat sudut-sudut wajah Aiko basah.
“Ah, Anzu-nee-chan! Haha, geli!”
Di pipi kanan, di pipi kiri, di kening, di hidung, di kedua kelopak mata, di sudut bibir, dan di seluruh wajahnya. Aiko tertawa geli, menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menjauhkan bibir Nakayama Anzu darinya, walau percuma karena Nakayama Anzu sudah memerangkapnya dengan sebuah pelukan.
Tetapi Nakayama Anzu terlalu gemas dengan tubuh mungil dan wangi adiknya. Rasanya ingin meremas Aiko, memeluknya kencang-kencang, dan menciuminya terus. Tak rela jika harus berpisah sejenak pun—meski untuk sekolah.
Namun, di sudut mata, Nakayama Anzu melihat salah satu wali kelas adiknya—preschool punya dua wali kelas di setiap kelas—menonton mereka sedari tadi, seolah menunggu Aiko untuk dilepaskan.
Nakayama Anzu tak punya pilihan selain memberi kecupan terakhir di kening Aiko, menempelkan bibirnya selama mungkin. Kemudian dia memeluk Aiko sekali lagi, lalu akhirnya mau melepaskan Aiko dan membiarkannya pergi masuk kelas dengan lambaian tangan dan langkah-langkah mungil.
Nakayama Anzu berdiri, “Hhhh,” menghela napas setengah kecewa dan setengah bahagia. "Kuharap dia tak pernah tumbuh dewasa."
Sehabis menyapa wali kelas itu dengan telapak tangan yang diangkat dan anggukan kepala singakt, Nakayama Anzu memutar badan, pergi keluar dari pekarangan preschool, beranjak dari belasan tawa dan tubuh-tubuh kecil yang bertebaran di mana-mana seperti semut, dan kembali menuju gerbang preschool.
"Lho, Ryu?" sapanya, saat menemukan sepucuk badan tanggung berseragam hitam lengkap dengan jas dan dasi yang bersembunyi di balik gerbang sekolah, tidak ikut masuk dan hanya berdiri di sana sepanjang waktu.
"Aku tidak tahu kalau kau ikut mengantar Aiko. Pantas saja aku merasa seperti ada yang mengikutiku dan Aiko dari tadi. Seram banget, hiiii! Eh, tapi ternyata cuma kau." Nakayama Anzu menepuk pundak si jangkung, menyengir tak bersalah.
"Aku sudah ada di belakang kalian sejak awal. Kau ini ke mana saja, sih?" Ryu mendapati kakaknya tidak bertaut padanya. Nakayama Anzu malah melengos, menatap lurus ke dalam sekolah.
Saat Ryu perhatikan, Nakayama Anzu mengekori Aiko yang diamit masuk oleh wali kelasnya ke dalam kelas. Di bingkai pintu kelas, sebelum masuk, Aiko menoleh dan melambai pada mereka seraya menyengir lebar.
“Aww, imut banget! Aaaaaaakkk!” Nakayama Anzu memukul-mukul pundak Ryu secara agresif, membuat adiknya itu mengaduh sakit.
Kemudian Nakayama Anzu membalas lambaian dan berkata, "Ya Tuhan, Aiko imut sekali! Lihat itu, lihat itu! Dia melambai padaku, Ryu! Aiko imut banget!! Iya, kan?" Nakayama Anzu menyenggol Ryu. "Melambailah, Ryu! Aiko menatapmu!"
Ryu menjeling, melambai tak berminat. Tapi kemudian, melihat senyum Aiko yang bertambah lebar begitu Ryu membalas goyangan tangannya, laki-laki tanggung itu tersambar dan meleleh.
Wajah datar turunan Ayah itu menyungging satu senyum tulus. "Iya, dia mirip sekali denganmu," ucapnya setuju.
"Hahaha. Apa, sih?” kata Nakayama Anzu malu. “Kau juga adikku, Ryu." Nakayama Anzu menepuk punggung adiknya kencang, membuat Ryu sedikit terlonjak ke depan.
“Argh, sakit!”
"Ayo, kuantar kau ke sekolah!” kata Nakayama Anzu, tak mengindahkan pekikan sang adik, seraya berbalik pergi.
"Hah? Kenapa?" Ryu mengernyit bingung. Ingin meminta penjelasan, tapi kakaknya sudah berjalan meninggalkannya lebih dulu. "Kenapa?!" teriaknya lagi.
Nakayama Anzu melambai tanpa menoleh ke belakang. "Mau melakukan tugas sebagai seorang kakak."
"Apa?! Gak kedengaran!" Ryu menyusul, berlari kecil di belakang si kakak. "Kak Anzu!" panggilnya sekali lagi.
Nakayama Anzu menoleh dengan mata jahil. "Kubilang, aku mau melambai di depan gerbang sekolahmu. Oh! Dan nanti pipimu aku cium juga, kok. Ayo, nanti ketinggalan kereta!"
Ryu semakin bingung, tak paham apa yang dimaksud Nakayama Anzu. "Hah?! Aku? Kenapa?!"
Nakayama Anzu mengedikkan bahu, berjalan santai. "Karena kau terlihat iri pada Aiko, Ryu. Ayo!"
Ryu mengejar Nakayama Anzu yang tertawa sembari berlari. "Idih! Apaan! Kak Anzu! Oi! Jangan bercanda!"
"Cepat! Kita tunjukkan ke teman-temanmu, kalau kau ternyata punya kakak yang baik dan cantik! Hahaha!"
“Eh— Anzu! Tunggu dulu—! Kak Anzu!”