"Tapi jika ternyata arah angin tidak memihakku, jika aku jatuh, maka kau harus ikut bersamaku. Jika aku jatuh, aku akan menarikmu bersamaku. Kau dan aku, kita harus hancur bersama. Aku tidak akan membiarkan diriku hancur sendirian. Aku akan membawamu ke neraka bersamaku, Red Apple."
Ketika memaku tatapan pada apa yang Aiko lakukan, Nakayama Anzu menangkap jemari Aiko sudah menyusut dan meringkel karena air. Dia berdiri, lalu berkata pada lelaki di seberang dengan nada halus—sudah lelah marah-marah, atau entah perkataannya barusan melemahkan energinya, tak bertenaga.
"Aku bukan mengancammu. Aku ini marah, karena tindakanmu tidak sesuai dengan kontrak yang sudah kita sepakati! Dan kau bukan hanya satu kali melanggar kontrak kita, tapi sudah… entahlah, dua kali? Tiga kali?” Nakayama Anzu tertawa sinis. “Kau harus memberiku kompensasi yang sepadan untuk itu, untuk semua pelanggaran yang merugikanku itu. Oh, dan maaf sudah berlebihan.” Nakayama Anzu mengedikkan bahu seolah Red Apple ada di depannya—bisa tersinggung karena melihatnya.
Nakayama Anzu melangkah masuk ke dalam kamar mandi lagi, membalas cengiran Aiko. “Kuhubungi lagi nanti, Red Aps, karena sepertinya kau masih ada perlu denganku, berhubung telepon kali ini kuambil alih untuk meninggalkan protes. Hahaha. Sudah, ya!" Saat ingin mematikan panggilan telepon, Nakayama Anzu teringat sesuatu dan berkata lagi, "Oh, semoga pagimu menyenangkan!"
Tut!
Telepon diputus sebelum Red Apple sempat memberikan respons apa-apa. Tapi bagi Nakayama Anzu, dia tahu kalau rekan kejahatannya itu bisa jadi sedang merenung memikirkan kata-kata yang tepat menusuk jantungnya. Tepat sasaran mengenai harga diri seorang Red Apple, si Cracker peretas jahat yang tidak pernah mengingkari janji yang dirinya buat sendiri.
Nakayama Anzu lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Segeralah dia menghampiri Aiko, menggeleng-gelengkan kepala. “Sudah berendamnya. Lihat, tuh, tanganmu sudah keriputan begitu. Ayo, keluar!”
“U~un. Sebentar lagi?” Aiko memberi serangan jantung untuk Anzu, karena menunjukkan kedua bola mata yang berbinar dan wajah imut untuk memohon pada kakaknya. Sementara “Un” berarti “Ya”, “U~un” berarti “Tidak”. Semacam “Nuh uh” dalam bahasa Inggris.
“Ngghh—” Anzu menutupi wajahnya dengan kedua lengan, seperti menghalau sebuah sinar amat terang yang membutakan matanya.
Anzu hampir ingin mengizinkan Aiko, bila saja pada saat itu tidak terdengar suara Ibu yang memanggil mereka berdua dari luar, meminta untuk lekas keluar karena sudah terlalu lama berendam dalam air.
Nakayama Anzu mengiyakan. Wajahnya berubah sejuk dengan senyuman tulus di bibir, ketika Aiko menjulurkan kedua tangan, meminta digendong. Aiko langsung menurut jika berhadapan dengan Ibu.
Nakayama Anzu menyambutnya, tentu dengan senang hati. Begitu sudah dalam dekapan sang kakak dan berbalut handuk, Aiko memeluk Nakayama Anzu erat-erat. Nakayama Anzu pun membalas pelukan, mencecap hangat tubuh sang gadis cilik untuk dicetak jelas-jelas dalam ingatan, mengisi sesuatu yang hampir mengering dalam dadanya.
“Aw, Aiko! Kamu kenapa imut banget, sih?” gemas Nakayama Anzu, seraya menggendong adiknya itu keluar dari kamar mandi, meninggalkan kolam karet angin dan bebek-bebek karet.
Sedang Aiko, tertawa kecil saat kakaknya mengayun-ayunkan tubuhnya.
Keluarga ini tidak boleh sampai tahu identitas Pretty Devil.
Tidak boleh.
Jangan sampai.
Jangan sampai!!
***
Sebelah tangan Aiko sibuk diamit, sedang tangan satunya bergoyang ke kanan-ke kiri untuk melambai pada dua orang kepala empat yang berdiri di pintu masuk Kedai Ramen Nakayama—berbingkai kayu ukuran dua pintu, dihinggapi tirai-tirai kain pendek berwarna merah yang di tiap-tiap kotaknya terdapai nama “Kedai Ramen Nakayama” dengan huruf Kanji.
Aiko mengenakan seragam model baju terusan berlengan panjang warna pink dengan kerah putih besar lucu, yang tampak seperti mini dress, serta topi bundar pink sewarna yang kebesaran di kepalanya. Dan di bagian depan baju, tersemat name tag berbentuk bunga dengan tulisan tangan acak-acakan “Aiko” dalam huruf Hiragana.
Nakayama Anzu tak tahan untuk menyengir lebar melihat penampilan Aiko yang imut seperti biasa, apalagi dengan seragam preschool yang dikenakannya.
Nakayama Anzu mengamit telapak adiknya, lalu digerakkannya untuk melambai pada Ayah dan Ibu yang berdiri di depan pintu masuk kedai, melihat kepergian mereka.
"Dadah, Ayah~ Dadah, Ibu~"
“Dadah, Ayah, Ibu~” Aiko ikut melambai, tak lupa mengenyir lebar kepada kedua orang tuanya.
Ayah yang pertama kali membalas sapaan mereka dengan berkata, "Kau mau ke mana?" pada Nakayama Anzu.
"Eh? Mengantar… Aiko?" jawab Nakayama Anzu, heran dengan maksud Ayah. "Ibu, kan, harus menerima pesanan yang datang hari ini, dan Ayah tidak mengizinkanku menerima kiriman bir." Bahunya mengedik, merasa tak bersalah. "Masa, Aiko diantar sama orang ini?" Nakayama Anzu menunjuk Ryu yang tahu-tahu ada di sebelah Aiko yang kosong, yang langsung bersungut-sungut karena kalimat kakaknya.
“"Orang ini” yang kaumaksud itu adikmu, Anzu!" Kemudian Ryu menyesali perkataannya, karena Ayah melotot padanya—dianggap melotot, karena terkesan galak jika sekadar menatap. "Maksudku… Kak Anzu," ralat Ryu.
Ayah kembali pada si sulung. "Mengantar Aiko? Membawa barang yang tidak jelas seperti itu?" Ayah menunjuk benda berliku yang seksí dan mengilap yang menyantel di belakang tubuh Nakayama Anzu.
"Ayah." Ibu menoleh pada suaminya, memperingati sesuatu.
"Ini namanya bass, Ayah." Nakayama Anzu tertawa kecil, mengentak tali bass case yang tersampir di pundaknya. "Bunyinya jeng jeng jeng!" Nakayama Anzu menggoyangkan kedua pundak, meniru suara getaran senar bass sembari mengajak Aiko untuk melakukan hal yang sama.
“Jeng jeng jeng! Hehehe.” Aiko tertawa.
"Dadah, Ibu!" Tangan Aiko, Nakayama Anzu gerakkan kembali. Keduanya lalu melambai dengan air muka ceria. Sedang Ayah hanya menghela napas tipis, tak berkomentar lebih jauh pada si sulung yang pergi membawa barang yang tidak jelas pada punggungnya.
"Kabur, kabur! Ayah mau marah! Kabur, Aiko! Hahaha!" Nakayama Anzu menggandeng tangan Aiko, mengajaknya pergi dan berlari-lari kecil di trotoar lebar dan datar, meninggalkan Ayah dan Ibu tanpa pamit yang lebih serius.
"Hati-hati, Nak! Jangan lari-lari, banyak mobil!" Ibu membalas lambaian, setengah berteriak pada dua tubuh yang semakin kecil di depan sana. "Kamu juga hati-hati, Ryu. Baik-baik di sekolah," pesannya pada Ryu yang baru hendak berbalik.
Ryu mengangguk. Dia menoleh pada Ayah yang tak mengubah ekspresinya sama sekali. "Aku ikut antar Aiko, Ayah. Jaa, mata."
Lantas remaja tanggung itu segera menyusul saudari-saudarinya, agak tidak tahan pada mata sang Ayah yang masih tajam kepadanya.
"Hati-hati, Ryu!" pesan Ibu padanya.
“Hai, Okaa-san!” teriak Ryu.
Begitu ketiganya menghilang di belokan, Ibu mengajak Ayah masuk ke dalam kedai, menenangkan ekspresi gelisah yang secara ajaib dapat ditangkapnya dari wajah datar Ayah.
"Tak apa, Ayah. Tidak perlu terlalu khawatir,” ucap Ibu, mencoba menenangkan suaminya. “Ingatlah kata Sumiya-sensei. Anzu sudah jauh lebih pulih dari sebelumnya, dan mendekatkannya pada hal-hal baru yang menyenangkan dapat membantu Anzu melupakan ingatan buruk. Tenanglah, Ayah. Anzu baik-baik saja sekarang. Percaya saja pada Anzu, seperti Ibu yang percaya padanya. Percayalah, Ayah. Percayalah."