09

1432 Kata
“Kau ini betulan laki atau makhluk aneh tanpa biji, sih? Bijimu benaran hilang atau gimana, hah?!" teriak Nakayama Anzu, untungnya terendam oleh tumpukan handuk di dalam lemari. "Tahu tidak, polisi mengejarku ke sana-kemari, dan aku tidak bisa kabur karena rekan yang bertugas mengeluarkanku adalah seorang pengecut!" "Haha.” Si Suara Robot tertawa kecil, terkesan mengejek dan menganggap enteng balasan Nakayama Anzu dalam satu waktu. “Ayolah, itu bukan hal yang mesti dibesar-besarkan, Aprikot. Coba lihat hal baiknya. Kau bisa pulang dengan selamat sampai rumah tanpa kena tangkap oleh polisi, bukan? Kau sudah mandiri, Rekan. Sepertinya, kau sudah semakin berkembang menjadi lebih mahir dalam peran yang kaumainkan. Eh, dan bukankah itu hal yang bagus? Haha." "Haha? Jangan “Haha!” padaku!” sewot Nakayama Anzu. “Ayolah, Rekan. Santai sedikit.” “Santai sedikit?! Omong kosong! Ini bukan pelarian dirimu yang pertama kali!" seloroh Nakayama Anzu. "Kau mau tahu hal buruknya?! Aku semakin diselidiki dengan ketat, dan para polisi jadi makin keras kepala mengejarku! Sementara kau, selalu kabur memutus kontak denganku setiap aku berhadapan dengan polisi! Kau tidak membantu sama sekali, kau tahu itu, Pengecut?!" “Maaf, maaf. Kau tahu, kan, polisi itu selalu membuatku ketakutan. Ayolah,” bujuk si Suara Robot. Nakayama Anzu menggeleng, matanya dipenuhi emosi yang hampir meledak—tapi kotak laci sempit itu berhasil menahannya. "Aku bersumpah, Red Apple. Jika aksi selanjutnya kau tak menolongku keluar, polisi akan betulan menangkapku, dan rencana kita akan gagal. Rencana besar kita akan gagal!” teriak Nakayama Anzu. “Ah, apa kau mau tahu apa yang terburuk, Red Apple? Yang terburuk bukanlah gagalnya rencana besar kita berdua, bukan pula rencanamu dan atau rencana milikku, tetapi aku yang membeberkan identitasmu kepada pihak polisi; terbongkarnya seorang Red Apple pada Kepolisian Metropolitan Tokyo. Karena kau, Red Apple, polisi akan mencari tempat persembunyianmu, menemukanmu, lalu menangkap dan menyeretmu ke dalam penjara!” lanjutnya, dengan napas berat oleh emosi yang dia tahan dalam rongga dadanya. Hening melanda beberapa saat, sampai si Suara Robot berkata, "Kau akan menjadi anjing polisi?" "Hah! Kau pikir, kau pantas bilang begitu?” ejek Nakayama Anzu. “Aku memang salah karena sudah meninggalkanmu tadi malam—” “Tadi malam? Hanya tadi malam?! Lucu sekali, Robot Sîalan!” potong Nakayama Anzu, emosi pada kalimat yang dipilih si “Robot Sîalan”. “Kenapa mendadak marah? Aku kan, sedang minta maaf.” “Yah, karena kau tidak terdengar tulus?!” “Anz— Aprikot…,” panggil si Suara Robot, berusaha memperingati Nakayama Anzu. “Yah, karena kau sudah melakukannya berkali-kali dan baru minta maaf satu kali?!” “Ayolah, Anzu.” “Jangan sebut namaku, Set— an!” teriak Nakayama Anzu. Ketika Red Apple memanggil Nakayama Anzu dengan “Aprikot”, sebenarnya adalah arti bahasa Jepang “Anzu” dalam bahasa Indonesia, yakni aprikot. Dan sebenarnya jika dalam telepon pribadi (bukan sedang beraksi) Red Apple selalu memanggil Anzu dengan “Aprikot”. Jika cerita ini dalam bahasa Jepang, Red Apple tetap akan memanggil Anzu dengan “Apricot” (dalam Bahasa Inggris; apa pun asal bukan Anzu, nama aslinya) “...hei, ayolah,” bujuk si Suara Robot bernama Red Apple itu. Nakayama Anzu memberi hening sejenak, dia menggunakannya untuk menarik napas dan melepaskan emosinya bersamaan dengan hembusan napas yang dia keluarkan. “Tidak perlu semarah itu padaku, Aprikot.” Nakayama Anzu menatap sudut tergelap di dalam lemari handuk. “Kau tidak memberiku pilihan, Red Aps." Dia memelankan suaranya. "Aku masuk breaking news pagi ini, dan wartawan tidak mengatakan aku memiliki rekan. Yang semua orang amini, Pretty Devil bekerja seorang diri melakukan hal jahat seperti mencuri. Bagaimana kau akan menjamin keselamatanku dan namaku, bila suatu saat polisi memborgolku kau kau terus-terusan kabur dan bertindak seperti seorang pengecut tanpa biji?!” “Ayolah, Aprikot.” Nakayama Anzu menggeleng. Suaranya terdengar bergetar, samar, dan nyaris tidak terdengar hingga ke seberang telepon saat berkata, “Bahkan… bahkan Enzo-san sudah mulai curiga padaku— pada Pretty Devil….” Nakayama Anzu melongok ke kamar mandi, Aiko masih sibuk menghantam-hantamkan air dan bebek karetnya. “Apa? Kau mengatakan sesuatu?” “E-Entahlah! Pokoknya kau harus melakukan sesuatu!” teriak Nakayama Anzu. Terdengar helaan napas di ujung telepon. Mungkin karena kalimat Nakayama Anzu meninggalkan sesuatu pada seorang lelaki bersuara robot di seberang sana. Itu (kalimat Nakayama Anzu) bukan hanya sekadar pertanyaan semata. Red Apple menangkap sebuah permintaan dari baliknya; sebuah janji yang mesti ditunaikan dari kalimat rekannya, si Pretty Devil, yang terdengar… entah bagaimana putus asa. "Oke,” kata Red Apple pada akhirnya, “aku tahu aku salah karena sudah meninggalkanmu tadi malam— dan beberapa waktu sebelumnya. Tapi jujur saja, melihat polisi memergokimu dari CCTV, aku menjadi sedikit gentar. Bagaimana jika polisi mengecek sistem keamanan yang sudah kuretas dan mengetahui alamat IP-ku?" “Hah!” Nakayama Anzu tertawa sinis. "Pengecut bajngan." "Hei," sungut Red Apple tidak terima. "Kalau aku tidak kabur, besar kemungkinan kita berdua akan tertangkap, lalu rencana kita akan gagal. Rencanamu akan gagal. Tapi kalau aku kabur seperti tadi malam—" "Dan membiarkan aku tertangkap?" Nakayama Anzu kembali tertawa sinis. "Aku tidak bekerja sama denganmu untuk bunuh diri, sîalan," lanjutnya pada sang rekan. "Dengarkan aku dulu," pinta Red Apple. "Kalau aku melarikan diri dan sewaktu-waktu kau tertangkap, aku bisa menyelamatkanmu dari polisi. Aku bisa membantumu kabur, dan—" "Dan sebelum kau sempat melakukannya, wajahku akan dimuat di seluruh koran dan televisi! Jangan terus berkelit, bajíngan! Ini sudah keberapa kali kau melarikan diri dan membuatku dalam bahaya, sementara kau duduk manis di tempat persembunyianmu yang entah ada di mana! Kau ini rekan atau ingin memanfaatkanku, hah?!" Nakayama Anzu berteriak tertahan, berupaya agar suaranya hanya sampai pada lubang ponselnya saja, tidak meluber ke luar-luar dan terdengar oleh Aiko—ataupun keluar kamar mandi. "Kubilang dengarkan aku dulu!" bentak Red Apple tak kalah kencang. Nakayama Anzu menerobos tak suka, "Kau yang dengarkan! Tindakanmu itu merugikanku! Kau melanggar kontrak kita! Aku harus memberimu penalti atas itu! Aku harus mendapatkan hakku kembali, kau bajingän licik!" Red Apple mendecak. "Dengarkan aku sebentar! Jika kau tertangkap, maka aku yang akan mengeluarkanmu! Tapi jika aku tidak memutus kontak denganmu, maka polisi akan ikut menahankud an membuat kita berdua tertangkap! Kita berdua bisa dalam masalah serius! Kemungkinan terburuknya bukanlah identitasku atau identitasmu yang terbongkar seperti katamu! Tapi rencana besar yang telah kita susun selama dua tahun akan gagal! Dua tahun! Sia-sia! Kandas! Percuma! Rugi! Tidak ada artinya! Dan kau akan selamanya menyimpan dendammu itu! Kau mau sepeti itu?!" Nakayama Anzu mengerang, menggertakkan gigi, bahkan urat-urat sampai timbul pada keningnya. “Red Apple sialan,” geramnya. Akhirnya, Nakayama Anzu menghela napas, mengabaikan emosi yang dia rasa, sebab akal sehat sudah menyiram seluruh tubuhnya. "Kau berbicara seolah semua ini adalah hal mudah, Red Apple." Nakayama Anzu menggeleng lemah. "Meski aku menyesal karena sudah menerima tawaran untuk menjadi kawananmu, tapi… agaknya aku setuju dengan kemungkinan terburuk yang kaubilang.” “Benar, bukan?” Red Apple terdengar girang. "Tapi… apakah dengan terbongkar identitas kita, hal itu tidak jauh lebih buruk dari gagalnya rencana kita? Apakah terbongkarnya identitasku adalah hal sepele?" Nakayama Anzu membenahi posisi duduknya. Dia menarik diri, menutup daun laci, kemudian duduk di muka pintu kamar mandi, menyandarkan kepala pada bingkai pintu, lantas membalas senyuman Aiko yang masih tak bisa diganggu dengan bebek-bebek karet dan kolam karet anginnya. “Kau terlalu mengkhawatirkan masalah yang sudah kita rencanakan dengan matang, Aprikot.” Nakayama Anzu menggeleng meski Red Apple tidak bisa melihatnya. “Bukankah kau yang paling mengerti arti sebuah identitas, Red Aps? Bukankah karena itu, kau menggunakan identitas “Red Apple si Cracker”, peretas jahat, dibandingkan memakai nama aslimu? Bukankah karena itu, aku menciptakan persona Pretty Devil? Bukankah kau, yang paling mengerti hal itu, Red Apple?” Hening kembali dibawa oleh si Suara Robot yang tak bisa membalas apa-apa. Kemudian Nakayama Anzu melanjutkan, "Aku sedang berdiri di tepi tebing," katanya dengan nada pelan, dengan tatapan mata yang lurus menatap Aiko. "Kau, polisi, sasaranmu dan sasaranku; kita semua sedang berdiri di ujung tebing yang saling berhadapan, yang dipisahkan oleh jurang gelap yang tak tahu dasarnya ada di mana. Dan hanya dengan satu tiupan angin, kita semua bisa jatuh dan hancur. Tapi aku akan menjadi orang terakhir yang selamat. Satu-satunya. Entah bagaimanapun caranya. Akulah yang akan menjadi orang terakhir yang selamat, yang akan menonton dia terjatuh masuk ke jurang." Nakayama Anzu membingkai ekspresi ceria Aiko yang teduh dan menyentuh pangkal hatinya. "Tapi jika ternyata arah angin tidak memihakku, jika aku jatuh, maka kau harus ikut bersamaku. “Jika aku jatuh, aku akan menarikmu bersamaku. Kau dan aku, kita harus hancur bersama. Aku tidak akan membiarkan diriku hancur sendirian. Aku akan membawamu ke neraka bersamaku, Red Apple."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN