08

1632 Kata
"Karena hanya anak-anak yang berani melibatkan diri ke dalam permainan yang tidak mampu mereka menangkan. Hanya remaja yang berani melakukan hal menggebu-gebu tanpa memikirkan konsekuensi atas tindakannya itu. Mereka (pencuri itu) datang untuk kalah. Mereka (Pretty Devil) tidak tahu cara mainnya, dan mungkin datang ke sana untuk bunuh diri. Mereka terlalu mengandalkan keberuntungan milik mereka yang tidak seberapa itu. Mereka hanya anak-anak, dan Ayah yakin jika mereka adalah remaja. Karena, lebih sedikit kemungkinannya jika Pretty Devil, atau siapalah nama kelompok mereka, orang dewasa. Sebab, orang dewasa itu berlawanan dari sifat anak-anak dan remaja, Ryu. Lagi pula, selama ini, memanglah nama Pretty Devil seorang yang menggaung di seluruh Tokyo. Tapi, tidak ada yang pernah menyinggung, bukan, kalau Pretty Devil bekerja sendirian?” “Eh? Sendirian?” Suara Ryu membalas penjelasan panjang Ayah, menggantikan rasa terkejut Nakayama Anzu yang habis berbelok di lorong kamar-kamar, yang sontak berhenti melangkah untuk mendengarkan mereka. “Kak Anzu?” panggil Aiko, mendongakkan kepala untuk melihat wajah kakaknya yang terlihat… ketakutan? Ah, bukan. Gelisah, lebih tepat menempel pada ekspresinya. “Ssstt. Sebentar, ya, Aiko,” pinta Nakayama Anzu, menajamkan telinga pada suara di ruang keluarga. “Bagaimana Ayah bisa yakin kalau Pretty Devil bekerja sendirian? Bukannya di berita ditunjukkan, kalau….” Ryu tidak menghabiskan kalimatnya. “Betul, bukan?” tanya Ayah, dengan suara yang dipenuhi dengan kemenangan. “Di berita-berita, setiap pencurian yang dilakukan Pretty Devil, tak pernah sekali pun presenter berita menyebutkan kalau Pretty Devil bekerja secara kelompok.” “Tapi, kenapa tadi Ayah bilang Pretty Devil sebagai… “mereka”?” Nakayama Anzu mendengar suara seruput—Ayah mencecap ocha lagi, membiarkan Ryu penasaran untuk beberapa waktu. Lantas kata Ayah, “Karena Ayah hanya berasumsi.” “A..sumsi? Apa maksudnya?” Ryu sudah tidak senang dipermainkan lagi. “Dari tadi, perkataan Ayah selalu berkonotasi sebaliknya. Pertama, Ayah bilang “mereka”, lalu berubah lagi menjadi “Pretty Devil bekerja sendiri”. Lalu tiba-tiba, Ayah bilang itu hanya asumsi saja. Jadi sebenarnya, Pretty Devil itu bekerja sendirian atau secara berkelompok, sih?!” sewot Ryu. “Ryu,” peringat Ibu. “Cepat habiskan sarapanmu dan segera berangkat sekolah.” “Ibu!” Ryu masih tidak mau dibungkam sebelum mendapatkan informasi. Lagaknya sekarang mirip bocah 10 tahun yang menolak disuruh makan, karena teman-temannya sudah menyamperi di depan pintu rumah. “Jangan berteriak pada ibumu,” kata Ayah, yang disusul oleh keheningan, yang Nakayama Anzu tebak adiknya sedang menunduk menghindari tatapan Ayah yang penuh intimidasi—atau bahkan dicampur oleh emosi, karena menyaksikan anak laki-laki satu-satunya malah membentak istrinya; ibu kandung Ryu, saat sedang dinasihati. “Go-Gomennasai, Okaa-san,” cicit Ryu. “Un, daijoubu. Sudah, habiskan saja sarapanmu dan bersiap berangkat sekolah.” Suara Ibu terdengar lembut dan tanpa amarah. Lebih tepatnya tidak marah meskipun sang anak sudah membentak (berseru dengan nada tinggi) kepadanya. Kasih Ibu memang tak terbatas. Kemudian keheningan itu diisi oleh suara televisi yang entah sejak kapan tak Nakayama Anzu dengar, serta suara dentingan sendok pada piring yang Ryu pangku. Sementara Ryu mungkin saja sedang menampilkan wajah kecut habis dimarahi, Nakayama Anzu diam-diam terkikik di balik dinding, dengan Aiko yang mengerutkan alis ketika melihat kakaknya tertawa sambil sembunyi-sembunyi. “Kak Anzu, kenapa ketawa?” Pertanyaan dan suara lantang Aiko membuat— “Kak Anzu?!” Ryu memekik seraya memutar leher pada sumber suara; balik dinding lorong sana yang terdapat sebatang tubuh anak kecil yang menyembul dan mengintip ke ruang keluarga, belum pergi seperti janjinya awal tadi. “Aiko?!” pekik Ryu lagi saat melihat adiknya ada di sana. “Kamu belum pergi ke kamar mandi?!” “Un! Kak Anzu berhenti di si— hupph— hupph—!” “A-Aiko?! Kenapa kamu ada di sini? Baru Kakak tinggal sebentar, lho?!” Nakayama Anzu membekap mulut Aiko, menggiring topik ke hal lain. Dia berkeringat dingin melihat ketiga wajah di ruang tamu-keluarga yang memandangnya dengan penuh kecurigaan. Seraya mengendong Aiko dan menyengir seperti kuda, Nakayama Anzu berpamitan, “Lain kali jangan kabur saat Kakak sedang mengisi kolam karetmu. Ibu, kan, sudah bilang untuk mandi dulu. Nonton kartunnya bisa dilanjut nanti. Sudah, yuk, mandi!” Lantas Nakayama Anzu berjalan meninggalkan titik persembunyiannya. Alasan sang kakak membuat Ryu tidak langsung percaya. “Bohong!” cebik Ryu. “Kak Anzu dari tadi menguping, kan!” “Dadah, Aiko, dadah,” suruh Nakayama Anzu, menggenggam tangan Aiko dan menggerakkannya untuk melambai. “Dadah, Ryu-nii-chan*!” teriak Nakayama Anzu, menggantikan Aiko yang bibirnya masih dia bekap. “Hmmph, hmpphh!” Aiko masih tak berdaya dalam gendongan Nakayama Anzu. “Kak Anzu? Kak Anzu!” teriak Ryu, membuat Nakayama Anzu tertawa saat berlari menuju kamar mandi. Nakayama Anzu menemukan kondisi itu lucu, karena Ryu tidak bisa mengejarnya sedang Ayah duduk bersama Ryu di ruang keluarga, sementara dia tahu kalau adiknya merasa malu karena ketahuan dimarahi oleh Ayah. Tawanya masih menempel pada bibir, hingga samar-samar kalimat Ayah sampai ke telinga Nakayama Anzu. “Bukankah terdengar mustahil bagi seseorang untuk melakukan hal besar sendirian? Apalagi, aksi mencuri itu membutuhkan rencana yang benar-benar matang agar berhasil dan tidak tertangkap sama sekali. Belum lagi, pencurian pagi ini bukanlah pencurian pertama kali yang dilakukan oleh Pretty Devil. Pencuri itu (Pretty Devil) sudah beberapa kali mencuri rumah mewah, dan berkali-kali pula berhasil kabur dari polisi. Tanpa luka sama sekali. Bagaimana bisa?” Suara Ayah terdengar yakin kala bertanya, “Bukankah itu hebat, beraksi sendirian tanpa pernah tertangkap meski sudah berkali-kali beraksi dan dengan ceroboh lari dari puluhan personil polisi?” Pernyataan dan pertanyaan Ayah itu membuat Nakayama Anzu membeku seketika. “Jadi, maksud Ayah?” “Mereka tidak mungkin beraksi sendirian. Tidak— Mustahil,” Ayah mengoreksi kalimatnya. “Tapi yang Ayah yakin, identitas Pretty Devil itu hanya satu orang, dan ada sebuah konspirasi besar di balik aksi pencuriannya.” Glek! *** Air menari-nari, saat Aiko mencelupkan seluruh tubuh polos yang telah disabuni dan dibasuhnya ke dalam kolam karet angin berbentuk lingkaran yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu dangkal. Tangannya menampar-nampar permukaan air, memukul-mukul p****t dan kepala bebek-bebek karet berwarna kuning mungil miliknya yang dibawa masuk ke dalam kolam karet, hingga terjungkir dan terjungkal ke mana-mana—terlihat sadis jika bebek-bebek itu adalah itik yang sebenarnya. Aiko tampaknya terlalu senang bahwa sang kakak menepati janji untuk memperbolehkannya berendam di dalam kolam karet dengan bebek-bebek kesukaannya, mungkin juga sudah melupakan kartun yang sedang tayang di televisi. Nakayama Anzu menyengir geli dari bibir bath tub, sedang sang adik berendam di kolam karet angin di lantai. Pipi Aiko berubah kemerahan oleh air hangat yang memenuhi kolam karetnya. Aiko tak memakai bath tub kamar mandi karena bentuknya terlalu dalam dan besar untuk Aiko yang mungil dan menggemaskan. Satu bebek kuning cilik yang berada di tangan Nakayama Anzu, dia kembang kempiskan, lalu bebek itu mengeluarkan bunyi bengek yang nyaring dan lawak. Melakukannya berulang, Nakayama Anzu sampai mendengus geli oleh suara kocak itu, juga oleh suara tawa Aiko yang menyusul suara si bebek bengek. Kemudian, Nakayama Anzu termangu mengingat kalimat-kalimat Ayah yang beberapa menit lalu diresapnya. Kalimat Ayah yang menduga bahwa Pretty Devil adalah satu identitas tapi tidak beraksi sendirian, membuat Nakayama Anzu gelisah. Masalahnya adalah, Ayah sangat tajam karena dapat menebak hal tersebut, sementara para polisi masih dalam proses penyelidikan identitas si Pretty Devil. Detik selanjutnya, Nakayama Anzu memutarbalikkan pendapatnya, bahwa tebakan tersebut—bahwa Pretty Devil adalah satu identitas tapi tidak beraksi sendirian—adalah sebuah pemikiran yang umum dan wajar untuk terlintas dalam pikiran setiap orang. Hal ini dilakukannya untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Nakayama Anzu tidak perlu takut dan mengkhawatirkan Ayah, Ibu, Ryu, dan Aiko—keluarganya, atas identitasnya yang hampir terbongkar oleh dua laki-laki Nakayama itu. Sebab selain itu, logika semua orang pasti mengira, bahwa Pretty Devil yang beridentitas jelas seorang perempuan—berdasarkan kostum dan rambut panjangnya—dianggap tidak mungkin beraksi sendirian dalam mencuri berbagai perhiasan dan harta berharga di rumah-rumah mewah. Terlebih, dalam melarikan diri dari polisi dan tidak tertangkap hingga saat ini. Mereka, kebanyakan orang, pasti akan lebih berpendapat, bahwa Pretty Devil tidak bergerak sendirian dalam mencuri; Pretty Devil memiliki rekan yang membantunya merancang rencana, menjalankan aksi, dan membantunya melarikan diri. Mererka menolak femme fatale yang Pretty Devil miliki. Nakayama Anzu kemudian merasa lega. Setidaknya, mereka, kebanyakan orang, serta ayahnya baru terpikirkan logika sampai sana. Belum menyeruak lebih jauh, lebih dalam, dan lebih kelam dari kenyataan yang Pretty Devil—Nakayama Anzu—sembunyikan. Nakayama Anzu tersenyum kecut, membalas cengiran bahagia Aiko yang mengembang kala matanya bersitatap dengan milik sang kakak. “Kak Anzu! Bebeknya bunyi! Hehe!” seru Aiko dengan wajah merona, dan Nakayama Anzu hanya mengangguk tipis saja. Di sela bengongnya, ponsel pada saku celana Nakayama Anzu berdering. Melihat si penelepon adalah Nomor Tak Dikenal, Nakayama Anzu menggerutu. Dia hafal dan tahu betul siapa Nomor Tak Dikenal itu. Yah, memang siapa lagi? Selepas berpesan pada Aiko untuk menunggu sebentar dan tidak keluar kolam karet karena licin dan bahaya, Nakayama Anzu menggeser pintu buram kamar mandi, berhenti di ruang ganti baju yang terdapat laci-laci berukuran sedang penyimpan handuk dan mesin cuci, membuka selembar daun laci, kemudian memasukkan kepalanya di antara handuk-handuk. Nakayama Anzu menungging dengan posisi aneh; setengah badan di dalam laci, setengahnya lagi di luar laci, berpose seperti sedang mencari sesuatu di dalam sana. Klik! "Wah, wah, wah.” Nakayama Anzu memutar kedua matanya, merasa jengah. “Lihat siapa yang meneleponku pagi-pagi untuk menanyakan berlian," serang Nakayama Anzu, saat tombol hijau sudah dia pencet. "Oh, pagi, Rekan!" sapa suara robot bariton di seberang telepon dengan girang, tak mengindahkan sindiran Nakayama Anzu. "Kau berhasil pulang dengan selamat sampai rumah semalam, ya? Memang, deh, aku tidak pernah ragu padamu. Kau sangat bisa diandalkan! Hehe!" "Robot Pengecut!” Nakayama Anzu berteriak mengatai laki-laki di seberang telepon dengan beringas dan tidak sabaran. Sedang si Suara Robot, hanya tertawa cengengesan tanpa bersalah. “Hehe.” Membuat Nakayama Anzu mengumpat lagi, “Sialan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN