07

2059 Kata
"Bayangkan jika kau terlambat dibawa ke rumah sakit. Kau hampir kehilangan nyawa karena kebodohanmu, Anzu." Ayah menggeleng, sejenak berdiri dan menaruh piring di wastafel, lalu pergi ke ruang keluarga membawa ocha miliknya, tanpa mencuci bekas piring. "Tapi aku tetap boleh minum bir, kan?" tanyanya, sedikit berteriak karena telinga Ayah sudah tidak berada di meja makan. “Anzu!!” Ayah balas berteriak dari jauh. Suaranya terdengar kesal walau berusaha dijaga untuk tetap datar. Itu membuat Nakayama Anzu tertawa kecil sembari menutupi mulutnya. “Hahaha. Tapi boleh, kan, Ayah?” "Nak," panggil Ibu, memperlihatkan wajah serius kepada Nakayama Anzu—yang tentu masih tampak lembut dari pancaran tatapan yang Ibu berikan. “Hehehe… eh, Ibu. Kenapa?” Nakayama Anzu menyengir polos. Ibu memandang Nakayama Anzu sejenak, kemudian menggeleng seraya mengeluarkan hembusan napas pelan. "Kurangi minum alkohol, ya. Ayah khawatir padamu, dan Ibu juga sama khawatirnya. Meski menurut hukum kamu sudah diperbolehkan mengonsumsi alkohol, bukan berarti kamu bebas meminumnya banyak-banyak dan tidak memperhatikan seberapa banyak yang sudah kamu minum. Perhatikan kesehatanmu, Anzu.” Raut wajah Ibu tampak sendu. “Lagi pula, jika banyak-banyak, alkohol itu tidak baik untuk kesehatan. Jangan minum terlalu banyak dan jangan terlalu sering meminumnya. Ketahuilah batasanmu. Ya, Anzu?" mohon Ibu bersungguh-sungguh, dengan suara yang terdengar khawatir dan penuh perhatian. Ah, Ibu selalu punya nada lembut untuk menawan Nakayama Anzu ke dalam kalimat-kalimatnya, hingga tak ada sanggahan yang akan diutarakan Nakayama Anzu selain anggukan kepala patuh. “Iya, Bu. Anzu gak lagi-lagi minum bir banyak-banyak.” Kalimatnya membuat wanita kepala empat itu tersenyum lembut, sampai Nakayama Anzu melanjutkan kalimatnya, “…sekaligus.” “Anzu,” panggil Ibu. “Eh, bercanda, kok, Bu! Hehe. Masa, Anzu ingkar janji? Ibu tahu, kan, kalau Aznu gak pernah melanggar janji Anzu sendiri? Atau berbuat sesuatu yang Ibu gak suka?” Nakayama Anzu melayangkan senyum terbaik pada ibunya, berharap sang ibu dapat luluh dan jatuh dalam kata-kata manisnya. “Kita lihat saja nanti,” ucap Ibu, seraya bangkit dari kursi untuk undur diri meninggalkan percakapan yang entah dimenangkan oleh siapa. “Ah~ Masa, Ibu gak percaya sama Anzu?” rajuk Nakayama Anzu, saat Ibu mengambil piringnya dan piring Aiko yang sudah kosong, kemudian berpindah ke wastafel untuk mencuci seluruh piring kotor. “Anzu, kan, gak pernah bohong sama Ibu.” “Tolong adikmu kasih minum, Anzu,” suruh Ibu, melihat Aiko yang sedang mengelap pipi bulatnya dengan tisu, sudah selesai menelan seluruh kunyahan terakhirnya. “Ibu~” Meski merajuk, Nakayama Anzu tetap manut pada permintaan ibunya. Dia mengambil dua kaleng jus jeruk dari kulkas. Satu dibuka dan dituangkannya pada gelas kecil untuk Aiko, dan satunya lagi untuk dirinya. “Akhir-akhir ini, Aiko lagi suka jus jeruk,” kata Nakayama Anzu. “Habis minum ini, Aiko harus minum air putih juga, ya,” bujuknya pada si bungsu, yang disahut dengan anggukan dan cengiran lebar. Nakayama Anzu pun sudah tidak melanjutkan rajukannya. Dia fokus membantu Aiko, si gadis kecil nan imut yang pipinya mengembung kala seteguk jus jeruk masuk ke dalam mulutnya, untuk minum. Sesudah milik Aiko habis, Ibu mengajaknya untuk mandi bersama. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat sedikit, sedang preschool Aiko dimulai pukul delapan tiga puluh pagi. Aiko harus segera diajak—diseret—ke kamar mandi, sebelum tangannya usil menyambar remot TV dan menonton kartun hingga menolak untuk berangkat preschool. Tetapi, kesenyapan disana terdobrak oleh sebuah pekikan dari ruang keluarga, "Wah, gila!" yang membuat ketiga perempuan Nakayama yang ada di dapur segera menyusul ke sana. "Omonganmu dijaga, dong!" seru Nakayama Anzu pada remaja tanggung berseragam sekolah jas dan celana bahan hitam-hitam yang baru saja rapi berpakaian, hampir saja menyiram Ryu dengan jus jeruk Aiko yang dia bawa. "Jangan bicara kasar di depan Aiko!" "Kak Anzu! Ibu!" Ryu tak menggubris peringatan kakaknya. Dia memanggil tanpa menoleh, fokus menatap layar TV, duduk di sebelah Ayah pada sofa kuning muda yang warnanya sudah memudar. Sementara Ryu tampak kelewat antusias, Ayah masih menempelkan bibir pada cangkir ocha miliknya. "Coba lihat, nih!" Kemudian Ryu mengeraskan volume TV. Nakayama Anzu tak menganggapnya serius. Dia memilih menghabiskan jus jeruk adiknya—karena Aiko sudah memberi gelengan kepala. Sedangkan Ibu, sudah duduk, ikut menyimak televisi di sebelah Ayah, tidak jadi menggiring Aiko mandi. "Berita pagi.” Suara televisi memenuhi ruang keluarga, dan wajah seorang wanita yang dipoles minimalis tapi tetap tampak anggun dan segar sesuai standar layar kaca itu menyapa Keluarga Nakayama dengan ekspresi serius. “Pemirsa, telah terjadi pencurian tiara senilai 100 juta yen milik Miss Japan 20XX di kediamannya di Distrik Omotesando, Tokyo, tengah malam tadi—" "PUHHH— uhuk, uhuk." Nakayama Anzu tersedak. Jus jeruk yang diminumnya muncrat ke mana-mana, mengundang tawa Aiko, sementara Ibu memberikan tisu untuknya. Setelah puas tertawa, Aiko turut membantu mengelap pipi kakaknya, sedangkan Ryu mengatainya jorok. "—Polisi menyatakan, bahwa pelaku pencurian kabur membawa tiara, setelah melukai sekitar dua puluh anggota Kepolisian Metropolitan Tokyo dengan bom asap rakitan, serta kemampuan bela dirinya. Pelaku diduga sebagai pencuri yang akhir-akhir ini juga menjadi tersangka atas beberapa pencurian besar sebelumnya, yaitu Pretty Devil—” “Uhuk— uhuk, uhuk, uhuk!!” Nakayama Anzu memukul-mukul dadanya, berusaha menyudahi batuknya yang terus menyahuti kalimat si presenter berita yang terdengar ganjil bagi Ryu, karena kakaknya terus terbatuk. “Saat ini, polisi masih dalam penyelidikan lebih lanjut." Presenter tersebut selesai melaporkan berita terhangat pagi itu. Kemudian layar TV berubah, menampilkan rekaman dari body camera beberapa polisi yang berada di tempat kejadian perkara. “Kenapa tersedak terus, sih?” tanya Ryu. “Minum sana! Berisik tahu! Eh, eh— lihat, tuh!” Ryu menunjuk layar televisi yang menampilkan potongan-potongan kejadian. Mula-mula, rekaman body camera menampilkan ruangan putih yang dipenuhi berbagai furnitur mahal yang berkilauan, yang tengah itu semua terdapat semacam sebuah pilar kecil yang tingginya hanya setengah ruangan, yang di pucuknya terdapat bantal beludru yang sudah kosong, yang isinya, yaitu tiara berharga fantastis 100 juta yen, berada di tanah dengan biji-biji berlian yang tercerai-berai ke mana-mana. Namun, yang menjadi perhatian dari itu semua adalah seorang perempuan berpakaian serba hitam dengan topeng setengah wajah yang menutupi hidung hingga dagunya, yang berbentuk akuma warna hitam, yang sedang melempar sesuatu. Terjadi penembakan kejut saat itu juga, dan serta-merta asap putih mengepul ke udara, semakin lama semakin tebal dan menutup pandangan. Rekaman body camera terhenti sampai situ, kemudian si presenter beralih ke berita selanjutnya. Siaran berita dan rekaman aksi Pretty Devil barusan mengusir Nakayama Anzu ke dapur, berdalih ingin mencuci wajah dan membersihkan diri percikan-percikan jus jeruk yang menempel. Sementara anggota keluarganya, tidak peduli, lebih tertarik mengomentari berita pagi ini tentang—lagi-lagi—aksi pencurian Pretty Devil. "Orang sinting," komentar Ayah. "Mereka pasti masih anak-anak." "Anak-anak? Kenapa Ayah berpikir begitu?" Ryu siap mendebat. "Kau pikir, orang bodoh macam apa yang berani membobol rumah yang di dalamnya terdapat banyak bodyguard berbadan besar dan teknologi-teknologi keamanan lainnya, Ryu?" "Mereka pasti sudah mempersiapkan diri, Yah. Nyatanya, tiara seratus juta yen berhasil dicuri. Mustahil jika mereka masih anak-anak. Itu enggak masuk akal." Ryu kemudian terdiam, menyadari keanehan pada kalimat Ayah serta kalimatnya sendiri. “Tunggu. Mereka? Kenapa Ayah tahu kalau Pretty Devil itu “mereka”? Sepertinya dia beraksi sendirian.” Sementara Ayah dan Ryu mempermasalahkan berita pencurian pagi itu, di sela-sela bunyi rintik air dari keran di wastafel, Nakayama Anzu mendengar suara kartun. Itu pasti tangan Aiko, kebiasaan adiknya jika remot TV dibiarkan tergeletak tanpa tangan. Dan Nakayama Anzu tebak, Ibu hanya mendengarkan kedua lelaki Nakayama itu saling berdebat tanpa berniat ikut menimbrung, serta bergabung saja dengan bungsunya, menonton kartun. Mungkin juga Ibu sedang membujuk Aiko untuk segera mandi dan meninggalkan kartun di TV. "Karena remaja adalah yang terburuk." Ayah masih mempertahankan kekerasan kepalanya. "Jalan pikir mereka terlalu dangkal, tidak memikirkan sebab-akibat yang terjadi dari tindakan yang mereka lakukan, yang penting merasa puas dan senang saja. Mereka egois dan sulit diatur." "Entahlah, Ayah. Menurutku, pencurinya bukan anak remaja. Dan sepertinya, bukan “mereka”, karena Pretty Devil terlihat beraksi sendirian." sanggah Ryu, seolah tahu segala. “Terlihat,” tekan Ayah, mempertahankan opininya. “Apa yang terlihat belum berarti kenyataannya. Dan apa yang media perlihatkan kepada kita, bisa jadi adalah berita yang sudah dibedah dan dipoles.” “Dipoles? Kenapa, Yah?” “Kenapa lagi, kalau bukan karena kita adalah rakyat biasa yang merupakan sasaran empuk untuk dimanipulasi dengan cara menampilkan berita persuasif yang bisa digunakan untuk menggiring opini publik, agar masyarakat percaya pada orang-orang berkuasa dan tidak meragukan mereka atas kekacauan situasi yang terjadi di luar sana; yang tidak bisa mereka kendalikan.” Ayah memberi jeda untuk Ryu agar anaknya itu dapat memproses informasi yang masuk. Kemudian melanjutkan, “Meski sisi positifnya memanglah tidak terjadi kepanikan massal. Apalagi mengingat situasi tahun-tahun belakangan ini sangat runyam dan belum ada tanda-tanda kebangkitan keadilan. Negara kita sedang di ujung tanduk dan sangat rentan terhadap serangan, Ryu. Dan salah satu cara mencegahnya, ya, menanamkan gagasan pada masyarakat.” Ryu mengernyit. Perdebatan mereka menjadi sebuah diskusi serius yang sensitif. "Tapi, Yah, meski bagaimanapu, mana ada anak remaja yang bisa menerobos pertahanan seketat yang Ayah bilang itu, ada banyak bodyguard dan teknologi-teknologi lainnya? Ah, bisa, kalau mereka memiliki kekuatan super seperti pahlawan; jubah untuk terbang dan kabur, otot besar dan keberanian tinggi untuk melumpuhkan para bodyguard. Tapi mereka bukan pahlawan, Yah. Mana ada pahlawan mencuri? Melakukan kejahatan, kan, tugas penjahat.” Ryu kemudian melongokkan kepala ke dapur yang letaknya di sebelah ruang keluarga. Lantas kata Ryu, “Benar, kan, Kak Anzu!" Nakayama Anzu langsung saja tersengat. Terpatah-patah dia menoleh dari wastafel ke ruang keluarga sembari menormalkan wajah kagetnya. "E-entahlah! Kenapa bertanya padaku? Memangnya aku orang jahat? Dasar kau ini! Ah— makan nih, omurice punyamu! Kalau sudah dingin, gak akan kaumakan, kan!" Nakayama Anzu bergabung lagi di ruang keluarga dan berteriak tak sabaran memanggil adiknya, "Ryu!" —sekaligus mengalihkan topik perbincangan. "Kenapa teriak, sih? Sewot banget," cebik Ryu, tapi akhirnya tetap berdiri dan menuju ke dapur. "Memangnya aku bicara jelek tentang Kakak?" Setelah saling berbalas delikan mata, Nakayama Anzu melempar wajah pada Aiko, tapi di tengah jalan, matanya bertabrakan dengan milik Ayah yang sedari tadi meneliti pertikaian kedua anaknya. Nakayama Anzu tak bisa menang melawan mata sang ayah. Dia lekas-lekas mengajak Aiko, lagi-lagi membelokkan topik. "Aiko, mandi dulu, yuk. Nonton kartunnya lanjut nanti. Aiko mau ketemu teman-teman di sekolah, gak?" Aiko sempat menggeleng, tapi setelah diberi beberapa rayuan seperti membelikan es krim dan dibolehkan berendam dengan bebek-bebek karet kesukaannya, anak kecil itu langsung menurut dan melepaskan remot TV. Ibu mengangguk saja, saat Nakayama Anzu berkata dirinya yang akan memandikan Aiko, karena sudah senang duluan dijanjikan macam-macam. Telapak mungil itu diamit Nakayama Anzu. Mereka berjalan menuju kamar mandi, sedang ruang keluarga diisi lagi oleh Ryu yang membawa sarapannya ke sana, melanjutkan menonton berbagai berita dengan Ayah, tapi masih mendiskusikan masalah yang sama; Pretty Devil. Sedang Ibu, menjadi penyimak yang setia. "Ayah, menurutku, si pencuri itu bukan anak-anak. Maksudku, setidaknya dia bukan remaja, walau rekaman body camera tadi tidak terlalu jelas menampakkan seluruh tubuhnya. Menurutku, dia adalah orang dewasa. Dipikir bagaimanapun, tidak ada anak-anak atau remaja yang bisa membawa pulang tiara sangat mahal dari rumah mewah yang dijaga oleh banyak bodyguard dan CCTV, apalagi lolos dari kejaran polisi, Yah. Memangnya, ada anak-anak yang seajaib itu?" Suara mereka terdengar makin jauh seraya Aiko menarik tangan Nakayama Anzu, tak sabar untuk berendam dan bermain dengan bebek-bebek karetnya. "Tahu kenapa Ayah menganggap pelakunya anak-anak atau remaja?" Suara Ayah merayap. Nakayama Anzu lamat-lamat mendengarkan, tanpa sadar menahan napasnya, sekaligus memelankan langkah dan menahan tangan Aiko supaya berjalan lebih lambat. "Eh… asal tebak?" kata Ryu, asal tebak pula. Ayah mengembus napas jengah. Matanya lurus menatap layar televisi, sementara pikirannya boleh jadi membayangkan sosok Pretty Devil sebagai pencuri paling merugikan bagi negara mereka. Ayah meneruskan kalimatnya, "Karena hanya anak-anak yang berani melibatkan diri ke dalam permainan yang tidak mampu mereka menangkan. Hanya remaja yang berani melakukan hal menggebu-gebu tanpa memikirkan konsekuensi atas tindakannya itu. Mereka (pencuri itu) datang untuk kalah. Mereka (Pretty Devil) tidak tahu cara mainnya, dan mungkin datang ke sana untuk bunuh diri. Mereka terlalu mengandalkan keberuntungan milik mereka yang tidak seberapa itu. Mereka hanya anak-anak, dan Ayah yakin jika mereka adalah remaja. Karena, lebih sedikit kemungkinannya jika Pretty Devil, atau siapalah nama kelompok mereka, orang dewasa. Sebab, orang dewasa itu berlawanan dari sifat anak-anak dan remaja, Ryu." Ayah memberi jeda untuk berkata, “Lagi pula, selama ini, memanglah nama Pretty Devil seorang yang menggaung di seluruh Tokyo. Tapi, tidak ada yang pernah menyinggung, bukan, kalau Pretty Devil bekerja sendirian?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN