06

1433 Kata
Sementara kedua putrinya tergelak, Ibu menoleh pada suaminya. Ayah mengentak koran, berdeham tanpa membuat kontak mata ataupun melepas koran beritanya—sudah tahu jika sang istri tengah memandangnya, meminta penjelasan. "Lain kali, sebaiknya jangan kau lakukan lagi, Anzu," peringat Ayah kemudian. Ibu mengembuskan napas, menyerah terhadap kelakukan jahil ketiga anaknya yang saling balas-membalas. Nakayama Anzu, si sulung berusia dua puluh tahun yang senang mencari gara-gara dengan Nakayama Ryu; anak laki-laki satu-satunya sekaligus anak nomor dua, berusia tujuh belas tahun—masih satu bulan lagi—yang selalu meladeni provokasi kakaknya. Sementara si bungsu dan anak ketiga, Nakayama Aiko, menjadi rebutan kedua kakaknya untuk digandeng menjadi kubu. "Sarapanlah lebih dulu,” usul Ibu. “Ibu akan menyusul setelah mencuci muka dan gosok gigi—mandinya nanti, karena di kamar mandi sedang ada Ryu." Kemudian Ibu pergi dari dapur, ke toilet di sebelah dan yang terpisah dari kamar mandi rumah mereka—memang begitulah model kakus luar negeri, contohnya Jepang yang toilet dan bak mandinya terpisah di dua ruangan yang berbeda. “Iya, Bu! Cepat, ya! Nanti omurice Ibu keburu dingin!” sahut Nakayama Anzu setengah berteriak. Sedangkan Ayah, melipat koran, memimpin doa dalam tundukan serius dan berlangsung lama, hampir saja membuat Aiko tertawa karena melihat kakaknya, Nakayama Anzu, komat-kamit mengikuti gerak bibir Ayah yang tengah berdoa. Ayah memegang sendok, menyobek kulit omurice yang nasi goreng di dalamnya langsung longsor berjatuhan, dan menyuapkan nasi ke dalam mulut. Tak lupa mengunyah sembari mencecap rasa gurih bercampur asin yang pas dalam nasi goreng hangat di lidahnya. Nakayama Anzu menunggu reaksi Ayah, belum memegang sendoknya sama sekali sementara Aiko sudah belepotan ke mana-mana. Melihat Ayah sudah menelan suapan pertama, Nakayama Anzu bertanya, “Gimana, Yah? Terlalu… asin, ya?” Ayah masih datar menatap piring omurice miliknya, membuat Nakayama Anzu kesulitan menelan ludah. Ayah mengangguk pelan. “Tidak buruk,” komentarnya. “Fyuuuh. Tapi lumayan, kan? Cocok di lidah Ayah?” Ayah diam saja, tidak menjawab pertanyaan lebih detail anak sulungnya. “Sudah habiskan saja sarapanmu,” kata Ayah, menyumpal mulutnya dengan suapan lain. Nakayama Anzu mendengus tipis. “Hai, hai. Itadakimasu!; Iya! Selamat makan!" Nakayama Anzu menurut, memegang sendok dan membawa sesuap demi sesuap omurice ke dalam mulutnya, sedang Aiko lebih sering disuapi karena Nakayama Anzu melihat nasi adiknya lebih banyak berjatuhan dan berantakan di atas meja daripada hilang ke dalam perutnya. Untungnya lagi tidak dikeluarkan lagi dari mulut, seperti minggu lalu yang tadi disebut. Aiko mengangguk, mengunyah suapan yang dibawa Nakayama Anzu dengan lahap—yang berarti masakannya pagi ini enak. Ayah pun tidak mengeluhkan rasanya atau menarik urat alisnya—berarti masakannya sudah pas. Tak beberapa lama kemudian, Ibu datang dan kembali menimbrung dengan wajah yang lebih segar di meja makan. Dia duduk di seberang Nakayama Anzu, sedang Ayah ada di muka meja—posisi duduk seperti anak yang sedang merayakan pesta ulang tahun dan bersiap meniup lilin; atau posisi tahta duduk seorang kepala keluarga. Ibu menyusul sarapan pagi itu, mengomentari kalau nasi omurice buatan sulungnya hari ini tidak terlalu asin seperti yang lalu, dan rasanya sudah pas. “Eh, Ryu mana, Bu? Belum selesai mandi?” tanya Nakayama Anzu, heran melihat Ibu yang bergabung sendirian. “Begitulah.” Ibu tersenyum mafhum, sedikit menggeleng. "Oh, iya, Ayah. Hari ini akan ada kiriman yang datang," lapor Ibu kemudian, di tengah suara denting sendok yang membentur piring. "Ya, Ayah tidak lupa," susul Ayah. "Tiga boks udang dan lima kilogram rempah-rempah akan mereka kirim jam sepuluh pagi nanti, bukam? Ayah sudah menelepon mereka kemarin, Bu." "Lima kilo? Apa tidak terlalu sedikit?” tanya Ibu. “Kita selalu kehabisan bumbu di pertengahan bulan jika hanya memesan sesedikit itu, Yah. Akhirnya memesan lima kilo tambahan lagi dalam sebulan. Kita harus berhemat, Ayah." Ayah mengambil napas di tengah kunyahannya. Lalu berkata, "Saat kurirnya tiba nanti, Ayah akan pesan dua kilogram masing-masing bumbu lagi, Bu." "Jadikan tiga kilo saja, Ayah. Wanti-wanti kalau mendadak kurang lagi.” Ibu terdengar tak terbantah. "Baiklah." Ayah pun sampai mengalah, lalu kembali menyuap nasi, dan sesekali menjawab pertanyaan istrinya tentang bahan-bahan apa saja yang akan habis bulan ini. Oh, bukan. Mereka bukan membicarakan bumbu dapur untuk persediaan rumah mereka. Keluarga yang hanya diisi lima orang anggota itu—empat setengah, karena Aiko masih tiga tahun kurang—tidak mungkin menghabiskan lima kilogram rempah-rempah dalam setengah bulan, kan? Kedua pemimpin dan bendahara negara itu sedang merembukkan bahan-bahan dan persediaan untuk kedai ramen keluarga mereka—Kedai Ramen Nakayama, yang memangku lantai satu rumah mereka; bisnis kuliner ramen di lantai satu, sedang rumah dan kehidupan pribadi tinggal di lantai dua. Tetapi kedai ramen mereka sudah seperti rumah. Malah, Ayah dan Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di kedai ramen, mengurus pembeli dan ketiga anak mereka bersamaan. Kadang juga lebih sering memomong para pembeli dan pengunjung, daripada ketiga anaknya. Yah, mau diapakan lagi? Kedai Ramen Nakayama itu adalah kedai ramen yang sangat terkenal di Distrik Akasaka, Tokyo. Kedai ramennya selalu ramai oleh bapak-bapak tetangga, pasangan kencan, atau anak muda dari kawasan tersibuk Jepang, Distrik Shibuya, Tokyo. Meski baru berjalan lima tahun, tapi Kedai Ramen Nakayama sudah seperti penyambung lidah banyak orang, khususnya masyarakat Distrik Akasaka, meski ramen mereka sudah cukup terkenal ke distrik-distrik tetangga. Mienya kenyal dan segar. Kaldunya pas, tidak terlalu berminyak, tidak terlalu pekat, dan tidak terlalu asam. Cocok bagi lidah tiap-tiap generasi dan patok harganya tidak terlalu tinggi, standar harga mi ramen seperti pada umumnya, tapi kualitas rasanya melebihi kedai-kedai ramen kebanyakan. Karena ketenaran dan pembedanyalah, hanya lima kilogram rempah-rempah tidak cukup untuk bahan persediaan satu bulan. Dan karena keterkenalannya juga, kedai ramen mereka jadi sangat sibuk dan hampir membuat ketiga anak mereka, khususnya Aiko yang paling kecil, terbengkalai, kalau saja Nakayama Anzu dan Nakayama Ryu tidak bergantian memomong si bungsu, menggantikan ayah dan ibu mereka. Sementara Nakayama Anzu masih menyuapi dirinya dan Aiko, Ayah dan Ibu saling mendikte bahan-bahan apa saja yang habis, atau yang tinggal sedikit, atau yang tidak banyak terpakai, atau menu yang paling laku, atau yang tidak terlalu diminati, atau siapa saja tetangga yang sering mengutang, atau siapa saja tetangga yang sering mampir ke kedai mereka karena sering bertengkar dengan istrinya, atau siapa saja yang lebih sering memesan bir daripada ramen ketika bertandang. Acara sarapan pagi itu berubah menjadi rapat audit yang serius dan membosankan untuk didengar, bila saja Nakayama Anzu tidak menginterupsi obrolan kedua orang tuanya. "Kiriman bir!" laung Nakayama Anzu dengan binaran mata, tatkala Ayah menyinggung lima peti bir yang akan tiba nanti sore. "Aku siap bantu, kok! Banget! Dengan senang hati!" "Bantu? Bantu apa? Menghabiskannya?" sindir Ayah, menyenggol kebiasaan buruk putri sulungnya; diam-diam mencuri botol bir besar milik persediaan kedai ramen mereka ketika sedang ramai pengunjung, sedang Ayah dan Ibu meleng pada keramaian kedai. Nakayama Anzu hanya menyengir pada pertanyaan Ayah, antara merasa bersalah dan ingin tergelak membayangkan kejadian itu—yang terjadi tak hanya satu atau dua kali, melainkan… sudah sering sekali…? "Usiaku sudah legal, Ayah. Aku bebas minum alkohol sebanyak yang kumau sekarang. Aku sudah dewasa, dan orang dewasa tidak masalah mengonsumsi alkohol, kan?" Nakayama Anzu mengedikkan bahunya bangga. “Lagi pula, negara kita, Jepang, bukan negara yang mengharamkan produksi dan konsumsi alkohol. Wajar saja, kan?” "Yang menjadi masalah itu kebiasaan minummu, Anzu," koreksi Ayah. "Tidak ingat hari ulang tahunmu, saat kau membeli sepuluh kaleng bir, lalu menghabiskannya satu-satu, tanpa sadar jika di kaleng kedua kau sudah mabuk? Yang tidak wajar itu kebiasaan minummu yang tidak bisa menahan diri— yang tidak tahu batasan dirimu sendiri." "Ayolah, Ayah. Mana ada mabuk di kaleng kedua? Waktu itu, aku baru merasa pusing setelah menghabiskan kaleng kelima." Nasi dalam piring Ayah sudah habis, Ayah pun meletakkan sendok, menatap Nakayama Anzu dengan mata serius. "Lalu kau masih terus menenggak birnya sampai habis sembilan kaleng dalam satu malam, Anzu. Pada akhirnya, kau masuk IGD karena overdosis alkohol, dan dirawat selama seminggu. Tidakkah pengalaman itu menjadi pelajaran bagimu, Nakayama Anzu?" Geh— Jangan memanggilku dengan nama lengkap, Ayah! Karena itu terdengar seperti ancaman! Nakayama Anzu menelan ludah. "Ayah…," rayunya. "Satu minggu," tekan Ayah. "Bayangkan jika kau terlambat dibawa ke rumah sakit. Kau hampir kehilangan nyawa karena kebodohanmu, Anzu." Ayah menggeleng, sejenak berdiri dan menaruh piring di wastafel, lalu pergi ke ruang keluarga membawa ocha miliknya, tanpa mencuci bekas piring. "Tapi aku tetap boleh minum bir, kan?" tanyanya, sedikit berteriak karena telinga Ayah sudah tidak berada di meja makan. “Anzu!!” Ayah balas berteriak dari jauh. Suaranya terdengar kesal walau berusaha dijaga tetap datar. Itu membuat Nakayama Anzu tertawa kecil sembari menutupi mulutnya. “Hahaha. Tapi boleh, kan, Ayah?” "Nak," panggil Ibu, memperlihatkan wajah serius kepada Nakayama Anzu. “Hehehe… eh, Ibu. Kenapa?” Ibu memandangnya sejenak, kemudian menggeleng seraya mengeluarkan hembusan napas pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN