05

1066 Kata
Matahari sudah duduk di langit. Sinar putih kekuningannya menjadi selimut bagi gedung-gedung tinggi, aspal jalanan, badan-badan mobil dan kendaraan, permukaan dedaunan dan pepohonan yang bergoyang ditiup semilir angin, serta tiap-tiap tubuh orang-orang berjas rapi dan berpakaian lengkap yang memenuhi pinggir jalan dan kendaraan umum. Meski posisi matahari belum terlalu tinggi, tapi sinar hangatnya sudah galak menusuk kulit, sekaligus sudah menjadi tanda bahwa hari baru sudah dimulai, memaksa sesiapa pun yang memiliki kehidupan untuk dipertanggungjawabkan ataupun urusan penting bangun dari mimpi mereka, menjalani hari dan kehidupan yang tak dapat diprediksi. Akan tetapi, yang membangunkan wanita kepala empat itu bukanlah alarm maupun sinar matahari yang menerobos kamarnya lewat celah-celah korden yang tersibak, melainkan aroma harum yang mendobrak pintu kamar dan menampar hidungnya. Begitu membuka mata, wanita itu bangun dan duduk sejenak di tepi ranjang, mencoba mengumpulkan kesadaran maupun menyiapkan dirinya pada kenyataan yang akan segera menyambutnya begitu dia meninggalkan tempat tidur. Wanita itu menoleh ke sisi seberang yang ternyata kosong, suaminya tidak ada di sana. Lantas menjadi tahu asal bau harum yang ditangkap hidungnya. Ada di dapur. Setelah merapikan ranjang dan melipat selimut, wanita itu beranjak keluar kamar, dan langsung disapa oleh ruang keluarga. Tidak menuju sumber harum, wanita itu berjalan salah satu kamar berwarna pink-putih terlebih dahulu yang ada di sebelah kamarnya. Daun pintu berpaku papan nama si pemilik kamar bernama Aiko, yang berhiaskan bintang-bintang dan bunga-bunga dari ukiran kayu dan tempelan-tempelan kertas dan berbagai hiasan berwarna-warni, tidak menampakkan siapa pun ketika gagangnya diayun dan mata si wanita itu menyisir seluruh isi kamar. Ranjang kecil di sana pun kosong dan sudah rapi, tidak biasanya. Sempat heran ke mana pergi orang yang dicari, suara cekikik yang samar-samar terdengar menjawil telinga wanita itu, lantas mendatangkan satu simpul senyum yang terbit di wajahnya yang sudah berkeriput. Dia berbalik menutup pintu kamar rapat-rapat dan menuju dapur, sumber keharuman yang menggoda perut dan suara tawa yang geli berada—sumber segala kebahagiaan pagi. Dua perempuan cantik terlihat membelakanginya, dan sedang saling bercanda di belakang teflon dengan suara tawa yang masih belum habis. Salah satu yang tinggi, berambut sebelah warna cokelat tua dan sebelah lagi perak keemasan, dan memakai celemek itu menggendong seorang perempuan mungil dan jelita. Nmereka saling gelitik-menggelitiki dan tertawa lebar-lebar. Ah, kenapa tidak kepikiran kalau Aiko pergi ke dapur? batin si wanita. Suara merekea berdua lebih banyak mengisi keheningan yang menjadi ciri khas pria pasangan hidupnya; Ayah membentangkan koran di meja makan, fokus membaca tiap-tiap baris berita sambil sesekali menyesap ocha; teh khas Jepang yang bisa disajikan secara panas ataupun dingin—tipikal rutinitas pagi bapak-bapak—tidak mempermasalahkan kebisingan dua putrinya yang sedang memasak sarapan sembari bercanda. "Meriah sekali," tabik wanita itu pada kegembiraan yang memeluk meja makan. Kedua adik kakak itu lantas menoleh dengan sisa-sisa tawa yang menempel di bibir mereka. Wanita itu menggeleng mafhum. "Hati-hati. Jangan bercanda di dekat kompor. Bahaya kalau kesenggol," nasihatnya, lalu bergeser mengintip nasi yang berdesis di atas teflon. "Ibu kira, Ayah yang sedang masak. Lupa kalau hari ini dapur jadi milikmu, Anzu." "Iya, Anzu masak omurice; omelette rice khas Jepang; nasi goreng yang disajikan di atas piring dengan telur sebagai kulit pembungkusnya, dengan tambahan dressing sauce dalam bentuk tulisan; hari ini, Bu. Aiko minta omurice dengan tulisan “Aiko wa kawaii yo; Aiko imut” di atasnya." Nakayama Anzu menurunkan si bungsu berusia tiga tahun kurang dua bulan bernama Aiko dari dekapannya sembari tertawa kecil, mendudukannya di kursi khusus balita di sana, lalu berdiri di sebelah ibunya yang tengah mencicip masakannya. "Kurang apa, Bu?" tanya Nakayama Anzu. "Enggak terlalu asin kayak minggu lalu, kan? Semoga kali ini gak dilepeh Aiko lagi," bisiknya, melirik ke belakang sambil terkekeh. "Lebih baik," komentar Ibu, menaruh bekas sendoknya di wastafel. "Jangan terlalu banyak menaburkan miso dan garam," peringatnya. “Terlalu asin tidak baik juga untuk kesehatan.” Nakayama Anzu mengamini dengan candaan, “Nanti Ayah darah tinggi, ya?” “Ssstt!” Ibu menyikut pinggangnya, membuat Nakayama Anzu tertawa lebih kencang. “Baiklah, baiklah!” Nakayama Anzu mematikan kompor, mengambil teflon baru dan perkakas lain untuk menggoreng telur omelet sebagai kulit omurice. Ibu membantu menyusun piring dan sebagainya ke atas meja makan, tak lupa menuang ocha lagi ke dalam cangkir teh Ayah yang hampir habis. Saat dirasa semua telah siap, Ibu melangkah pergi. Tapi Nakayama Anzu menghentikannya dengan berkata, "Ryu sudah aku bangunkan, Bu. Dia lagi mandi. Ya, kan, Aiko?" kikiknya, mengedip pada si bungsu dan dibalas gelakan lucu, sekaligus seolah tahu ke mana ibunya hendak menuju. "Bagaimana cara kalian membangunkan Ryu? Dia itu berat sekali kalau sudah kena bantal." "Dia memang susah bangun, dan harus diciprat-ciprati air dulu baru melek. Makanya tadi aku dan Aiko ketawa." Gadis kecil itu menutup bibirnya, menahan tawa dengan semburat merah di pipi saat kakak perempuannya mengedipkan sebelah mata ke arahnya. Nakayama Anzu mematikan kompor, menyelesaikan masakan omurice di tiap-tiap piring. Lalu melepas celemek, menarik satu kursi, dan duduk di sebelah Aiko. Dia menambahkan informasi, "Waktu aku dan Aiko memercikkan air ke wajahnya, Ryu langsung teriak 'hujaaaan!', terus melompat jatuh ke lantai begitu bangun." Nakayama Anzu tertawa, Aiko pun ikut tertawa. "Lucu banget, kan, Aiko? Hahaha!" “Iya! Ryu-nii-chan jatuh! Lucu! Ehehe.” Aiko terlampau antusias menjelaskannya, membuat Nakayama Anzu tambah meledakkan tawa. Nii atau juga Onii = panggilan untuk kakak laki-laki. Partikel “chan” sebenarnya lebih umum untuk perempuan ke perempuan karena lebih feminin, atau laki-laki ke perempuan (yang sama-sama sudah akrab), tapi tidak ada larangan atau ketentuan tertulis untuk penggunaan “chan”. Tapi biasanya, penggunaan “chan” dari perempuan ke laki-laki itu digunakan untuk hubungan yang sudah dekat dan tergantung pada orangnya saja Ibu membelai rambut belang cokelat tua-perak keemasan si sulung. "Jangan seperti itu. Kasihan adikmu. Memang Ryu tidak marah?" "Hahaha." Nakayama Anzu mengeraskan suara tawanya lagi, teringat wajah yang menjadi korban kejahilannya pagi ini. Ibu menunggu hingga tawanya surut. Bersusah payah memegangi perut, Nakayama Anzu melanjutkan, "Marah! Ryu tadi marah banget, Bu! Aku dan Aiko lari keluar kamarnya, Ryu mengejar kami sambil teriak-teriak. Terus saat melihat Ayah di dapur, Ryu langsung ciut kayak kucing kecemplung di air! Hahaha! Lucu banget, tahu, Bu!" Sementara kedua putrinya tergelak, Ibu menoleh pada suaminya. Ayah mengentak koran, berdeham tanpa membuat kontak mata ataupun melepas koran beritanya—sudah tahu jika sang istri tengah memandangnya, meminta penjelasan. "Lain kali, sebaiknya jangan kau lakukan lagi, Anzu," peringat Ayah kemudian. Sebesar apa pun intimidasi yang Ayah miliki, pria itu akan gentar dengan mata sang istri. Memang, laki-laki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN