04

1288 Kata
Masih pada malam sama ketika Detektif King menatap gagang telepon yang sambungannya diputus secara sepihak oleh Shiro-kanrikan, yang lantas membuat Detektif King meraih shoulder holster yang berisi dua pistol BB dan bergegas mencegat taksi untuk ikut mengejar si Pretty Devil dengan polisi Kepolisian Metropolitan Tokyo, di lain tempat, sebuah jendela tinggi milik sebuah kamar yang gelap gulita itu terbuka. Sepasang tangan muncul di tepi bingkai jendela itu, kemudian semakin masuk dan menjajah ke dalam balik jendela, disusul oleh sepotong tubuh miliknya yang merangkak pada dinding, yang serta-merta meloloskan tubuh berpakaian serba hitamnya itu ke dalam sebuah ruangan gelap. Sepatu boot hitam tinggi miliknyalah yang pertama kali menyentuh lantai kamar. Walau hak berbahan karetnya tidak berdecit, kepalanya sontak mengelilingi kamar gelap itu, khawatir jika suara terkecil dari hak sepatu yang menggesek lantai, atau dari kedatangannya yang sembunyi-sembunyi itu akan membuat seisi rumah terbangun dan memergokinya dengan kostum dan dandanan aneh. Setelah dirasa tak ada suara apa pun, dia menggeser jendela, menutupnya kembali. Kemudian gadis itu melepas seluruh atribut hitam berkeringatnya, tak lupa melepas kepalanya. Maksudnya, rambut hitam yang berkepang dua rapi di kepalanya—adalah… sebuah wig. Warna hitam dari wig yang baru saja dia lepas, menyibakkan dua warna yang dicat belang; sebelah kanan rambut panjangnya berwarna cokelat tua, sebelah kirinya berwarna perak keemasan, tergerai panjang dan lepek begitu penutup rambut yang bentuknya seperti jaring-jaring hitam itu dia banting—kesal karena meninggalkan bekas gatal. Selalu membekas gatal setiap dia pakai. Kemudian tangannya mengambil gym bag di bawah kolong ranjang tempat tidurnya, memasukkan semua atribut yang baru saja dia copot; tactical vest, tactical belt, topeng berbentuk akuma berwarna hitam, sepatu boot hitam, dan segala perlengkapan yang entah apa itu, yang ditaruh saling menumpuk di dalam tas, ditekan-tekan, dan dipaksa masuk sekaligus. Tetapi, khusus untuk kawat berkilau yang batu-batu berliannya sudah banyak yang terlepas, dia memisahkannya ke dalam kantung serut beludru berwarna merah. Dia memasukkan kembali tas berbentuk silider itu ke dalam kolong ranjang, lalu membuka lemari bajunya perlahan-lahan. Engselnya berbunyi serat seperti suara tawa seorang nenek yang sudah sepuh yang terdengar menyeramkan, membuat gerakannya langsung terhenti, dan matanya langsung mendelik ke arah pintu kamar, was-was akan sesuatu yang akan terjadi. Sangat tidak lucu jika seseorang mendadak masuk ke kamarnya, lalu menemukan tubuh si gadis yang hanya memakai bra dan celana dalam saja, bukan? Lebih gawatnya lagi jika ada yang bertanya apa yang sedang dia lakukan, atau sedang apa dia setengah telanjang, atau paling bahaya jika dia ditanya 'habis dari mana?'. Dia tak punya jawaban. Tepatnya tidak bisa menjawab. Tidak mungkin menjawabnya. Setelah tak ada suara langkah kaki atau apa pun, dia mengambil sepasang baju tidur dan memakainya. Segera setelah rapi, tubuhnya dijatuhkan ke atas kasur. Senyuman lantas terbit di dalam kamar temaramnya. Dia nyaman sekali dengan tingkat kelembutan dan keempukan kasur, seolah lekas melenyapkan pegal dan lelahnya setelah tadi berlarian jauh, berguling-guling, dan memanjat-manjat dinding, pagar, pohon, dan apa pun beberapa saat lalu, demi kabur dari para polisi—mobil-mobil polisi—yang mengejarnya. Sejenak, jam beker yang duduk cantik di meja rias dia lirik. Pukul empat lima puluh pagi. Gerutuan memenuhi kamar. Sepuluh menit lagi alarmnya akan bunyi. Dia langsung merasa kesal. Mendapati itu, si gadis tak sungkan menyalahkan rekan bersuara robotnya, karena telah memutus sambungan radio saat situasi tengah menghimpit. Dia ditinggalkan begitu saja, dibiarkan menghadapi lima sampai tujuh mobil polisi yang bersiteguh mengejarnya hingga ke gang-gang perumahan pinggir kota, yang bahkan tidak muat dilewati oleh kendaraan beroda empat. Kesudahannya, dia terpaksa menciptakan jalur kaburnya sendiri—melompati tembok-tembok rumah, bersembunyi di semak-semak, memanjat atap rumah, berayun di batang pohon, dan berguling meloloskan diri dari celah gerbang rumah orang—karena setiap tembusan gang sudah dicekal oleh anggota-anggota polisi lain. Usahanya itu memakan waktu lama. Dari jam satu pagi, hingga jam empat lewat tiga puluh menit saat ini. Penyebab pertama, tentu saja karena ada polisi di mana-mana—dia jadi harus bersembunyi sambil menunggu keadaan sepi. Penyebab yang lain adalah karena semua jalan tampak sama baginya. Dia buruk dalam menghafal jalan—meski tak mau mengakui itu. Dia buta arah dan sering tersesat. Tetapi, untuk masalah dirinya yang tak mendapatkan tidur sama sekali malam ini, dia menyalahkan rekan bersuara robotnya, Red Apple! Karena kegentaran Red Apple ketika dirinya terkepung pistol dan polisi hingga nyaris tertangkap, dia jadi harus memutari satu distrik hingga hampir empat jam! Sendirian! Sementara Red Apple mungkin saja sedang bersantai-santai di tempat persembunyiannya yang entah ada di mana! Padahal, yang sedang dalam situasi terjepit itu dirinya; yang salah-salah akan kena tembak, tertangkap polisi, jadi tahanan polisi, atau paling buruk mati itu dirinya, Pretty Devil, bukan Red Apple! Karena laki-laki itu sedang asyik bersembunyi di balik headset mikrofon pemancar radio; tidak berbentuk, tidak nyata, dan tidak hadir di sana, di tempat kejadian bersamanya. Hanya suara miliknya saja yang berbisik di telinga Pretty Devil, sementara Red Apple… tak tahu ada di mana! Si gadis jadi semakin sebal. Masa, Red Apple takut suara pistol? Yang benar saja. Ah— bukan itu! “Aaarrrrgghhh!” Si gadis mengerang ditutupi bantal, frustrasi dan masih merasa marah. Tahu-tahu, jam bekernya bergetar hebat dalam gerakan super cepat. KRIIIIIIIING KRIIIIIIIING KRIIIIIIIING KRIIIIIIIING Dering dan getarannya berisik, mengganggu telinga. Tapi dia tidak langsung mematikannya, lantaran masih ingin meluruskan pinggang, atau kalau beruntung, tidur sampai siang. AC yang tidak dimatikan sewaktu dia pertama pergi juga menambah kesejukan, membawa kantuk yang menggoda dalam sekali terpa. Tapi tidak bisa. Dia tidak boleh tidur. Kehidupan miliknya yang sesungguhnya, dimulai saat matahari terpental ke atas langit, sebagai Nakayama Anzu. Berat hati, dia tinggalkan kasur empuknya, memukul pucuk beker yang langsung berhenti berdering saat itu juga, lalu berjalan gontai ke arah pintu. Meraih knop, memutarnya, dan seketika membuka daun pintu, dia terperanjat melihat sosok hitam seram dan besar tepat berdiri di hadapan wajahnya. "A-ayah!" jeritnya, memegangi dadanya. Sedang pria yang berniat melintasi kamarnya, mengerem dan menoleh dengan wajah datar yang selalu tampak sedang marah itu. Saat ini pun, pria tinggi kurus berusia hampir lima puluh itu hanya menjawab dengan tusukan mata, tidak berkomentar apa-apa mendengar anak sulungnya memekik di pagi buta. Agaknya, Ayah sedang mengeruk informasi dari gelagat si anak sulung. "O-oh, maksudku, selamat pagi, Ayah!" Nakayama Anzu tersenyum kaku. "Kok, Ayah sudah bangun? Rajin banget, deh. Hehe," tawanya canggung. Ayah menatap Nakayama Anzu dulu sekejap. Katanya kemudian, "Kau sendiri, mau apa jam segini sudah bangun?" "Aku, kan, memang biasa bangun pagi." Nakayama Anzu memutus tatapan. "Ah, Ayah bukan mau ke kamar mandi, kan? Kalau gitu aku masuk duluan, ya. Panggilan alam!" Setelahnya, dia melesat menuju pintu kamar mandi di lorong sebelah kiri. Tetapi ketika tangannya memegang knop pintu berniat membukanya, Ayah memanggil dengan suara serius, "Nakayama Anzu." "Y-ya, Ayah?" jawabnya, dengan tubuh yang tanpa sadar menegang dan menoleh kaku. Ada satu ketetapan telak dalam rumah Keluarga Nakayama: jika kepala keluarga memanggil dengan nama lengkap dan suara yang berat, hanya ada satu yang harus dilakukan; menyemat seluruh kalimat dengan khidmat jika kepala keluarga memanggilmu dengan nama lengkap. Namun, kebiasaan Ayah yang selalu memandang lawan bicaranya sambil bersuara dengan nada yang dalam, membuat Nakayama Anzu selalu merasa sedang dalam masalah, seperti habis melakukan kesalahan dan Ayah sedang menunggunya untuk mengakui segala kesalahan itu—padahal nyatanya bukan begitu. Yah, itulah imbas memiliki ayah yang memiliki intimidasi yang kuat. Hanya dengan menatap orang saja, orang lain sudah mengerti apa yang ingin Ayah bicarakan tanpa bersuara lebih dulu. …seram. "Lima menit," kata Ayah, memecah ketwegangan yang Nakayama Anzu rasa, kemudian Ayah berbelok ke dapur, membuat gadis berambut belang-belang itu kebingungan. "Cepat!" sahut Ayah kencang dari meja makan di dapur. “I-iya, Yah!” Nakayama Anzu menurut, dia segera masuk dan menutup pintu kamar mandi, cepat-cepat mandi dan menyelesaikan urusannya di dalam. Yang Ayah tak tahu, anak sulungnya sedang tertawa di dalam kamar mnadi. Kirain apa, sudah memasang tampang marah. Tahunya… hahaha!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN