Di dalam kota raksasa yang penuh dengan dekadensi, satu-satunya cara bagi Pretty Devil untuk merebut keadilan, hanyalah mencuri. Akan tetapi, ada tujuan yang lebih serius di balik alasan aksi Pretty Devil. Dan alasan itu, membuat orang satu kota— bahkan satu negara ketar-ketir dengan kejahatannya.
Malam sudah hampir habis, ketika seorang pria berkemeja awut-awutan itu masih duduk di belakang meja kerja miliknya, membelakangi kaca jendela besar dan panjang satu arah, yang di bagian luarnya tertempel stiker-stiker putih bertuliskan huruf Kanji キング ハナエ ** ***, dibaca Kingu Hanae Tantei Jimusho, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia; Agensi Detektif Swasta Kingu Hanae.
Pria si pemilik agensi detektif swasta, Kingu Hanae atau lebih terkenal dengan nama Detektif King, memijit kening seraya menjatuhkan punggungnya pada kepala kursi. Rambut hitam pendek yang ujung-ujungnya menggeletik dahi, tak mampu menghalau silau lampu di meja yang merambat ke wajahnya.
Lupakan tentang silau yang matanya rasakan, Detektif King sudah penat menghadapi tumpukan kertas, lembaran-lembaran foto, dan koran-koran terbitan lama yang saling menindih di atas meja kerja. Mereka seolah meledek Detektif King karena tidak memberikannya petunjuk lebih rinci setiap pria itu kembali meraba, membuka, dan menelanjangi mereka satu per satu. Serta selalu meninggalkan Detektif King dengan rasa putus asa yang berulang.
Lampu kecil di ujung mejanya masih menerpa wajah, seolah menjadi cahaya harapan yang menyuruh Detektif King untuk tidak menyerah. Detektif King melirik telepon rumah berbentuk gagang yang digunakannya sebagai nomor kantor agensi detektif, yang tertutup oleh koran di sebelah dudukan lampu. Sembari memandanginya, Detektif King berpikir beberapa waktu, fokus menatap satu titik hingga termangu cukup lama.
Sampai akhirnya, dia memutuskan meraih teleponnya, menyibak ujung-ujung koran. Mengangkat gagang telepon, menekan nomor-nomor yang sejak lama telah melekat dalam kepalanya, menelepon seseorang, dan menunggu dering yang menyambut telinganya sekarang itu tergantikan oleh suara seseorang dengan perasaan gelisah.
Sembari menunggu telepon tersambung, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk selembar koran lama yang memuat judul "Identitas ke-500 Korban Insiden Malam Merah Berhasil Diidentifikasi. 30 di Antaranya Adalah Anggota Polisi", membuatnya menekan kedua bibinya, berubah murung sekaligus tampak… putus asa.
Dering kelima, telepon akhirnya terhubung. Detektif King yang pertama menyapa dengan nada tegas walau wajahnya lelah, "Halo, Senpai! Maaf menelepon malam-malam. Apa Anda ada waktu untuk sedikit obrolan?" [Senpai digunakan untuk menyebut atau memanggil rekan yang lebih senior di sekolah, perusahaan, klub olahraga, atau grup lain]
Helaan napas lantas hinggap di telinga Detektif King, "Hhh. Kingu-kun, apa kau tahu jam berapa sekarang? Berhenti meneleponku untuk membicarakan hal ini. Aku tahu kau berduka atas kehilanganmu, tapi bukan hanya kau saja yang merasa sedih dan frustrasi atas kebuntuan kasus besar ini. Aku yakin semua anggota polisi yang bertugas merasakan hal yang sama.”
Detektif King mencecap nada lelah pada suara seorang pria bernada dalam itu. Detektif King pun seperti biasa tersenyum kecut, karena kebiasaan pria di seberang setiap menerima panggilan teleponnya selalu sama; menegur dan penuh kerahasiaan—juga diselingi hembusan napas bosan.
"Sudahlah. Lebih baik kau tidur dan istirahat, Kingu-kun. Jangan bekerja berlebihan. Serahkan kasus ini kepada polisi. Kau sekarang hanyalah detektif swasta, dan bertindaklah seperti seorang detektif swasta. Tuanmu sudah berbeda. Jangan pernah lupakan itu."
Detektif King mengangguk tanpa tenaga, menjungkirbalikkan lengkungan bibirnya ketika merespons kalimat pria di ujung telepon yang terdengar tegas sekaligus tanpa saring. "Ya… Anda benar, Shiro-senpai. Maaf, aku hanya…." Semakin menuju akhir, suara Detektif King semakin kecil. Kemudian berangsur hilang karena tidak mampu menyelesaikannya. Hening.
Tepatnya, Detektif King tidak ingin menuntaskan kalimatnya. Sebab, sebuah bayangan api merah berukuran besar dan suara teriakan yang mengaung di udara, yang bercampur-baur dengan kepulan asap abu-abu, abu yang terkelupas dari sisa-sisa bangunan yang beterbangan di bawa angin, dan ujung-ujung lidah api yang menjilat bangunan serta langit malam, seketika saja menggerogoti kepalanya begitu membahas soal-soal dahulu.
Kemudian, di tengah kilas baliknya, lamat-lamat Detektif King mendengar sebuah suara sirene di ujung telepon, yang disusul oleh teriakan yang memanggil pria di seberang, yang terdengar sampai ke telinga Detektif King, "Shiro-kanrikan! Kami ingin ke Distrik Omotesando! Pretty Devil sedang mencuri di perumahan mewah di sana! Anda ikut mobil patroli atau mobil dinas?"
[Kanrikan adalah sebutan untuk jabatan kepala divisi kepolisian]
Bersamaan dengan suara derit kursi di ujung sana, telepon diputus tanpa pamit oleh lawan bicaranya, menyisakan Detektif King yang termenung menatap lubang-lubang pada gagang telepon yang digenggamnya.
Di tengah pikiran gamang dan menunggu syaraf di otaknya mengolah informasi atas apa yang baru saja didengarnya, Detektif King akhirnya berbisik, "Pretty Devil…."
Lantas tanpa berpikir dua kali, dia bangkit dari kursi, menyambar shoulder holster, sebuah sarung pelindung senjata seperti pístol ataupun pisau, yang dihubungkan dengan tali karet ketat, yang berisi dua pístol BB—Pistol BB adalah senapan angin yang menggunakan sistem manual untuk memasukkan udara ke dalam ruangan. Udara kemudian ditembakkan melalui senjata yang mendorong BB kecil ke laras. Mereka menembak bola-bola kecil, kebanyakan terbuat dari tembaga, yang akurat dan mampu menembus kaleng soda—berjenis Hand BB Gun.
Detektif King memakainya melintasi punggung dan kedua bahunya, kemudian berlari secepat kilat keluar pintu kayu kantornya, menyusul senior yang dikenal sebagai Shiro-kanrikan ke Distrik Omotesando, begitu melompat masuk ke dalam salah satu taksi yang untungnya tengah melintas.
Meski akalnya tahu, bahwa insiden kebakaran dahsyat tiga tahun lalu yang meledakkan bangunan-bangunan di Shibuya Crossing tidak ada sangkut pautnya dengan kasus pencurian yang akhir-akhir ini sedang marak, entah mengapa Detektif King berfirasat, bahwa ada petunjuk yang bisa dia dapatkan dengan mencampurtangani kejar-kejaran polisi Kepolisian Metropolitan Tokyo dengan si pencuri licin yang belakangan ini sedang naik daun—Pretty Devil.
Dan apa pun alasannya, Detektif King merasa, bahwa dengan membuntuti Shiro-senpai; Shiro-kanrikan; atau pria yang Detektif King panggil sebagai seniornya, akan membuatnya kecipratan informasi lebih rinci yang pihak polisi sembunyikan dari media perilah insiden kebakaran dahsyat tiga tahun lalu yang bernama Insiden Malam Merah.
Dan mungkin saja, salah satunya adalah dengan… melibatkan diri ke dalam kasus pencurian yang dilakukan oleh Pretty Devil, gadis pencuri yang rumornya berparas cantik dan beraksi sendirian dalam mempermalukan Kepolisian Metropolitan Tokyo.
Detektif King… seputus asa itu—
Atau… inilah yang disebut insting sebagai seorang detektif swasta, sekaligus mantan anggota Kepolisian Metropolitan Tokyo?