02

1940 Kata
Tokoh utama kita, Nakayama Anzu, tidak menyukai gagasan itu. Bukan, bukan berarti tidak setuju terhadap bagian "meraih janji keadilan". Hanya saja, Nakayama Anzu memiliki sebutan lain—masih satu konsep—atas taktiknya menggapai keadilan: "Jika mereka tidak mendatangkan keadilan untukmu, maka rampaslah keadilan dengan caramu." Tersorot lampu-lampu kuning kecil di sekelilingnya, kawat setengah bundaran dengan runcing-runcing mengilat bergelombang yang menduduki seluruh permukaan itu tampak menawan. Batu-batu putih dan silvernya memantulkan cahaya, menciptakan kisi-kisi pelangi kecil yang jatuh di lantai, di langit-langit, di dinding, di lukisan besar, di piring-piring keramik antik yang dipajang di atas bufet kayu bernuansa klasik, serta pada kotak kaca yang mengurungnya, memberikan warna pelangi penuh pada ruangan gelap yang dingin itu. "Wow,” pukau seorang gadis yang berpakaian maskulin dan serba hitam; dari celana kargo, turtle neck, tactical vest—adalah rompi penuh kantung yang biasa dipakai kalangan militer dan kepolisian, gunanya untuk menaruh banyak perlengkapan. Tapi tidak antipeluru. Pretty Devil mengisi tactical vest miliknya dengan barang-barang aneh buatannya; Tactical belt—adalah gesper yang biasanya dipakai kalangan militer atau juga kepolisian. Gesper ini punya banyak kantung yang bisa diisi macam-macam. Kalau Pretty Devil, menggunakannya untuk menyelipkan nunchaku kayu—nunchaku adalah senjata tradisional yang biasa digunakan untuk bela diri, yang terbuat dari dua batang kayu yang disambungkan dengan rantai atau tali, meski ada pula yang terbuat dari besi. Nunchaku dipopulerkan oleh Bruce Lee—dan lain-lain. Dia pun memakai topeng yang menutupi setengah wajahnya yang berbentuk wajah akuma—roh api jahat dalam cerita rakyat Jepang. Akuma juga digambarkan sebagai kategori makhluk tidak terdefinisi yang membawa penderitaan pada manusia. Rupanya berkulit merah, memiliki tanduk dan ekor yang runcing; sarung tangan, hingga sepatu kets, yang sedang bergelantungan terbalik pada sebuah tali yang muncul dari langit-langit macam seekor laba-laba, membuat rambut hitam panjang yang dikepangnya itu terjuntai macam akar pohon beringin. Gadis berpakaian serba hitam itu terpukau oleh kilauan warna-warni yang menusuk matanya, yang menjadi pembias dari semua warna pelangi yang jatuh di segala tempat, yang berbentuk batu-batu kecil yang berbaris rapi. "Kau harus lihat betapa mungil dan banyaknya permata yang terpasang pada kawat ini, Kawan," katanya, pada entah siapa. Jarak antara wajahnya dengan kotak kaca hanya satu kepalan tangan saja. Topeng berbentuk setengah wajah akuma berwarna merah yang dipakainya saja hampir menyentuh kotak kaca tebal yang memerangkap benda sangat mahal di dalamnya. Melihat kawat berbatu indah yang duduk anggun di atas sebuah bantal merah beludru dari dekat, tangan gadis itu tanpa sadar bergerak menyentuh kotak kaca, terpukau berat oleh keindahannya. Gerakan tangannya seolah diperlambat berkat rasa kagumnya, berhati-hati agar kacanya tidak lecet. Tapi bagi seseorang yang menonton lewat kamera CCTV yang dilengkapi sensor panas yang terpaku di sudut-sudut ruangan, tindakan si gadis berpakaian serba hitam itu dinilai terlalu gegabah. Dengan suara robot yang berat dan aneh, dia berteriak, "Jangan sen—!!" tapi sayang, kalimatnya tidak tuntas, karena terpotong oleh raungan alarm kencang, nyaring, dan berulang, yang serta-merta berbunyi begitu ujung sarung tangan si gadis menyentuh permukaan kaca. NGUUUUUNG NGUUUUUNG NGUUUUUNG NGUUUUUNG NGUUUUUNG NGUUUUUNG NGUUUUUNG NGUUUUUNG Seketika alarm berbunyi, lampu di ruangan itu menyala terang, mengguyur setiap sudut ruangan dengan warna putih yang menyilaukan mata, yang memperjelas apa yang si gadis bertopeng akuma berwarna hitam itu perbuat. Dicekik kepanikan atas suara super besar itu, si gadis memekik kepada orang di balik microphone headset mikrofon pemancar pada salah satu lubang telinganya, "Sial, Red Apple! Bukankah kau sudah memutus sensor keamanan?!" Alih-alih jawaban, si gadis malah mendengar bunyi tik tik tik yang sangat cepat dari microphone headset di kupingnya—orang dalam sambungan sedang melakukan sesuatu pada komputer-komputernya. "Aku baru mematikan yang sensor laser! Masih tersisa dua; satu sensor gerak di lantai, satu lagi sensor berat di kotak kacanya! Siapa suruh bertindak tanpa aba-aba dariku!" geram suara robot yang berat dan terdengar aneh itu. "Ugh, jangan berteriak dengan suara robot jel ek itu! Sudah berapa kali aku ingatkan! Kupingku jadi sakit setiap kau memakai suara itu, Red!" balas si gadis, sama sebalnya. "Sudah berapa kali kubilang, jangan mengejek software pengubah suara buatanku!" Si Suara Robot tidak mau kalah berargumen. Kemudian, di tengah riuh alarm yang masih berbunyi nyaring dan memekakkan telinga, terdengar derum belasan— puluhan langkah kaki dari luar pintu kayu yang tampak klasih sekaligus mewah dalam satu waktu itu. "Dua puluh dua orang mendekat ke arahmu!” kata Si Suara Robot. “Cepat keluar! Alarm itu pasti sudah sampai juga ke sistem pertahanan milik polisi!" Melepas mata dari salah satu layar komputernya, Si Suara Robot yang dipanggil Red Apple berubah berang. "Apa yang kau lakukan?!" tanyanya, saat mendapati sang rekan, si gadis berpakaian serba hitam, memutus tali. "Kau mau bunuh diri?!" "Aku tidak akan pergi tanpa kawat mahal ini!" Si gadis menaruh kedua telapaknya memeluk sisi-sisi kotak kaca. “Hei! Apa yang kau lakukan?! Cepat keluar!” perintah Si Suara Robot. NGUUUUUUNG!!! NGUUUUUUNG!!! NGUUUUUUNG!!! Alarm bising itu masih berbunyi, menegangkan situasi, dan mendatangkan sensasi aneh pada jantung si gadis berkepang dua—serta membuat jemari Si Suara Robot berkeringat gelisah. PRAANGG!! "Apa— Hei! Kau memecahkan kotak kacanya!" sorak Red Apple, entah senang entah tak mempercayai perbuatan si gadis yang mengangkat kotak kaca itu, kemudian melemparnya ke sembarang arah hingga jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, berserakan di lantai yang terang. "Sudah tidak ada guna lagi. Kan, isinya mau aku ambil," jawabnya, dengan gedikkan bahu dan nada santai tanpa beban. Terdengar gerutu pada biji microphone headset di telinganya, "Aku benar-benar tak bisa bekerja denganmu! Cepatlah keluar! Tiga mobil patroli polisi sudah di depan gerbang! Kalau kau tertangkap, aku bisa bahaya!" Tetapi si gadis mengabaikannya, lantas berhati-hati menangkup kawat separuh lingkaran yang tersemat puluhan batu-batu kecil di seluruhnya. Gerakan lambatnya itu membuat sang rekan geram. "Ayolah, Perempuan! Polisi dengan pistol-pistol besar sudah ada di lorong! Kau dikepung, dan aku tidak ada waktu untuk membantumu kabur jika kau tertangkap!" "Kau tahu? Kau sangat cerewet untuk ukuran laki-laki," kritik si gadis, menulikan telinga, terlalu takjub dengan kawat berkilau di kedua telapaknya. Matanya menatap mahkota berlian itu, seolah tersihir dengan kilauan-kilauan yang dipancarkannya, membuatnya lupa kalau saat ini hidupnya sedang dalam bahaya. "Sepertinya benda ini ternyata lebih berat dari beban hidupku." "Hei! Hei! Hei!" teriak Si Suara Robot tiba-tiba, merespons tangan si gadis yang membawa kawat mahal dan mewah itu ke atas kepalanya. "Jangan dipakai! Kau bisa membuat—" BRAAAK!!! Pintu kayu berbadan dua yang tampak tua dan memiliki sejarah panjang itu didobrak oleh belasan pria yang memakai helm khusus, tameng besi yang berbentuk setengah silinder di depan tubuh mereka, serta memegang pistol-pistol besar yang dibicarakan Si Suara Robot. Lalu pistol-pistol besar itu serentak diarahkan kepada penyusup berkepang dua yang sedang mencoba mahkota mahal yang tampak fantastis, mengagetkan tak hanya si gadis yang gerakannya terhenti, tetapi juga si pemilik bariton robot yang menonton lewat kamera pengawas di sudut ruangan. Kemudian, pertemuan antara mata sangar para pria berseragam pasukan khusus dengan mata si gadis yang membulat, terasa dramatis dan diperlambat. PRANG! Kling! Kling! Kling! Kling! Tergugu karena tertangkap basah, kawat mahal itu tergelincir dari jemari si gadis, jatuh menghantam lantai dengan batu-batu berkilaunya yang memantul-mantul dan berserakan di lantai, pecah dan copot dari mahkota yang sekarang teronggok di sebelah kaki bersepatu woman boots berwarna hitamnya. Di tengah hening yang tercipta sekian detik, terdengar suara dari microphone headset di telinganya, "…oke! Semoga berhasil, Kawan. Krrrrssskkk. Tuuuuuuuut!" Sambungan terputus. Gadis itu tahu. Red Apple sialan, batinnya. Dua detik dia tak berkedip karena bingung, kemudian kembali menatap para pria sangar yang berlindung dari tameng-tameng besi hanya karena seorang gadis sepertinya. Dia merespons tanpa dosa atas mahkota seharga langit yang baru saja dijatuhkannya—dirusakkannya. "Ups… apa kalian terima refund?" Dalam satu kedipan mata, mereka langsung berpencar masuk ke dalam ruangan dan meloncat ke arahnya, mengepung di setiap sudut, dan serentak mengacungkan pistol, membidik setiap sudut tubuh si gadis yang serba hitam seperti mereka itu. "Wow," sindir si gadis, segera mengangkat tangan seraya melirik wajah mereka satu-satu, tak lupa berputar 360 derajat. "Mengeroyok seorang gadis, nih?" Dia menggeleng, berusaha tenang di hadapan moncong pistol yang siap membunuhnya kapan saja itu. Red Apple sialan. Red Apple sialan. Red Apple sialan!! batinnya, menggeram. "Kalian pasti lahir hanya dengan sebelah biji," katanya tiba-tiba. “Emm… sebelah telur?” koreksinya, mengangkat kedua bahu. Si gadis tersentak saat lingkaran para pria itu mengecil—mereka mendekat penuh siaga dan tanpa suara. Red Apple sialan!! "Oh, maaf. Kalian tersinggung?" Kepalanya menyapa segala arah. Melihat celah dari mata mereka yang terlalu memaku pada gerakannya, si gadis tersenyum dalam topeng yang menyamarkan suara femininnya. Kemudian laung sirene-sirene polisi terdengar sayup dari luar, bertambah banyak dan ramai. Waktu yang pas, batinnya. BATS! Kedua tangannya mengambil benda mengilap berbentuk permen gagang berukuran besar dari kantung tactical vest miliknya dengan cepat, mengagetkan semua pria bersenjata itu. Tapi ketika sadar benda yang dipegang si gadis tidak biasa, malah kelihatan seperti permen lolipop besar atau mainan bayi, mereka saling menatap, kemudian menggeleng dan terkikik. Mereka kira, gadis pencuri itu ingin mengeluarkan pisau atau senjata lain yang bisa menyaingi pistol gagah mereka. Tetapi saat si gadis malah mengeluarkan benda aneh entah apa namanya, bukankah lucu? Sudah putus asa dan kehabisan ide untuk kabur, menurut mereka. "Jangan menertawakan kehebatan sains, sialan!" teriak si gadis. Jengkel diremehkan, dia segera melempar kedua bandul padat itu ke arah mereka. Beberapanya tanggap, langsung menembak benda yang mereka tertawakan itu. Ketika peluru mementalkan bandul ke arah berseberangan, percikan api tercipta dari permukaan permen besar itu, lalu membakar kulit silver mengilapnya, lantas asap putih keabu-abuan tercipta, semakin lama semakin banyak, padat, dan mengepul ke udara, memenuhi ruangan dan berakhir menutup pandangan mereka. "Kalian sungguhan punya dua telur?" Dia memakai kesempatan itu untuk mengambil kawat sangat mahal di dekat kakinya, lalu memasukkannya ke salah satu kantung pada tactival vest yang dia pakai. Sementara para pria terbatuk dan menembakkan peluru entah ke mana karena panik dan khawatir si pencuri akan kabur, atau saling menabrakkan kening karena asap putih itu terlalu tebal, seakan tidak terpengaruh oleh asap itu, si gadis menarik nunchaku berbahan kayu yang kedua ujungnya runcing seperti bentuk pisau dapur, yang dia selipkan pada tactical belt miliknya. Dia memutar-mutarkan nunchaku miliknya ke udara, menatap jeli siapa pun yang mendekat ke arahnya dalam asap yang makin menipis. Tiga-empat orang pun terlihat mendekat. Dia langsung sigap maju. "Kalau gitu…," dan tanpa ampun, dia berlari dan mengayunkan sebelah bilah kayunya ke leher lawan, tak lupa menendang pangkal paha lawannya kencang-kencang, "biar kupecahkan salah satunya, sialan!" Selanjutnya, ruangan itu diisi oleh pekikan menyedihkan para laki-laki yang kehilangan fungsi telurnya untuk sementara, tersungkur dengan lutut yang menyentuh lantai. Ketika beberapa anggota kepolisian lainnya tiba dengan raungan perintah untuk berhenti dan semacamnya, si gadis sudah loncat ke sisa tali di langit-langit, kabur membawa kawat berbatu mahal yang sudah tak lengkap itu lewat saluran udara, hanya meninggalkan suara tawa geli yang basah dan panjang. "Hyahaha!" *** Salah satu inspektur polisi mengabarkan kantor pusat lewat handy talky dari mobil patroli, diikuti oleh mobil-mobil lain yang berpencar menyisir setiap jalan dalam radius dua kilometer dari lokasi pencurian. "Kami kehilangan kontak! Pelaku sudah kabur membawa barang curian! Kami akan mencari jejak pelaku dan mengikutinya! Ulangi! Kami kehilangan kontak dengan Pretty Devil! Dan sedang dalam pengejaran! Meminta bantuan pada pos jaga di sekitar lokasi!" *** Hukum bukanlah keadilan. Ingatlah, hukum bukan satu-satunya cara untuk menciptakan keadilan, walau apa yang dilakukan si gadis pencuri yang para penegak keadilan serta para kaki tangannya panggil sebagai Pretty Devil adalah hal buruk yang tak patut ditiru. Namun, dalam kota raksasa yang penuh dengan dekadensi, satu-satunya cara bagi Pretty Devil untuk merebut keadilan, hanyalah mencuri. Akan tetapi, ada tujuan yang lebih serius di balik alasan aksi Pretty Devil. Dan alasan itu, membuat orang satu kota— bahkan satu negara ketar-ketir dengan kejahatannya. “Hyahaha!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN