Di tengah semarak Kota Tokyo yang penuh gula-gula, diam-diam kejahatan menggeliat dari bawah, mencari celah di antara pijakan para penegak hukum dan keadilan untuk menggantikan gemerlap kota dengan warna yang lebih indah—kekacauan.
Siapa pun yang memiliki gagasan gila, berterus terang turun ke jalan melaksanakan keributan dan kekacauan. Seorang amatir, boleh dibilang. Bermodal kenekatan dan akal yang sudah miring, boleh dikatakan. Dahulu, polisi tidak semolor itu untuk membiarkan kota kebanggaan negara mereka tergores sedikit saja.
Sirene mereka membanjiri langit Tokyo, menggertak para penjahat dengan dentuman pistol yang diledakkan ke angkasa dan ancaman yang dilantangkan lewat pengeras, demi menciutkan nyali tokoh antagonis negara dan menghentikan kebodohan mereka.
Beberapa kasus, sebagian dari orang bodoh itu tunduk dan mengikuti arahan polisi untuk menjatuhkan segala senjata tajam yang dipegangnya dan segera tiarap di tanah. Pengecut t***l yang terjepit keadaan, cap mereka.
Beberapanya lagi berbeda. Mereka lebih pintar dan memiliki harga diri seorang penjahat—atau tepatnya, terdesak tapi kepalang tanggung untuk tertangkap. Mereka menyambar sandera, mengacungkan sajam atau apa pun di leher sandera, lalu membalas ancaman polisi untuk membunuhnya demi kebebasan yang tidak pasti.
Sebagaimana tombak negara, polisi adalah tupai yang lebih pandai meloncat daripada pengecut t***l seperti mereka. Selagi saling menegosiasikan nyawa sandera dengan kebebasan, polisi-polisi yang baru datang segera bergerak sembunyi-sembunyi ke belakangnya, mengambil kesempatan saat si antagonis teralihkan. Dia lalu berakhiran sama—dibekuk dan ditahan.
Pada kasus yang lebih serius, kinerja protagonis negara tidak perlu dijabarkan lagi kesigapannya. Jika penjahat lebih dulu kabur dan bersembunyi di wilayah lain, kepolisian di sana akan merasa terhormat membantu polisi ibu kota.
Sinergi mereka tentulah membanggakan negara. Penjahat-penjahat kelas menengah saling menyumpali ruangan dingin, sempit, dan berkerak—penjara, tempat sebaik-baik mereka berada. Sementara para protagonis, dipuji warga, dan wajah mereka disesakkan dalam halaman utama koran berita.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kepolisian Metropolitan Tokyo kembali berhasil menjaring ikan busuk yang mencemari biota laut; peradaban ibu kota lantas diselimuti kedamaian dan rasa aman.
Masalah yang lebih banyak muncul adalah aksi ikan-ikan teri saja, dan itu pun tugas mudah bagi polisi untuk mengatasinya. Atau jika kasus besar terjadi, seperti penyeludupan nark0ba, penembakan antargeng, atau pembunuhan berencana, dengan kemajuan teknologi yang memudahkan investigasi, tidak akan memakan waktu lama bagi kedamaian berdiri kembali.
Namun, kedamaian sekali pun tak ubahnya sebuah konsep yang didasarkan atas situasi yang memiliki keterkaitan dengan hal-hal yang memeluknya. Dengan kata lain, jika kejahatan masih terjadi, maka kedamaian belum tercipta.
Kedamaian tidak akan terbentuk, selama kejahatan masih terjadi. Sedangkan, kejahatan dan tindakan kriminal tidak pernah berhenti, karena mereka bersembunyi di balik tangan orang-orang bernasib malang; yang sejatinya adalah manusia baik, tapi segala kondisi pahit menjerumuskan mereka masuk ke lorong gelap tanpa ujung—kejahatan.
Kejahatan tidak akan hilang, sebab itu adalah bagian dari paket kehidupan bernegara. Yang bisa dilakukan adalah mencegah kejahatan merajalela demi menciptakan kedamaian—walau sementara.
Kemudian, di sela-sela keseharian polisi Kepolisian Metropolitan Tokyo mengatur keamanan ibu kota, ledakan di Shibuya Crossing pun terjadi.
Malam itu, semua berjalan seperti semestinya; penyeberangan Shibuya Crossing selalu hiruk pikuk, pusat-pusat perbelanjaan ramai penuh, dan langit Shibuya dijejali berbagai jenis suara kegembiraan.
Malam itu segalanya terasa normal, seperti tidak ada bedanya dengan malam-malam penuh hiburan dan kesenangan sebelum-sebelumnya, bagi distrik yang tak pernah tidur seperti Shibuya.
Namun, suara ledakan di perut gedung mal Shibuya 109 seakan menjadi lonceng jam malam yang menyita seluruh perhatian orang, yang lantas menghentikan segala kegiatan—bukan untuk menyuruh pulang, cuci kaki, lalu tidur, melainkan untuk memulai paduan suara dan lari berhamburan—walau ada pula yang menyempatkan diri mengambil dokumentasi.
Polisi kebanggaan ibu kota berturut-turut mendatangi lokasi kejadian. Seraya dengan mereka, mobil-mobil merah panjang pemuntah air ikut tiba.
Mereka menciptakan harmoni, saling mengisi tugas masing-masing sesuai prosedur; membangun perimeter, menjauhkan sipil, memeriksa sekeliling mal, masuk menyelamatkan pengunjung, memanjangkan tangga, menyemprot api, mengamankan pengunjung mal yang berangsur keluar dari sana, serta saling melaporkan apa yang mereka saksikan lewat handy talky.
"Bagaimana keadaan di sana?"
"Api sedang dipadamkan."
"Pengunjung sedang diamankan."
"Tidak ada tanda-tanda mencurigakan."
"Semua aman."
Semua aman. Semuanya memang aman, sampai sebuah ledakan yang lebih besar menyusul dan melenyapkan kelegaan yang baru ditelan beberapa menit.
Dentuman dahsyat itu munculnya tiba-tiba, seperti biji jagung raksasa yang meletup menjadi popcorn. Kejadiannya tak bisa diikuti mata. Tiga detik setelah suara gaduh, keheningan menyela beberapa waktu, dan di antaranya terisi oleh keterkejutan yang membekukan syaraf tubuh.
Keping-keping kaca dan patahan bata beterbangan di udara. Waktu pun kembali berjalan, ketika beberapa orang sudah mampu merespons segalanya dengan kepanikan dan teriakan.
Terutama saat tubuh-tubuh manusia di dalamnya juga ikut melayang sebelum jatuh terbakar di antara kaki mereka, berserakan di jalanan.
Ketakutan memenuhi persimpangan bernobat terbesar di dunia—Shibuya Crossing—malam itu. Tubuh mereka riuh di jalanan, buyar berceceran seperti peradaban semut yang kabur kala sebuah kaki menginjak sarang mereka.
Teriakan dan raungan histeris memadati ruas-ruas jalan Shibuya Crossing, lalu semuanya berkumpul di darat, dan mengapung ke udara menjadi sebuah nyanyian horor sepanjang masa. Suara helikopter berita yang terbang di dekat sana bahkan kalah nyaring dengan mereka.
Handy talky berkisik, semua unit melapor, bertukar informasi, saling menyumpal spektrum frekuensi, lalu bersama-sama turun ke jantung Shibuya berbekal persenjataan dan peralatan lengkap.
Mobil pemadam kebakaran dikerahkan lebih banyak pula. Api kuning kemerahan itu tumbuh besar setelah ledakan barusan, berusaha menjadi dewasa dengan memakan tubuh gedung yang tersisa.
Keempat lalu lintas arteri jantung Distrik Shibuya berantakan. Polantas yang mengaturnya berusaha menjauhkan mobil-mobil dan bis dari tempat bermain para polisi dan petugas damkar dalam radius lima ratus meter atau lebih.
Helikopter berita mengudara dekat sekali dengan api, kedua moncong mereka hampir berciuman. Satu helikopter lain, milik polisi, mengusirnya sembari mengabarkan situasi lewat udara kepada seluruh unit.
Suasana menjadi padat dan tegang. Seluruh petak-petak jalan terasa sesak, terisi oleh auman-auman sirene mobil polisi dan damkar, gembar-gembor reporter berita di luar garis polisi, serta pekikan orang-orang yang menyaksikan pemadaman api.
Tatkala semua pihak menyayangkan kemalangan tersebut, nasib buruk belum berhenti mendatangi mereka.
Ledakan lain mengekor, masih pada gedung yang sama yang sedang dipadamkan, pada tiap-tiap lantai. Letusan itu memang kecil, tapi susul-menyusul, terjadi berkali-kali, dan terdengar seperti biji-biji jagung yang meledak-ledak menjadi sebungkus popcorn dalam tutup panci.
Ledakan kecil yang terjadi bersamaan, berhimpun menciptakan daya ledak yang sangat besar, bahkan lebih besar dari ledakan pertama dan kedua.
Tak ada yang bisa mengimbangi dengan gerakan badan. Mereka hanya mampu menganga sambil membulatkan mata. Pekikan tertahan melambung, tapi masih kalah nyaring dengan suara api yang mematah dan memakan struktur bangunan.
Api sudah tumbuh besar melebihi puncak gedung, memakan seluruh tubuhnya bulat-bulat. Sistem sprinkler pada langit-langit tiap lantai seolah tak mampu menahan pertumbuhannya.
Seakan tak puas, lidah-lidah api menyambar gedung di sebelahnya, memakan dengan sekali lahap, menyebar luas dalam satu kedipan mata.
Polisi bergerak cepat ketika kesadaran sudah berhasil diraih. Tetapi asap kebarakan sudah mengisi penuh kepala mereka—panik.
Mereka menghubungi perusahaan pembangkit listik untuk memadamkan listrik Distrik Shibuya agar tidak terjadi hubungan arus pendek juga korsleting.
Sempat ditentang, tetapi Kepala Polisi berteriak di telepon, berkata akan menyalahkan pimpinan perusahaan pembangkit listrik mereka, jika ledakan-ledakan lainnya meletus dan membakar seluruh jantung distrik, memanggang ribuan manusia hidup-hidup.
Telepon diputusnya setelah memuntahkan ancaman. Kemudian berpindah kepada kekalutan lain, beberapa anggotanya dan petugas damkar tumbang ketika mengevakuasi korban selamat yang turun lewat pintu darurat.
Segalanya ramai sekali, ribut, keruh, pengap, panas, dan berasap—tak terkendali. Api menjelma menjadi monster raksasa bergerigi yang menyeramkan dan tak mempan dipadamkan.
Pemadam kebakaran lainnya datang mengemudikan mobil berisi puluhan ribu liter air, bergegas mencari posisi, memanjangkan slang, lalu menembakkan air bersama-sama.
Helikopter milik dinas pemadam kebakaran menari di langit, turut membantu, menumpahkan air dalam kantung yang terjulur di bawah badan setelah mendapat persetujuan ketua mereka.
Tetapi rasanya percuma saja, karena monster merah itu tak kunjung takluk. Tubuhnya memeluk erat gedung-gedung raksasa, melumat dalam sekali teguk.
Kepala polisi geram, tak sabaran menunggu tindakan orang-orang perusahaan pembangkit listrik.
Walau dengan berbagai pertentangan, listrik di Distrik Shibuya harus dimatikan supaya api tidak memakan kabel-kabel listrik, generator cadangan dan pipa gas, kemudian malah bertambah besar. Salah-salah, semua usaha mereka akan berakhir sia-sia.
Selama belasan menit, petugas pemadam kebakaran dan polisi masih mencoba memadamkan api, mencari kemungkinan korban selamat, serta mengamankan perimeter dari sipil.
Gemuruh kembali terdengar dari dalam api. Seluruh perabotan rumah tangga dan elektronik di dalam mal sepertinya bukan hidangan penutup. Monster itu masih mau makan lagi.
Kebakaran lalu merembet ke mana-mana. Air yang ditumpahguyurkan kepadanya seolah menjadi bensin; antara membuatnya semakin gagah, ataupun tak berpengaruh apa-apa—semakin meluas.
Dua gedung, tiga gedung, tiga setengah gedung, lalu empat gedung habis dilumat api. Asapnya bergoyang-goyang, seperti jambul mohawk superpanjang yang meleyot ke sana-kemari terkena angin.
Tak mampu menahan amarah, Kepala Polisi mengumpat di telepon, membentak Direktur Perusahaan Pembangkit Listrik untuk segera mematikan listrik sebelum terjadi arus pendek, atau korsleting, atau ledakan pipa gas yang dampaknya jauh lebih hebat dari ini.
Di detik kelima belas, tanpa diberi kesempatan untuk membantah, dengan keringat dingin dan macam-macam pikiran, direktur itu akhirnya mengangguk lemah, menyuruh pegawai-pegawainya untuk melakukan pemadaman listrik total di satu distrik.
Telepon diputus. Kepala Polisi menunggu dengan harap-harap cemas, menyibukkan tangan, kaki, dan pikirannya pada upaya membantu anak-anak buahnya.
Satu menit yang dijanjikan Direktur Perusahaan Pembangkit Listrik untuk mempersiapkan pemadaman terasa lama. Usaha memadamkan monster api pun terasa selamanya.
Tak pernah terbayang oleh sesiapa pun dari mereka, bahwa enam puluh detik akan terasa sesak dan mencekik napas. Terlebih para petugas damkar, yang khawatir lidah api sudah menjilat generator-generator—nyawa kedua sebuah gedung—dan akan meledakkan semuanya.
Sepuluh detik, lima detik, tiga, dua, satu detik. Sang Direktur menepati janjinya. Shibuya diliputi kegelapan. Cahaya putih, biru, merah, dan kelap-kelip yang memenuhi Shibuya malam itu sekejap padam dan sunyi.
Permintaannya dituruti, tetapi Kepala Polisi tidak mengambil tindakan apa-apa. Bukan disengaja, berhubung seluruh mata melakukan hal yang sama; termangu tanpa berkata apa-apa, menonton tarian monster merah raksasa yang naik-turun dan ke kiri-ke kanan dibawa embusan angin di tengah kegelapan.
Mereka tak pernah menyangka, bahkan Kepala Polisi sekali pun, bahwa dengan dilumpuhkannya listrik dan cahaya, kebakaran dahsyat itu terasa lebih mencekat dan menyeramkan.
Langit malam tak dapat lebih horor, ketimbang nyalang merah api superbesar yang menjadi selimut empat gedung bertetangga yang terbakar dan menerangi seluruh jalanan Shibuya Crossing.
Tepat tengah malam, seluruh sudut Distrik Shibuya dikungkung kegelapan. Namun, Shibuya tetap meriah dengan teriakan para korban yang terjebak di dalam gedung, juga oleh cahaya merah galak dan terang yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di sana.
Api kebakaran itu bermetafora sebagai matahari di tengah malam. Menyinari kegelapan kota, bukan untuk membawa harapan, tetapi merenggut kehidupan dan memanggang orang-orang.
Langit Shibuya dipenuhi oleh asap abu-abu kehitaman yang panjang. Lidah-lidah api menjilat langit, dan cahayanya dapat dilihat dari jarak beratus-ratus meter jauhnya.
Polisi dan petugas damkar tergugu menatap kengerian di depan mata. Semua orang hanya bisa menyaksikan. Angin menerbangkan bau aneh ke hidung semua orang. Segala macam aroma tercampur jadi satu.
Bau asap, bau besi terbakar, bau gas, serta bau daging gosong yang semua orang tahu dari apa asalnya. Dan tentu, bau itu akan tertancap di ingatan semua orang, bahkan teringat ketika memasuki restoran-restoran barbeku.
Kebakaran baru padam setelah lima jam kemudian, dengan total seluruh proses pemadaman kurang lebih enam jam, sampai matahari yang sesungguhnya hampir mengintip di sudut bumi.
Dari empat gedung yang terbakar, hanya satu yang mengalami tingkat kebakaran ringan. Sedang tiga yang lain, padam dengan kondisi hangus, hitam, dan sudah tinggal tulang-tulang kerangka saja.
Asap tipis keabu-abuan masih membenang ke langit. Seluruh jalanan basah dan berarang, dan penuh dengan puing-puing kayu, bata, dan lainnya.
Polisi dan petugas damkar berwajah penat dan lelah, tak sekali pun merasa lega, karena masih harus menemukan, mengumpulkan, dan mengidentifikasi bangkai-bangkai hitam dan gosong di sepanjang bangunan—melanjutkan pekerjaan.
Di dalam sana, petugas-petugas polisi melihat benda hitam panjang yang saling bertumpukan. Bagaikan barang tak berguna, sampah yang harus dibuang, sisa-sisa tubuh manusia hangus itu tertimbun di berbagai tempat; basah, lembek, legam, hancur, dan berbau perengus.
Tubuh mereka terbaring di halaman seluruh muka koran nasional, bahkan menyebar ke negara-negara tetangga, menjadi topik utama yang ditonton dan dibaca jutaan manusia.
Tajuk utama kebakaran hebat yang sudah terbang ke berbagai negara itu mereka beri nama Insiden Malam Merah. Sebab menurut video-video yang membanjiri internet, segalanya yang berwarna hitam; langit malam, gedung dan jalanan gelap lantaran pemadaman total, tampak seperti sebuah kengerian berbalut pembantai4n, karena terdengar suara lolongan minta tolong dan teriakan panjang di tengah kobaran api merah raksasa.
Jepang berduka. Ledakan dan kebakaran itu memakan lima ratus korban jiwa, termasuk petugas-petugas yang gugur ketika mengabdikan dirinya pada negara.
Total kerugian mencapai miliaran juta yen. Tiga gedung tetangga bahkan menuntut ganti rugi kepada Akai Corporation—korporasi yang mengelola mal Shibuya 109. Pemerintah juga mendesak korporasi tersebut untuk menyantuni korban kebakaran secepatnya.
Belum lagi, tempat-tempat usaha lain dalam radius ratusan meter dari TKP juga terdampak pemadaman listrik selama lima jam, terpaksa menelan kerugian.
Lebih-lebih dari perkara uang, masyarakat satu negara menuntut pemerintah untuk segera melakukan investigasi. Karena beberapa orang bersaksi, bahwa mereka melihat ada orang-orang berpakaian serba hitam membawa tas besar ke dalam mal.
Ada pula yang bersaksi melihat mobil mencurigakan terparkir di sebelah mal, atau orang aneh yang membawa-bawa koper hitam ke dalam gedung, dan seterusnya, dan seterusnya.
Polisi membentuk tim penyelidikan khusus. Satu mengumpulkan bukti. Satu mengidentifikasi ratusan tubuh gosong. Satu mencari saksi. Satu meredam reporter dan media massa, mencegah kepanikan dan menekan rumor miring. Satu mengurusi tawaran bantuan tangan kepolisian internasional. Dan yang lainnya mengamankan TKP untuk beberapa waktu.
Keadaan tak lebih menguntungkan proses penyelidikan, saat keluarga-keluarga korban, aktivis, dan para pendukung turun ke jalan. Bukan untuk menuntut hal-hal lain—karena segalanya sedang diusahakan—tapi untuk menaruh lilin, bunga, dan dupa di pinggir-pinggir jalan, berkabung atas kehilangan.
Penyelidikan berlangsung berhari-hari. Lalu menjadi berminggu-minggu. Lalu berbulan-bulan. Lalu satu tahun telah berlalu.
Yang didapatkan dari penyelidikan satu tahun cukup banyak dan berguna. Dari bukti patahan struktur bangunan dan bubuk-bubuk mesiu yang tertinggal, polisi dapat menyimpulkan, bahwa api tercipta dari ledakan di bilik toilet laki-laki.
Membakar dan menghancurkan puluhan meter ruangan, sayangnya api cepat merambat ke segala tempat, karena tujuh puluh persen isi mal adalah toko pakaian.
Kabel pada panel sistem sprinkler dan kontrol panel alarm kebakaran sengaja dipotong, diputus, dirusak, atau apalah, membuat keduanya tidak berfungsi menerima tanda-tanda kebakaran, seperti asap, suhu yang memanas, dan lainnya untuk mencegah rambatan api.
Puluhan orang memang cepat bertindak, turun melalui tangga darurat. Namun malangnya, hanya belasan dari mereka yang selamat, karena ledakan-ledakan lain saling menyusul ke berbagai titik yang berdekatan.
Polisi sampai pada gagasan, bahwa Insiden Malam Merah dimulai dan disebabkan oleh bom TNT yang diletakkan di banyak tempat di dalam gedung mal. Pengeboman itu diduga ulah kelompok teroris yang belum jelas apa motifnya.
Kemudian seluruh korban berhasil diketahui identitasnya. Sebagian karena kartu identitas dalam tas atau dompet yang tidak dalam kondisi baik yang mereka bawa, sebagian lagi lewat uji DNA dan sebagainya.
Tetapi, penyelidikan polisi tidak berhenti sampai di situ. Pemerintah menginginkan kasus ini diusut sampai akar masalah tercabut tuntas.
Mereka bertekad mengirim keparatt-keparatt sialan yang melecehkan negara mereka mendekam di penjara. Lebih dari itu, menurut hukum di sana, mereka akan dihukum mati.
Namun, entah disengaja atau tidak, entah teroris pengeboman tersebut cerdas atau hanya kebetulan semata, bukti terkuat berupa rekaman CCTV terhapus seluruhnya, tidak meninggalkan satu pun data dalam tiga bulan belakangan.
Padahal, bukti berupa gambar bergerak itu dapat sangat membantu penyelidikan polisi; melihat wajah-wajah mencurigakan, tindakan-tindakan yang bukan menunjukkan seorang pengunjung, aktivitas tidak biasa, serta kejanggalan-kejanggalan lainnya.
Setengah putus asa, polisi meminta perusahaan sistem keamanan yang dipakai Akai Corporation untuk mem-back up data cadangan mereka yang tersimpan dalam database, demi menerangi setapak jalan gelap, supaya penyelidikan mendapatkan titik terang.
Menyanggupi meski tak mampu memberi janji, Ring-O Security bersedia melakukannya. Meski begitu, penyelidikan melempem selama beberapa minggu. Tetapi, Kepolisian Metropolitan Tokyo rupanya tidak sebegitu molor untuk membiarkan kedamaian dalam kota istimewa negaranya terganggu.
Kedamaian harus kembali dihadirkan. Masyarakat harus kembali merasa aman. Demi mewujudkannya, mereka melakukan apa pun yang dapat mereka kerjakan.
Entah mengulik kembali satu per satu bukti. Entah mendatangi rumah para korban, lalu menanyakan dengan siapa mereka pergi, dengan keperluan apa mereka ke sana, atau dengan siapa mereka bergaul berhari-hari sebelum insiden itu.
Entah pula memeriksa CCTV gedung-gedung lain, kamera lalu lintas, bahkan menanyakan pemilik-pemilik kafe dan toko di sekitar persimpangan Shibuya, demi mendekat kepada para terduga teroris.
Usaha mereka dipuji, dihargai, dan didukung oleh setiap pejalan kaki yang acap kali bertemu dengan mereka ketika sedang menyisir berbagai saksi dan toko.
Akan tetapi, ketika matahari berganti bulan, lalu bulan berganti matahari, dan matahari berganti bulan untuk belasan kali, kapabilitas mereka mulai disangsikan, tatkala membawa nihil petunjuk baru untuk disampaikan.
Tidak ada kabar manis pula dari Ring-O Security. Semua pihak menyetor tangan kosong kepada polisi. Penyelidikan berakhir buntu, tidak berjalan lancar dan serat bukti.
Bersama keluarga korban, para aktivis menyuarakan kekecewaannya di depan gedung Kepolisian Metropolitan Tokyo, meminta keadilan untuk para korban. Di luar pagar gedung pemerintahan juga ramai mereka guncang.
Kegeraman mencapai puncaknya, ketika belasan hari berselang tanpa kemajuan. Kemudian menjadi hitungan minggu. Lalu satu bulan berlalu begitu saja. Lalu menjadi dua bulan, tiga bulan, empat bulan, kemudian menjadi belasan bulan. Hingga tak terasa sudah tiga tahun berlalu sejak Insiden Malah Merah itu.
Polisi menjadi molor. Mereka dicap tak jauh berbeda dengan pecundang-pecundang t***l.
Buruknya pandangan para sipil terhadap mereka bukan tanpa alasan, karena sementara polisi terombang-ambing mencari bukti, kebingungan akan terbatasnya data, para penjahat berbagai kelas melancarkan aksi, mencuri kesempatan atas lalainya pergerakan polisi.
Mulanya kejahatan kecil, seperti vandalisme dan pencurian. Kemudian pembobolan rumah mewah. Lalu peramp0kan bank. Lantas semakin menggila menjadi aksi penculikan anak dan pembunuhan.
Dahulu, polisi—Kepolisian Metropolitan Tokyo—tidak semolor itu untuk membiarkan kota kebanggaan negara mereka tergores sedikit saja.
Sirene mereka—Kepolisian Metropolitan Tokyo—membanjiri langit Tokyo, menggertak para penjahat dengan pistol dan ancaman yang dilantangkan di speaker, demi menciutkan nyali tokoh antagonis negara dan menghentikan kebodohan mereka.
Namun sekarang, polisi tak alihnya sekadar jabatan semata. Kemampuan mereka dipertanyakan. Kinerja mereka disangsikan. Kehadiran mereka diragukan. Dan kehormatan mereka dipecundangi pelaku kejahatan.
Insiden Malam Merah merampas segalanya; nyawa manusia, ketentraman, rasa aman, kedamaian, bahkan harga diri polisi Kepolisian Metropolitan Tokyo.
Sejak insiden mengerikan itu terjadi, bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya hanya diisi oleh kejahatan dan kebiadaban manusia.
Segala hal buruk terjadi. Berbagai jenis kejahatan menambal seluk-beluk penjuru jalan. Berbagai macam dosa membanjiri tiap-tiap sudutnya. Dan bau busuknya tercium kuat di mana-mana. Agaknya, tiada sisa ruang lagi untuk hal selain kebejatan.
Borok di jantung Distrik Shibuya seakan menjadi penanda, bahwa hukum dan keadilan sudah tidak lagi berkuasa. Luka bakar dan kegosongan gedung-gedung itu seakan menyulut api kekacauan lain setelahnya.
Penjara sudah bukan lagi tempat sebaik-baik pelaku kriminal, melainkan nadi-nadi kota Tokyo. Jalanan-jalanan ibu kota sudah tidak lagi diisi gemerlap dan gula-gula, tetapi dipadati dengan bau busuk, dosa, dan dekadensi.
Tokyo hampir runtuh oleh kemerosotan hukum dan bengkoknya keamanan. Tokyo hampir penuh oleh para pendosa yang menampakkan diri gila-gilaan.
Insiden itu bagaikan celah yang dinanti-nanti oleh para kriminal sejak lama. Tanah subur yang katanya berisi keadilan dan bunga kedamaian, dihancurratakan dalam sekali guncang.
Saat inilah, waktu paling tepat untuk melampiaskan segala ketidakadilan dan kesenjangan hidup yang dirasakan kelompok-kelompok yang disisihkan oleh pemerintah dan para penegak hukum dari wajah keadilan.
Barangkali karena kasus sengketa tanah pribadi yang kalah oleh orang-orang korporasi.
Bisa jadi karena kasus penipuan uang oleh broker milik perusahaan ternama.
Boleh jadi karena penegak hukum yang tidak mengganjar para penjahat yang merugikan keluarga-keluarga mereka dengan ganjaran yang semestinya.
Apa pun kasusnya, besar maupun kecil, tujuan mereka tetaplah sama; meraih janji keadilan yang tidak dapat para penegak hukum datangkan kepada mereka.
Tokoh utama kita, Nakayama Anzu, tidak menyukai gagasan itu. Bukan, bukan berarti tidak setuju terhadap bagian "meraih janji keadilan".
Hanya saja, Nakayama Anzu memiliki sebutan lain—masih satu konsep—atas taktiknya menggapai keadilan:
"Jika mereka tidak mendatangkan keadilan untukmu, maka rampaslah keadilan dengan caramu."
Dan segala apa pun yang Nakayama Anzu lakukan, baik maupun buruk, percayalah bahwa semuanya demi merengkuh keadilan.
Bahkan dalam keadaan yang membingungkan, percayalah padanya, walau hukum lebih banyak berpihak kepada orang-orang yang berkuasa.
Maka anggap saja, hal-hal yang diperbuatnya nanti adalah upaya untuk naik ke anak tangga yang lebih tinggi, demi memegang kendali atas banyak hal—berkuasa.
Tetapi, ingatlah, bahwa hukum bukanlah keadilan. Hukum hanya salah satu usaha untuk meraih keadilan. Dan hukum bukanlah satu-satunya cara menciptakan keadilan.