Nakayama Anzu menyeberang, sedikit berjingkrak-jingkrak karean senang. Dia berlari kecil, dan tak lupa menyengir lebar hingga giginya terasa kering. Bahkan saat dia menabrak orang, atau disenggol orang, Nakayama Anzu tak terlalu memikirkannya. Dia sibuk cengar-cengir seperti orang sinting. Tiba di depan pintu kafe, Nakayama Anzu berdiri sejenak untuk mengagumi pemandangan bangunan arsitektur yang mempunyai suasana lembut dan modern. Kafe besar yang estetik itu memiliki ruangan indoor dan outdoor, serta lampu-lampu kelap-kelip, ada di hadapan wajahnya. Nakayama Anzu mendongak, menaruh telapaknya di depan alis, menepis silau matahari, membaca plang nama kafe yang bertulis sambung; Morning Light. Nama yang bagus, batinnya. "Open," Nakayama Anzu membaca papan putih yang mencantel di pintu k

