Sebuah panggilan dari sang kakak kelas didengar oleh Gibran. Ya, panggilan itu sejatinya juga ditujukan kepadanya selaku ketua kelompok. Ia tak tahu maksud dari kakak kelasnya itu memanggilnya untuk urusan apa. Tapi yang pasti, dia cuma harus menurutinya saja. "Ada apa, Kak?" tanya Gibran. "Waktu sudah habis. Cepat kumpulin kerjaan kelompok kamu!" perintahnya. Gibran memandang sang kakak kelas dengan sangat malas. "Kenapa gak dari tadi sih, Kak, bilangnya? Kalau kayak gini kan jadinya saya harus bolak-balik. Kan capek," protes Gibran. "Udah gak usah banyak protes! Cepat laksanakan!" perintahnya. "Ya," jawab Gibran sok cuek. Gibran semakin yakin bahwa kegiatan penjelajahan ini semata-mata hanyalah trik para kakak kelas untuk membuatnya menderita saja. Pasalnya ia merasa di setiap pos,

