Sungguh luar biasa. Cara dia dalam mencari muka benar-benar hebat. Di depan berkata seperti itu, di belakang berkata lain. Itulah Gibran. Cerdik, tapi sayangnya dalam hal yang buruk. "Kamu benar-benar luar biasa, Gibran. Ngomong-ngomong, teman kamu yang mengantar kamu ke UKS tadi ke mana?" tanya Pak Alif. "Ke toilet, Pak. Kebelet kali, dia," jawab Gibran. "Nanti juga dia ke sini," lanjutnya. "Oh. Ya udah, kamu ikut ke sana aja. Kumpul sama teman-teman kamu. Tapi ingat! Kalau pusingnya kerasa lagi, jangan dipaksain!" ucap Pak Alif. "Siap, Pak." Tak ada kecurigaan sama sekali. Pak Alif terlalu polos untuk menghadapi orang selicik Gibran. Gibran pun bisa dengan bebas mengelabuhi dia. Ia akhirnya ikut masuk ke dalam salah satu tim di permainan sepak bola dengan gawang yang kecil itu. Lu

