Hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit, namun sosok Fandi dan Jose tidak terlihat di mana pun. Hanya Arvino dan Ruka yang berdiri gelisah di depan pintu UGD, seolah setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk. “Di mana Kak Fandi dan Jose?” tanya Kei, napasnya masih memburu. “Jose membawa Tuan Muda untuk mengobati luka-lukanya,” jawab Arvino lirih. “Epi masih di dalam… dokter belum memberi kabar apa pun.” Rami menatap lantai, rahangnya mengeras. “Ada yang tidak beres. Kecelakaan itu terlalu parah untuk disebut musibah biasa. Mobilnya hancur dari segala sisi—depan, belakang, samping. Ini bukan hilang kendali. Dan Kak Fandi… dia bukan orang sembarangan dalam mengemudi. Dia pasti tahu bagaimana menyelamatkan diri.” “Aku juga merasakannya,” balas Arvino. “Tapi tadi… kami terlalu pani

