“Iya, Paman… begitulah,” ujar Fandi pelan. “Jadi kamu mengambil kasus itu karena ingin menyelesaikannya?” tanya Atha. “Iya. Ayah dan yang lain sudah tahu, tapi Epi tidak. Aku sengaja tidak memberi tahu agar dia fokus pemulihan dulu,” jelas Fandi. Atha mengangguk tipis. “Memang sebaiknya begitu. Tapi berbohong juga tidak baik. Lebih baik kamu katakan yang jujur. Dia pasti mengerti, dan dia juga tidak akan ikut.” “Iya, Ayah. Nanti aku akan bicara jujur padanya,” balas Fandi. Fandi pun naik ke atas, membawa sarapan untuk gadis itu. Klik. Pintu dibuka. Fandi masuk dan melihat Epi sudah rapi, baru selesai mandi. Wajahnya tampak segar. “Wah, sudah cantik ya,” goda Fandi sambil tersenyum. Epi hanya mengangguk santai. Fandi mendekat, meletakkan nampan sarapan di meja. “Ayo sarapan dulu.”

