Kembali ke balkon. Fandi menggenggam tangan gadis itu, lalu menempelkannya ke dadanya sendiri. “Kamu nggak ngantuk?” tanya Fandi pelan. “Sedikit…” jawab Epi sambil menguap kecil. Fandi tersenyum, lalu menarik tubuh Epi lebih dekat, meletakkan kepala gadis itu di dadanya. “Tidur di sini juga enak. Anginnya sejuk,” katanya lembut. “Kamu sendiri nggak mau tidur?” tanya Epi setengah sadar. “Aku tidur kalau kamu sudah tidur,” jawab Fandi sambil tersenyum. Epi mendengus pelan. “Kalau gitu kamu masuk kamar saja. Aku juga mau balik ke kamar.” “Gimana kalau kita tidur di sini?” usul Fandi. “Jangan gila. Nanti masuk angin,” protes Epi. “Tapi anginnya enak… apalagi kalau sama kamu,” Fandi tersenyum manis. “Bangun-bangun badan kita malah sakit semua,” gumam Epi. Fandi menghela napas kecil

