Rora benar-benar geram malam itu—begitu juga Rami, Ruka, dan Asa. Amarah mereka menguap di udara seperti bara yang siap menyambar. “Kita harus menyusun rencana secepatnya. Kali ini tidak ada ampunan untuk Mega,” desis Asa, rahangnya mengeras. “Aku sungguh akan membuatnya menyesal atas semua yang dia lakukan.” “Kau benar,” sambung Rora, matanya menyipit penuh dendam. “Wanita itu harus dihabisi.” “Tapi kalian dengar sendiri,” ujar Ruka, mencoba tetap berpikir jernih. “Ada nama lain. Elara. Dan dia bukan dari negara ini.” Rami mendesis pelan. “Apa Mega sampai menyewa pembunuh bayaran dari luar negeri?” Rora menertawakan itu, namun tawanya dingin dan penuh bara. “Hahaha… menyedihkan sekali. Untuk menjatuhkan kita saja harus menyewa orang luar.” Jose mengangkat tangannya, berusaha menenan

