Mereka semakin mendekat, semua anggota geng motor bersiap dengan senjata masing-masing. Rora melirik jajaran anak buah geng motor itu, jemarinya mengencang pada gagang katana. “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10… 20… 30… 40… wah kacang ini. Aku bisa membunuh 20 orang seorang diri.” kata Rora santai, bahkan tersenyum menantang. “Sombong kau!” balas salah satu anggota geng motor, geram. “Sombong sama orang sombong itu sedekah, bodoh! Tidak tahu ya? Makanya sekolah yang benar biar pinter. Jangan jadi geng motor! Motor kredit aja bangga…” jawab Rora sambil mendecak geli. “Tau dari mana kau motor mereka kredit?” tanya Kei sambil pura-pura berbisik. “Kau juga, Kei. Lihat tuh tampang mereka, tampang pengangguran semua! Hahaha…” Rora tertawa, seolah suasana genting tak ada artinya. “b******k! Se

