Ban mobil berdecit ketika Rora mengerem mendadak. Suara itu menggema di area depan rumah sakit yang sepi. Rora menoleh ke belakang, tatapannya datar namun tegas. “Turun…” ucapnya datar. “Apa?” wanita itu bingung, tubuhnya sedikit mundur. “Turun. Ini sudah di rumah sakit. Jika kau butuh perlindungan, lapor polisi,” ucap Rora sambil tetap melihat ke belakang, nada suaranya tak memberi ruang tawar-menawar. “Tapi aku takut…” suara wanita itu gemetar. Asa mencondongkan tubuh. “Siapa namamu?” “Sahara, kak…” “Sahara… kalau kau takut, lapor polisi. Sebaiknya kamu turun, obati lukamu. Dari sini kamu bisa minta tolong sama perawat atau dokter untuk menghubungi polisi,” kata Asa lembut namun jelas. “B-baik… terima kasih…” Sahara turun dengan berat hati. Pintu mobil tertutup. BRUAAAKK— Rora

