BERTASBIHLAH

1640 Kata

“Qis …,” panggil Mustafidz. Dia menatap jalanan yang masih sesak. Aku diam, kubiarkan dia menyelesaikan kalimatnya sendiri. Di sini tempat kami memutuskan hubungan dulu. Dan aku ingin tahu kenapa dia mengajakku berbicara kembali setelah kemarin dia bersikap cuek secuek-cueknya. “Sorbanku belum kau kembalikan,” celetuk Mustafidz. Aku melongo. Really? Dia mengajakku kemari hanya untuk membicarakan masalah sorban yang belum dikembalikan. Sorban itu tidak aku bawa loh. Salah siapa kemarin main asal ninggalin aja. “Mana?” tambah Mustafidz. Kali ini dia menatapku sembari menjulurkan tangannya. Aku berdecak sebal. “Seriusan kamu ngajak aku ngobrol cuma buat nanyain sorban? Kenapa nggak bilang dari awal kalau mau mengambil sorban. Kan sorbannya nggak aku bawa.” Mustafidz tersenyum lalu terke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN