Lagi dan lagi, aku berbuka puasa bareng Vika. Kali ini di indekosnya. Dia dapat banyak makanan dari Mas Habib katanya. Dia tidak makan sama calon suaminya itu karena Mas Habib ada perjalan bisnis. Yah … apa pun itu alasannya, yang penting aku dapat makanan gratis. Lumayan untuk mengurangi pengeluaran bulanan. “Tahu nggak tadi Sagara nyariin lo di kantor,” celetuk Vika. Aku yang sedang minum pun sampai tersedak. Buru-buru aku minum kembali. “Seriusan? Buat apa?” tanyaku. Vika mengedikkan bahu. “Aku cuma selintas doang liat pas di lobi. Dia tanya satpam lalu satpam tanya ke resepsionis.” “Terus dia pergi?” Vika mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah ayam bakar serta nasi yang masih mengepul. Mas Habib sengaja memesankan grab food tepat setengah jam sebelum buka. Jujur aku iri. Kapan aku

