BERTARUNG

2302 Kata

Aku berjalan seusai ditinggalkan oleh Mustafidz. Benar dugaanku. Dengan adanya cincin di jari manis tangan kananku, pikiranku tambah penuh. Aku sama sekali tak mengantuk kali ini. Pikiranku penuh, tentu saja. Siapa juga yang tidak akan kepikiran jika cintanya akan kandas sedalam ini. Bukan hanya itu saja, meski sakit, tapi Mustafidz mulai bisa tegar menghadapinya. Aku melangkah ke tepi sungai di Kota Tua dan duduk di salah satu bangkunya. Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Semua bangku di sini sudah sepi. Hanya ada aku dan bulan yang bersinar makin terang di atas sana. Alam sudah hening. Suara-suara tadarus juga sudah tiada. Pemerintah yang mengatur tadarus tidak boleh pakai pengeras di atas jam sepuluh membuat alam kian sepi. Aku pun mengembuskan napas lantas memandang langit.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN