Alesya menghela napas lelah. Ia mendaratkan bokongnya pada kursi yang ada di tempat kerjanya. Wajah wanita itu masih memerah dengan napas memburu. Alesya menumpu kedua sikunya di atas meja kerjanya. Menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Ia kembali menghela napas dengan berat. Kenapa pria tampan itu selalu mengganggu harinya? Dewi batinnya berteriak. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya menelungkupkan wajah cantiknya, berharap rona merah di wajahnya segera menghilang. Sungguh ini memalukan! Pikiran Alesya menerawang, kembali mengingat kejadian di ruangan Kent. Baru saja, Kent kembali men-cap dirinya bahwa Alesya milik pria itu. Dan entah kenapa itu membuat jantung Alesya berpacu dua kali lipat dari biasanya. Wanita itu yakin bahwa pipinya sangat merah. Ia tak dapat berbuat apap

