Part 14

1262 Kata
Alesya terlihat sedang berbaring dengan malas sambil membaca novel tebal dihadapannya. Alesya memang memiliki satu kebiasaan buruk, ia suka membaca dimanapun walaupun dalam keadaan gelap. Kebiasaan itu membuat ia sering kali pusing ketika melakukan suatu pekerjaan. Hari sudah larut malam. Tapi Alinisya tetap belum kembali. Alesya kesal setiap memikirkan hal itu. Tentu saja Alinisya dan Kent sedang bersenang – senang sekarang. Tak berapa lama ia memikirkan Alinisya, terdengar suara pintu apartemennya terbuka. Alinisya datang dengan senyum merekah di wajahnya. Sedangkan Alesya hanya mendelik tidak suka melihatnya, namun sepertinya adiknya itu tak menyadari tatapan tak suka yang dilemparkannya. “Hai, Kak, aku kira kau sudah tidur,” sapanya seraya menyimpan tas kecil yang sedari tadi bertengger di salah satu bahunya pada nakas dekat tempat tidur. Alesya tak berniat menjawabnya dan kembali membaca novelnya. Alinisya menghela napas panjang, ia sudah terbiasa dengan ketidakpedulian kakaknya ini. “Kak, aku ingin bercerita,” ucap Alinisya seraya menaiki tempat tidur. Ia seperti anak kecil yang ingin mengatakan sesuatu pada ibunya. “Aku makan malam dengan Kent Putra Wijaya dan itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan.” Seolah sudah tahu apa yang ada dipikiran Alinisya, Alesya menjawab dengan cepat. Alinisya tersenyum geli mendengarnya. “Yap! Dan kakak tahu, dia benar – benar sangat tampan dengan setelan jasnya dan tangannya benar – benar pas di genggaman tanganku, Oh Ya Tuhan.... bibirnya saja masih terasa di bibirku ini,” ucap Alinisya panjang lebar dan diakhiri dengan ia yang menyantuh bibirnya. Alesya melotot tak percaya. Adiknya menggenggam tangan Kent? oh bukan itu... menciumnya? What the hell! “Kau menciumnya, Ali?!” tanya Alesya sedikit berteriak. Alinisya hanya mengangguk polos. Itu membuat Alesya menghela napas panjang. Ia semakin kesal dengan semua ini. Alesya segera menutup novelnya dan membalikkan tubuhnya memunggungi Alinisya. “Kak, aku belum selesai cerita,” ujar Alinisya sambil menggoyang – goyangkan tubuh Alesya yang memunggunginya. “Aku mengantuk,” ucap Alesya dengan ketus. Entah mengapa ia sebal mendengar bahwa Alinisya mencium Kent. Ia tidak tahu mengapa .Bloody hell... bibir yang sama yang ia menciumnya beberapa hari lalu. Dasar bodoh! Walau pria itu tak tahu yang sebenarnya, tapi tetap saja ia merasa kesal. Apa aku sudah mulai mencintainya? batin Alesya. Ia berpikiran seperti itu karena ia mengingat ucapan Kent tempo hari yang men-cap Alesya miliknya. Dan di kantor pun pria itu selalu menggodanya. Tentu saja Alesya tak salah bila berpikiran seperti itu ‘ kan? Alesya merasa ada seseorang yang berbaring di pinggrinya. Ia memutar badannya, terlihat Alinisya berbaring di sebelahnya. Wanita itu sudah mengganti bajunya menggunakan piyama milik Alesya. Terlihat wajahnya yang damai dengan senyum kecil menghiasi wajahnya. Sepertinya tidur adiknya akan sangat indah malam ini. *** Alesya berlari kecil menuju meja kerjanya yang berada di paling ujung lorong itu, tepat di seberang ruangan Kent. Sial! Ia terlambat empat puluh lima menit. Alesya yakin Kent kini sudah ada di ruangannya, dan kini ia terlambat. Ia sudah siap mental untuk mendapat amarah dari bosnya itu. Bukan apa – apa, tapi ini kedua kalinya Alesya terlambat datang. Ia merupakan karyawan teladan dan Kent memang  orang yang sangat disiplin. Setiap pegawainya harus datang tepat waktu. Alesya sudah pernah terlambat waktu itu, dan Kent memperingatinya agar tak pernah terlambat lagi jika tak ingin mendapat hukuman darinya. Dan sekarang ia terlambat. Ia kini menyalahkan Alinisya, adiknya itu memakai kamar mandinya terlalu lama. Itu membuat Alesya uring – uringan. Ditambah perjalanan yang jauh dan macet, membuat Alesya menggerutu sepanjang jalan. Alesya kini menyiapkan dokumen yang memang sudah ia selesaikan kemarin. Ia segera menuju ke ruangan Kent untuk memberitahu jadwal rapat Kent hari ini.Namun, belum sempat ia mendorong pintu besar itu, seseorang mendorongnya juga dari dalam dan berlawanan arah dengan dirinya. Alhasil, itu membuat ia terjatuh dan bokongnya dengan indah mencium lantai kantor yang dingin. Alesya meringis merasakan panas di bagian belakangnya. Ternyata orang itu adalah Kent. Pria itu sempat terkejut melihat Alesya yang terjatuh. Ia berjongkok di depan wanita itu dan tersenyum melihat Alesya yang meringis kesakitan. Bukannya menolong Alesya, justru pria itu hanya berucap, “Kau terlambat, Nona Safira.” Alesya mendongak melihat Kent dengan senyum menyebalkan. Itu membuat Alesya ingin sekali menampar wajah tampan dihadapannya itu. “Maaf, Tuan Kent.” Hanya itu yang dapat keluar dari bibir mungil wanita itu. Kent segera bangkit dan menjulurkan tangannya. Seakan mengerti apa yang dimaksud Kent, Alesya menerima uluran tangan itu. Tak disangka, Kent menariknya dengan cukup keras, membuat tubuh mereka berdekatan Alesya terkejut dan menahan napasnya melihat wajah tampan Kent sedekat ini. Ia yakin kini wajahnya benar – benar merah padam. Alesya kembali terkejut karena perlakuan Kent. Pria itu mencium bibirnya lagi. Sial! Ini dikantor! Bagaimana bila ada yang melihat!? Alesya melotot dan berusaha tak melakukan apapun. Tidak, bibir ini sudah mencium Alinisya, ia tidak sudi dicium lagi dengan bibir Kent. Hell...kini terjadi peperangan di otaknya. Namun, seperti terhipnotis, Alesya membalas ciuman Kent. Kent semakin mengeratkan pelukannya, tangannya beralih pada kedua rahang Alesya untuk memperdalam ciuman mereka. Tanpa Alesya sadari, kedua tangannya sudah melingkar di leher Kent. ia yakin kini rambutnya sudah berantakan karena ulah tangan Kent. Entah mengapa Alesya sepeti menikmati ciuman itu. Hingga, “AAAA!!!” Suara teriakan yang melengking dan memekakan telinga mengintrupsi mereka untuk menjauhkan diri mereka. Terlihat Karina—sahabat dari Alesya—sedang menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Walau Alesya yakin bahwa wanita itu tetap mengntip dibalik sela – sela jarinya. “Apa yang kau lakukan disini, Karina?” tanya Kent dengan nada dingin nan datar. Dan jangan lupakan pandangan mata tajam dan mengintimidasi itu. “Tu—tuan Kent, m—maaf,” ucap Karina seraya menundukkan kepalanya.Kent hanya menghela napas. Ia benar – benar kesal bila ada ‘pengganggu’ seperti Karina. “Setelah ini, ke ruanganku,” ucap Kent dengan tegas yang dibalas anggukan polos Alesya. Setelah Kent masuk ke ruangannya, Karina segera menghampiri Alesya yang mematung dengan wajah polos. “APA YANG KAU LAKUKAN, ALESYA?!” teriak wanita itu, membuat Alesya gelagapan dan hanya menggelengkan kepalanya. “Ya Tuhan, kau baru saja berciuman dengan CEO yang paling dipuja – puja oleh para wanita Alesya,” ujar Karina seraya menggoyang – goyangkan tubuh Alesya seolah menyadarkannya. Alesya menghela napas. “Ayolah, hanya itu Karina. Tidak lebih, kau seperti tak pernah melihat orang berciuman saja, memangnya aku tak tahu kau mengoleksi blue-film di laptopmu?” jawab Alesya dengan sarkastik. Karina melototkan matanya, bagaimana wanita ini tahu? “Kecilkan suaramu, i***t! Jangan beri tahu siapapun!” ucap Karina seraya mentup mulut Alesya. Alesya tersenyum kecil. “Sudahlah, apa maumu kemari?” tanya Alesya dengan frustasi. Setelah membuka mulutnya dari tangan Karina. “Aku ingin bertemu denganmu, tapi sepertinya kau memiliki pekerjaan penting,” jawab Karina seraya mengedipkan sebelah matanya. Sialan! Setelah Karina pegi, Alesya segera masuk ke ruangan Kent. Jantungnya berdegup kencang. Melihat Alesya, Kent mendongakkan kepalanya dan tersenyum, ia mendekati Alesya dan berhenti di tengah – tengah ruangan besar itu. “T—Tuan Kent, satu jam lagi, ka—kau harus menghadiri rapat,” ucap Alesya dengan terbata – bata. Kent terkekeh. “Tenang saja, Karina tidak akan memberi tahu siapapun.” Kent tidak memedulikan ucapan Alesya dan ucapannya membuat semburat merah hadir di pipinya. “Jadi aku memiliki waktu satu jam untuk bersama denganmu?” goda Kent. Namun dengan polosnya, Alesya menganggukan kepalanya. Sedetik kemudian, ia menggelengkan kepalanya. Ya Tuhan, ia gerogi. Kent terkekeh melihatnya. Wanitanya ini benar – benar menggemaskan. Kent mendekat ke arah Alesya, membuat Alesya memundurkan langkahnya. Karena gemas, Kent menarik tangan Alesya dan menahan tubuh itu agar tak menjauh. “Alesya, you’re mine,” ucap Kent seraya memeluk tubuh mungil wanita itu dan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Alesya. “Bagaimana dengan kesempatan kita?” tanya Kent menatap Alesya dengan binar di matanya. Alesya sudah memikirkan ini semua. Ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke pesona Kent Wijaya, tapi, ia juga tidak akan membiarkan Kent menganggap Alesya adalah Alinisya. Jadi, Alesya membiarkan kesempatan itu berjalan. “Kau diam. Berarti kau setuju.” “Aku tertarik padamu,” ucap Kent yang diakhiri ciuman lembut di bibir Alesya. Lagi, Alesya merasa ada ratusan kupu – kupu yang berterbangan di perutnya. Hanya saja, hidup tak sederhana itu. Ini masih belum apa – apa. Ada sejuta masalah yang menunggu mereka nanti. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN