Kent berjalan santai memasuki mobil mewahnya sambil mengotak – atik smartphone miliknya. Hari sudah menjelang malam, dan sekarang ia akan makan malam dengan Alesya. Hal itu membuatnya tak bisa konsentrasi seharian, setiap melihat wajah sekretarisnya itu, ia selalu membayangkan bagaimana penampilan Alesya malam ini. Berlebihan memang.
Mobil yang dikendarai Kent berjalan dengan kecepatan tinggi, membelah hiruk pikuk kota, yang semakin larut semakin ramai. Setelah tiga puluh menit, ia sampai di apartemen Alesya. Kent kembali mengingat tingkah laku konyolnya saat pertama kali ia datang kemari anya untuk menanyakan sesuatu yang tidak penting. Kent terkekeh memikirkannya.
Kent berjalan menuju lift dan sampai di depan apartemen itu, ia memencet belnya. Pintu itu terbuka, memperlihatkan sosok wanita yang sepanjang hari ini menggangu harinya. Alesya terlihat sangat cantik. Benar – benar cantik. Dress berwarna baby blue yang dipakainya sangat pas ditubuhnya yang ramping dengan kulit putihnya. Kent terpana melihatnya. Wanitanya ini sangat cantik!
Sial! Pikirannya selalu tertuju pada itu.
“Hai,” sapa Alesya dengan senyum lebar. Kent mengerutkan dahinya, gadis es itu menyapanya? Sungguh keajaiban!
“Kau tampil cantik, Alesya. Benar – benar cantik,” ucap Kent dengan tulus. Baru kali ini ia benar- benar terpana pada seorang wanita.
“Terimakasih,” jawab wanita yang dihadapannya dengan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya. Kent merasa ada yang berbeda dengan Alesya kali ini. Pertama, wanita ini menyapanya. Kedua, Alesya kini lebih mudah tersipu malu, yang Kent tahu selama ini, Alesya bukan wanita yang dengan mudah terbang ke langit ke tujuh hanya karena sebuah pujian saja.
Tapi tentu saja Kent mengesampingkan itu semua. Pemikiran tidak penting itu bisa menunggu nanti. Karena, mungkin perkataannya tempo hari benar, Alesya menarik semua perhatiannya.
“Ayo, hari sudah malam,” ajak Alesya sambil menggandeng lengan Kent. See? Ada apa dengan Alesya? Ini sungguh aneh. Biasanya ia yang menggenggam tangan mungil wanita itu terlebih dahulu. Itu pun Alesya akan menolak mentah – mentah, sampai Kent harus memaksanya. Kali ini sangat berbeda. Membuat Kent berpikir bahwa Alesya memang sudah memberikan harapan untuk mereka berdua.
Mereka berjalan menuju parkiran mobil, dan selama itu juga Alesya terus menggandeng Kent. Dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.
***
Beberapa jam sebelumnya...
Alesya memainkan ponselnya sambil berbaring di atas kasurnya. Ini sudah satu jam lebih dan kembarannya masih saja sibuk berdandan ria. Ayolah... ini hanya makan malam.
“Kak,” panggil suara di sampingnya. Membuat Alesya mengalihkan padangannya pada adik kembarnya itu.“Bagaimana penampilanku?” tanyanya sambil membolak – balikan tubuhnya seakan menyuruh Alesya menilai seluruh tubuhnya.
“Good,” jawabnya sekenanya, kemudian kembali memainkan ponselnya. Game Candy Crush di ponselnya lebih menarik dibandingkan Alinisya.
“Ayolah, Kak, aku akan pergi makan malam dengan Kent Wijaya, Ya Tuhan, ini seperti mimpi,” ucapnya dan itu membuat Alesya memutar bola matanya. Come on... itu hanya seorang Kent.
Ting tong... bel apartemennya berbunyi. Dengan semangat empat lima dan senyum lima jari di wajahnya, Alinisya segera berlari ke pintu. Sebelumnya ia sempat mengucapkan, “Thanks, Kak, good night.” Sambil mengecup pipi sang kakak kembarnya.
Itu membuat Alesya bergidik ngeri sambil menghapus bekas ciuman Alinisya di pipinya dengan telapak tangannya.Ia melangkahkan kakinya dengan pelan menuju pintu, ia segera bersembunyi di dekat tembok. Alesya mendengar percakapan Alinisya dengan Kent. Bohong sekali jika ia memilih untuk tidak peduli pada mereka berdua.
Sejenak mendengar ucapan Alinisya dan Kent, membuat Alesya kesal. Dengan bodohnya, Alesya menuruti keinginan adik kembarnya yang sudah sejak lahir selalu merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.
***
Kent dan wanita itu sampai di restoran mewah. Sepanjang perjalanan tadi, Alesya tak ada hentinya berbicara. Dan entah mengapa itu membuat Kent resah dan tidak nyaman. Tak seperti biasanya, Alesya lebih cenderung diam dan akan berbicara seadanya.
Alesya kini juga tidak protes saat Kent memilih restoran mewah untuk makan malam mereka. Biasanya Alesya akan menceramahinya terlebih dahulu bila ia memilih sesuatu yang menurutnya berlebihan.
“Ayo, Alesya,” ajak Kent sambil membuka pintu mobil wanita itu. Mereka segera masuk restoran itu dan duduk di dekat kaca besar, sehingga mereka dapat melihat kerlap – kerlip inadhnya kota saat malam hari. Alesya—you know, she is Alinisya—memandang wajah Kent yang tampan malam ini.
“Kau ingin memesan apa?” tanya Kent yang membuat Alesya tergagap karena sedari tadi memerhatikan wajah tampan yang ada di hadapannya.
Alesya berdeham. “Samakan saja dengan pesananmu,” jawab Alesya dengan senyum di wajah cantiknya. Ada yang berbeda dengan senyum Alesya sekarang. Kent tahu itu. Senyum gadis itu biasanya dapat menggetarkan hatinya. Namun sekarang, ia tidak dapat merasakan apa – apa. Hatinya tak bereaksi apapun.
Dan satu lagi, Alesya mempunyai satu lesung pipi kecil di pipi kanannya. Tapi sekarang ia tak melihatnya. Memang lesung pipi itu sangat tipis, dan mungkin tidak akan terlihat bila hanya sekilas. Tapi Kent tahu itu. Dan Kent tak mungkin salah lihat.
Apa benar wanita yang dihadapannya ini Alesya?
Kent langsung menggelengkan kepalanya, apa yang ia pikirkan? Tentu saja ia adalah Alesya. Tidak mungkin Alesya ada dua. Benarkan?
“Ada apa Kent? Apa kau sakit?” tanya Alesya ketika Kent meggeleng – gelengkan kepalanya.
“Tidak, Alesya. Aku tidak apa,” ucap Kent seraya tersenyum.
Ya Tuhan.. senyum itu, bila ini mimpi kumohon jangan bangunkan aku, batin wanita itu yang terpesona dengan senyuman Kent.
Alesya tersenyum.
Makanan mereka sudah tersaji. Kent memandangnya dengan tatapan lapar, karena sedari tadi memang perutnya sangat keroncongan.
“Selamat makan, Kent,” ujar Alesya. Kent hanya tersenyum. Tak biasanya wanita itu berucap demikian. Biasanya Alesya langsung memakan makanannya dan melupakan kehadiran Kent dihadapannya.
Alesya memakan makanannya dengan perlahan. Tak ada noda di sekitaran mulutya. Gaya mengunyahnya sangat pelan. Dan ia seperti menjaga image – nya di depan Kent. Bukankah wanita ini selalu tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya? Terutama saat makan, tapi sekarang? Ada apa sebenarnya?
Mereka menghabiskan makanannya dalam diam. Sampai tak terasa makanan di piring mereka berdua tandas. Perut Kent sekarang sudah terisi.
“Oh iya, Alesya, laporan keuangan yang kau berikan siang tadi sudah benar, tidak ada data yang salah,” ucap Kent. Ia sempat memeriksa kembali laporan itu mengingat pesan Alesya ia tak mau perusahaannya hancur karena keteledorannya dengan tak pernah memeriksa laporan keuangan, itu tidak lucu bukan?
“Laporan keuangan?” tanya Alesya seraya menunjukan wajah bingung. Laporan keuangan apa? Namun, setelah beberapa menit ia ingat ucapan kakaknya bahwa ia adalah sekretaris Kent.
“Oh, laporan itu, well, syukurlah bila itu sudah benar,” ucap Alesya sambil salah tingkah. Kent hanya bisa mengerutkan dahinya. Tidak, ia yakin di hadapannya ini Alesya. Tapi, entah apa yang membuatnya kini berbeda.
Kent berdeham lalu mengajak Alesya untuk pulang karena hari sudah larut malam. Alesya hanya menganggukan kepalanya dan segera menggandeng tangan Kent.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan apartemen Alesya.
“Thanks for tonight, Kent,” ucap Alesya dengan senyumnya. Kent hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.Tak disangka – sangka, Alesya mengecup bibirnya sekilas.
“Itu untuk ucapan terimakasihku, selamat malam,” ucapnya meninggalkan Kent yang mematung di tempat.
Bibir Alesya terasa berbeda di bibirnya.
***