Alesya membawa laporan keuangan perusahaan itu ke ruangan CEO. Wanita itu mengetuk pintu besar di hadapannya. Tak ada yang menjawab. Alesya pun membuka sedikit pintu itu dan menengok ke dalam.Terlihat Kent sedang memunggunginya seraya berbicara dengan seseorang di telepon.
“Tuan Kent,” panggilnya dengan sebutan formal dan dengan nada gugup. Bagaimana ia tidak gugup setelah kejadian semalam di apartemennya? Sial! Ia kembali mengingatnya. Kent membalikkan badannya sambil menutup panggilan teleponnya. Ia menatap Alesya dengan senyum—yang menurut Alesya—menyebalkan. Di sisi lain, Alesya tidak mengetahui jika Kent setengah mati menahan rasa malunya akibat ucapannya semalam. Entah setan apa yang merasukinya hingga berbicara seperti itu.
“Apa itu laporan keuangannya?” tanya Kent ketika melihat kertas – kertas yang digenggam oleh Alesya. Alesya mengangguk, dan menyerahkan laporan itu pada Kent.
Kent hanya melihat laporan itu sekilas dan menaruhnya ke dalam laci meja kerjanya. Hal itu membuat Alesya mengerutkan dahinya. Melihat raut wajah bingung Alesya membuat Kent tersenyum.
“Aku malas memeriksa laporan itu. Lagipula, bila ada kesalahan sedikit di sana, tidak akan membuat perusahaan ini bangkrut, bukan?” ujar pria itu dengan nada menjengkelkan, tak ayal itu membuat Alesya memutar bola matanya dengan jengah, dasar pria sombong!
“Well, bila ada kesalahan di laporan itu, dan kerugiannya sangat besar, saya tak akan bertanggung jawab atas itu,” jawab Alesya dengan ketus.
“Bukankah ketika kau menyerahkan laporan keuangan itu padaku, kau sudah terlebih dahulu memeriksanya?” tanya Kent dengan senyum smirk-nya.
Skakmat! Alesya tak bisa membalas omongan Kent sekarang. Dengan sebal ia membalikkan badannya dan segera pergi dari ruangan—yang menurutnya—sangat laknat itu.
“Alesya.” Langkah wanita itu terhenti. Ia memandang Kent dengan was – was.
“Tentang kejadian semalam—”
Aleya tahu kemana pembicaraan mereka. “No, Kent. Kita tidak perlu mengingat ucapanmu ketika kau mabuk.”
Kent mendengus. “Aku tidak mabuk—”
“Yes, you were.” Alesya geram dengan semua ini. Ia hanya ingin hubungannya dengan Kent hanya sebatas bos dan bawahan. Tidak lebih.
“Aku hanya ingin memberi bukti padamu, Alesya. Aku serius.” Kent melangkah mendekati Alesya dan melipat tangannya di depan d**a.
“Kau tidak perlu membuktikan apapun.”
Kent menangkat sebelah alisnya. “Satu kesempatan?”
“No. Lagipula, satu kata menarik tidak akan membuatku terpesona padamu, Kent.”
“Give me a chance.”
“No.”
Kent menghela napas. “Alesya, this is me, trying to prove it to you. Kau tidak bisa menolak.”
***
Alesya masih berkutat dengan komputer dihadapannya, padahal jam sudah menunjukkan pukul tengah hari dan itu artinya, saat ini sudah waktunya makan siang. Namun, wanita itu tak menyadarinya, banyaknya tugas yang diberikan oleh Kent membuatnya kelabakan. Sialan!
Kent keluar dari ruangan kebesarannya, ia berniat untuk mengajak wanitanya makan siang, dan melihat Alesya masih terfokus pada komputer dihadapannya membuat dirinya yakin bahwa wanita itu belum makan siang.
Oke, Kent kembali mengatakan ‘wanitanya’, sial!
“Alesya,” panggil Kent sambil menumpu dagu itu pada tangannya dan menaruhnya di atas meja Alesya. Memperhatikan wajah cantik itu tanpa wanita itu sadari. Alesya sangat cantik bila seperti ini, pantas saja Alesya sangat terkenal di perusahaan ini. Selain pembawaannya yang cuek dan dingin, daya tariknya sangat kuat.
Alesya tetap bergeming. Jari – jari lentik wanita itu mengetik dengan cepat di atas keyboard. Itu membuat Kent tersenyum melihat wajah seriusnya.
“Alesya Safira,” panggil Kent, ia sengaja menggoda Alesya lagi, mengingat kejadian semalam di apartemen wanita itu.
Tanpa disangka – sangka, Alesya justru mengalihkan pandangannya dari layar komputer pada Kent. Kent yang melihatnya sedikit terkejut.
“Aku ingin mengajakmu makan siang,” ujar pria itu. Alesya menggelengkan kepalanya.
“Tidak,” jawab Alesya dengan nada datar dan dingin.What the hell! Sebenarnya siapa bos disini? Mengapa Kent merasa bahwa wanita yang dihadapannya ini sebagai bosnya? Sialan!
“Aku tahu perutmu sudah kelaparan dan otakmu menyuruh kakimu untuk segera pergi mencari makan siang, dan sebagai atasan yang baik, aku dengan senang hati mentraktirmu untuk makan siang.” Gerakan Alesya terhenti. Oke, traktir dalam kamus Kent mungkin artinya semua makanan mewah yang akan dilahap Alesya akan dibayar oleh pria itu.
Mendengar kata traktir langsung membuat mata Alesya berbinar. Sebutlah ia wanita matre. Tapi ditraktir dengan Kent benar – benar untung, apalagi ia sedang dalam mode: irit uang jajan. Jadi itu sangat menguntungkan, bukan? Alesya langsung mengangguk dan itu membuat Kent terkekeh.
***
Mereka telah duduk di restoran—yang tentu saja mewah—karena itu pilihan Kent. Awalnya Alesya menolak mentah – mentah ajakan Kent saat ingin pergi ke restoran ini, ia lebih memilih makan siang di cafe yang jaraknya tak jauh dari kantor Kent. Namun, Kent tak mau dan beralasan dengan mengatakan “Siapa yang akan mentraktir?” dasar pria licik!
Makanan mereka telah datang. Dan sekali lagi Kent melihat kebiasaan makan Alesya yang sedikit jorok. Wanita itu makandengan tidak sabaran. Sehingga makanannya itu menodai sekitaran mulut mungilnya. Alesya memang aneh!
Alesya menatap Kent dengan tatapan bertanya. Kent yang mengerti hanya menggeleng seraya tersenyum. Mereka menghabiskan makan siang itu dalam diam.
“Apa kau sibuk malam ini?” tanya Kent pada wanita yang dihadapannya yang sedang sibuk mengelap noda di sekitar mulutnya. Alesya tak berniat menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Dan meminum air dari gelas yang ada dihadapannya.
“Aku ingin mengajakmu dinner,” ujar Kent dengan santai. Tentu saja itu membuat Alesya tersedak minumnya. Ia benar – benar terkejut.
“Untuk apa?” tanya Alesya dengan polos. Jika boleh jujur, ini pertama kalinya ia diajak dinner oleh seorang lelaki, biasanya hanya Karina yang mengajaknya makan di luar, dan itu bukan dikatakan dinner, kan?
“Seperti yang aku katakan, Alesya. I wanna prove it to you,” ucap Kent yang membuat Alesya menatapnya tajam.
“Seperti yang aku katakan, Kent. Tidak,” balas Alesya dengan tegas. Kent tersenyum, baru kali ini ada seorang wanita yang dengan tegas menolaknya. Permainan ini semakin menarik.
“Aku hanya ingin mengajakmu makan malam, Alesya. Dan aku tak menerima penolakan,” ucap Kent dengan tegas.
Sial! Alesya tak dapat melawan bila sudah seperti ini.
***
Ting! tong!
Bel apartemen Alesya berbunyi. Itu membuat dirinya kembali mengucapkan sumpah serapah. Kenapa disaat ia sedang pusing seperti sekarang, selalu saja ada yang menggangunya? Dengan terpaksa ia membuka pintu apartemennya. Itu Alinisya.
“Hai kak, boleh aku masuk?” tanya Alinisya, Alesya tak menjawab apapun dan kembali masuk ke apartemannya. Sementara Alinisya mengekorinya dari belakang.
“Berantakan sekali, kamarmu kak, apa yang kau lakukan?” tanya Alinisya melihat kamar Alesya seperti Kapal Titanic yang hancur. Benar – benar berantakan.
Semua baju Alesya di walk in closet, semua dikeluarkan dan diletakkan di atas kasurnya. “Aku sedang memilih dress,” jawabnya sambil terus memilih baju mana yang cocok.
Kent yang membuatnya seperti ini! Kenapa si ‘b******k’ itu membuat dirinya kelimpungan mencari baju. Padahal sebelumnya ia tak pernah peduli pada penampilannya.
“Untuk apa?” tanya adiknya itu.
“Makan malam.”
“Dengan?” Alesya memutar bola matanya. Ia menyesal mempersilakan adiknya masuk ke kamarnya. Harusnya tadi ia suruh saja Alinisya menunggu di ruang tv.
“Kent,” jawab Alesya pada akhirnya. Alinisya tampak sedikit berpikir. Merasa tidak asing dengan nama itu.
“Kent Putra Wijaya lebih tepatnya,” jawab Alesya melihat wajah Alinisya.
“Kau akan dinner dengan CEO tampan itu?” teriak Alinisya yang membuat Alesya mengerutkan dahinya tidak suka. Sikap Alinisya terlalu berlebihan.
“Bagaimana bisa, kak?” lanjut Alinisya dengan penasaran. Kini ia menaiki kasur Alesya yang sedang berantakan dan membuatnya semakin kacau.
“Aku sekretarisnya.”
“What the f*ck?!” teriaknya lagi. Bocah ini membuat gendang telinganya hampir pecah. Ia hanya mengangguk. Lagipula, bukankah Alinisya waktu itu pernah datang ke kantor tempat ia bekerja? Bagaimana bocah ini tak tahu? Apa mungkin memang ia tak menyadarinya dan Alesya tak memberitahunya?
“Your language, Ali.” Alesya memperingati adiknya karena ucapannya yang kurang ajar.
Alinisya bergerak cepat, berdiri di depan Alesya dan memegang kedua tangan kakak kembarnya itu dengan muka berbinar. “Kak, aku ingin makan malam dengannya, sekali ini saja, aku mohon, aku yang menggantikanmu, ya?” ucapnya dengan cepat. Alesya menatap sebal ke arah adiknya.
“Kent tak akan menyadarinya, Kak. Kita kembar identik, orang lain tidak akan tahu,” ucap Alinisya yang seakan tahu apa yang ada dipikiran kakaknya.Alesya bingung, ia ingin pergi makan malam bersama Kent. Tapi ia juga tidak ingin pria itu berpikir Alesya menyimpan harapan padanya. Jadi, mungkin Alinisya adalah solusi terbaik.
Akirnya, ia mengangguk. Alinisya berteriak dengan senang dan segera mengambil salah satu dress milik Alesya yang berwarna baby blue dan segera masuk ke walk in closet. Cepat sekali wanita itu menentukan pilihan dress-nya. Well, koleksi gaun tidak banyak dimiliki Alesya, bisa dihitung oleh jari, karena ia sendiri tidak suka memakai gaun.
Alesya segera merapikan pakaiannya yang berserakan. Ia sedikit menyesal dengan keputusannya. Ia tak tahu bahwa keputusannya saat ini dapat membuat hidupnya tambah rumit. Tapi, satu yang ia sadari. Alinisya akan mendapat apapun yang ia inginkan.
***