Alesya sampai di apartemennya setelah semua kegiatan penatnya dikantor, ia segera merebahkan tubuhnya ke kasur kesayangannya. Ia menatap langit – langit kamarnya. Kenapa jantung sialannya ini masih saja berdetak kencang? Tidak perlu orang pintar untuk menebak siapa yang membuatnya seperti ini. Yap, Kent Putra Wijaya yang terhormat, dan semua sikap yang menjengkelkannya.
“Arghhh..” Alesya menenggelamkan wajahnya pada bantal dibawahnya. Sungguh ada apa dengan dirinya?
Beberapa jam lalu, Kent dengan sikap diktatornya menyuruh Alesya untuk pulang bersama. Setelah kejadian berciuman beberapa waktu lalu, rasa – rasanya Alesya tidak ingin bertemu ataupun berhadapan dengan Kent lagi. Ya,ya, itu hanya angan. Alesya tahu itu, karena bahkan kemarin ia menemani pria itu ke rumah sakit.
Alesya hanya tersenyum kikuk dan segera masuk ke apartemennya ketika Kent juga ikut tersenyum aneh padanya. Namun kejadian selanjutnya membuat jantungnya berdetak tak normal. Kent menarik pergelangan tangannya dan mengecup pelan pipi Alesya. Tentu saja itu membuat pipinya memerah seperti udang rebus.
Ya Tuhan... Itu entah keberapa kalinya Kent menciumnya. Tapi, Alesya tak bisa menghindar. What’s wrong with you, Alesya?, gadis batinnya selalu mengingatkanya agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesona Kent.
Ada hal yang lebih mengejutkan lagi, setelah Kent mengecup pipinya. Ia mengucapkan kalimat yang baru pertama kali Alesya dengar dalam hidupnya.
“Alesya, can i say something?” tanya Kent pada dirinya dan dijawab anggukan oleh Alesya. Suaranya tercekat di tenggorokan dan Alesya tidak bisa mengatakan apapun.
“Kau menarik semua perhatianku,” ucap Kent dengan nada rendah, Alesya tidak mengerti. Bagaimana mungkin seorang Kent bilang kalimat cinta itu? Dan terlebih pada sekretaris yang bahkan belum lama ini dia kenal.
Alesya hanya mematung. Kent yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli. Wanitanya ini benar – benar menggemaskan.
“Lalu?” tanya Alesya karena tidak mengerti ucapan Kent
“Well, you’re mine now,” ucapnya dengan santai dan pergi meninggalkan Alesya yang mematung. Otaknya seakan tak bisa diajak bekerja sama dalam mengolah semua perkataannya.
“APA MAKSUDMU, JERK?!” teriak Alesya, yang ia yakini tak akan pernah di dengar Kent karena pria itu sudah terlebih dahulu pergi dari hadapannya dan teriakannya hanya akan mengganggu para tetangga apartemennya.
Kini Alesya benar – benar malu. Ayolah... Alesya bukan wanita yang akan terbang ke langit ke tujuh bila seorang prince charming—seperti Kent, mengatakan seperti itu padanya. Ia sering mengatakannya pada banyak wanita, Alesya! gadis batinnya berteriak mengingatkannya. Tidak, ia tidak boleh jatuh ke dalam pesona Kent. Tidak ketika pria itu masih berstatus sebagai bosnya dengan segala cap playboy yang melekat pada dirinya. Dan tidak ketika ia masih menjadi bayang – bayang Alinisya.
“Tidak, Alesya, ia hanya bergurau. Ia sudah banyak mengatakan itu pada bitches di luar sana, apa kau salah satunya, bukan kan? Bukan, bukan,” ucap Alesya pada dirinya sendiri.
Malam itu, Alesya Safira merasakan ketakutan yang luar biasa. Takut akan terjatuh pada pesona bosnya yang sulit ditolak. Karena, jatuh pada Kent adalah hal terakhir yang dia harapkan di dunia ini. But, he makes her fall for him, even when she’s not realize it yet.
***