Alinisya sampai di rumahnya dan menaruh high heels-nya dirak sepatu. Bajunya basah karena nekat menembus hujan dan alhasil, seluruh tubuhnya basah kuyup. Seharian ini Alesya tidak bisa dihubungi olehnya. Itu membuat Alinisya khawatir. Tujuan utama Alinisya adalah kembali menyatukan keluarganya, membuat kakaknya kembali ke rumah ini. Seperti dulu...
"Ali, Alesya tidak kemari?" tanya suara lembut dari belakangnya. Nada terlihat menengok - nengok ke belakang tubuhnya, ia mencari keberadaan anaknya.
"Bunda, Kak Ale sedang sibuk, ia mempunyai beberapa masalah di kantornya, jadi ia belum bisa kemari," jawab Alinisya dengan berbohong. Tidak mungkin ia berkata bahwa Alesya tidak bisa dihubungi seharian ini.
Nada hanya bisa tersenyum lesu, ia tahu kesalahan yang di perbuatnya selama ini. Ia yang menjadikan anak sulungnya seperti ini. Harusnya ia tak pernah membedakan kasih sayangnya pada kedua anak kembarnya.
Alesya Safira.
Gadis itu sudah berumur dua puluh satu tahun. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia bertambah cantik? Nadia tersenyum membayangkan seberapa cantiknya Alesya, anaknya pasti sangat cantik.
"Bunda." Ucapan Alinisya menariknya ke dunia nyata.
"Ayo masuk, Bunda, udaranya dingin," lanjut Alinisya sembari mengajak Bundanya masuk ke rumah. Hari ini hujan turun dengan deras, berada di luar rumah di saat seperti ini, bukan hal yang bagus.
Mereka menuju meja makan, disana sudah ada Rio.
"Ali, kau sudah pulang?" sapa Rio ia memeluk anaknya itu. Ia benar - benar merindukannya. Pekerjaan bisnis Rio membuat waktunya dengan keluarganya sedikit berkurang.
"Ayah, aku merindukanmu," ucap Alinisya senang. Nada tersenyum, ia senang melihat kebersamaan keluarganya, walau salah satu anaknya tidak pernah datang ke rumahnya.
"Ayo, kita makan," ajak Nada. Suasana kali ini benar - benar hangat. Di penuhi canda tawa Rio dan Alinisya. Mereka benar - benar bahagia. Sampai akhirnya,"Alesya tidak pulang?" tanya Rio. Well, walau ia tidak terlalu peduli dengan anak pertamanya itu, ia tetap menyadari ketidakhadirannya.
Alinisya berdeham,"Ia sedang sibuk di kantornya, Ayah."
"Apa lebih penting urusan kerja dibandingkan acara keluarga yang sederhana ini? Dasar anak tak tahu diri, ia sudah lebih tiga tahun tidak bertemu dengan orang tuanya! Benar - benar anak sombong! Seharusnya-,"
"RIO!" teriak Nadia, ia sudah bercucuran air mata, tega sekali suaminya mengucapkan hal menyakitkan seperti itu pada anak kandungnya sendiri.
"Bagaimana bisa kau berucap seperti itu pada anakmu? Dia anakmu, Rio! Anakmu! Mengapa kau selalu tak mengerti? Itu karena kesahan kita juga, kita yang membuat Alesya menarik diri dari keluarganya!"
"Dan pekerjaan? Alesya tinggal sendiri semenjak tiga tahun yang lalu! Ia tak pernah meminta uang sepeser pun pada kita! Dan kau? Kau juga mementingkan bisnismu dibanding berkumpul dengan keluargamua Rio!" Nada benar - benar tak tahan dengan ini semua, suaminya benar - benar keterlaluan. Ia segera menaiki tangga dan menuju kamarnya, menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Ayah." Alinisya memanggil ayahnya dengan nada bergetar, ia merasakannya. Bagaimana perasaan kembarannya. Ayahnya memang keterlaluan.
Melihat kedua wanita yang ia sayangi menitikkan air mata, Rio segera memeluk anaknya dan berulang kali membisikkan kata maaf. Ia segera menuju kamarnya dan meminta maaf pada Nada.
Alinisya masih terisak, perasaannya benar - benar sakit. Kakak kandungnya, dijelek- jelakkan dengan ayah kandungnya sendiri. Itu benar benar menyakitkan.Alinisya menghela napas dan membereskan sisa makanan di meja itu.
Hari ini memang hari yang melelahkan.
***