Part 9

245 Kata
Alesya dan Kent sengaja menjenguk Clara Tatjana Wijaya pagi itu. Wanita muda itu sudah melewati masa kritisnya. Alesya bisa melihat kecantikan natural yang dipancarkan adiknya itu walaupun dengan mata yang tertutup. “Miranda, bukankah dia—” tanya Dira di luar ruang rawat Clara. Ia bertanya – tanya saat Alinisya Safira bertemu dengannya tadi. Miranda tersenyum pada suaminya. “No, dia kembaran Alinisya Safira. Anak Rio Mahendra yang tidak pernah diketahui.” Dira yang sedari tadi bertanya – tanya mengapa Alinisya Safira menjadi sekretaris anaknya akhirnya hanya bisa mengangguk – anggukan kepala. Setengah bingung dan setengah paham. “Kenapa?” tanya Dira pada istrinya. “Aku tidak tahu. Tapi, bahkan anak kita sendiri saja belum tahu Alesya adalah...kembaran Alinisya.” “What? Itu sangat aneh, Miranda. Aku bahkan tidak bisa membedakan mereka berdua.” Miranda hanya mengangkat bahunya. Obrolan mereka terhenti ketika Alesya dan Kent keluar dari ruangan.  Alesya berbincang – bincang dengan kedua orang tua Kent. Ternyata keluarga Wijaya sangat ramah dan sopan. Walau Alesya pernah menjadi karyawan ayah Kent, tetap saja Alesya canggung ketika berbicara dengan Tuan Dira. Sebenarnya, Dira dan Alesya tidak pernah bertatap muka secara langsung selama mereka satu kantor, karena Dira yang merupakan pemilik perusahaan terlalu sibuk dan Alesya yang saat itu masih menjadi karyawan biasa. Sulit bagi mereka untuk bertemu. Kent dan keluarganya benar – benar beruntung, saling menyayangi, dan penuh canda tawa di setiap harinya, walau salah satu anggota keluarga mereka tidak ada, mereka bisa menutupi kesedihannya dengan canda tawa. Sungguh Alesya sangat iri, ia juga ingin mempunyai keluarga seperti keluarga Kent. Namun itu hanya angan saja, kan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN