Part 8

928 Kata
Pria berbadan tegap itu berjalan dengan tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit. Wajahnya terlihat benar – benar khawatir. Di belakangnya, Alesya Safira mengikutinya. Ia tahu seberapa cemas Kent tentang keadaan adiknya. Di perjalanan tadi, Kent tidak bisa beristirahat dengan tenang, pikirannya melayang memikirkan adiknya. Sementara Alesya hanya bisa menenangkannya. Walaupun itu cukup membuat tenang, tetapi tetap saja Kent merasa khawatir. Setelah sampai kembali Kent langsung meminta Alesya untuk pergi ke rumah saki. Alesya tidak dapat menolak ketika melihat wajah memohon Kent. “Mom, bagaimana keadaan Clara?” tanya Kent ketika sudah sampai di ruang ICU. Keadaan Clara—adik kandung Kent, benar – benar parah.Alesya sepertinya pernah mengetahui Clara Wijaya, ia cukup terkenal. Alesya pernah melihat berita tentangnya di televisi. “Entahlah, operasinya belum selesai,” ucap sang ibu sambil terus berderai air mata. Ia segera memeluk anak sulungnya itu dan menangis di d**a bidang Kent. Kent mengira ketika ia sampai, adiknya sudah berada di ruang rawat, tapi ternyata ia masih berada di ICU. Dan itu membuat Kent semakin khawatir. “Tenanglah, Mom, semua pasti akan baik – baik saja,” ucap Kent menenangkan ibunya. Padahal ia sendiri tetap cemas memikirkan keadaan adiknya. Alesya benar – benar canggung berada di posisi itu. Semakin terasa canggung ketika Kent memutuskan untuk pamit ke toilet dan menyisakan Alesya dengan Miranda Wijaya. “Kau...” “Alesya Safira, Nyonya Wijaya. Saya sekretaris Tuan Kent.” Alesya mengulurkan tangannya untuk memberi salam pada Miranda, ketika wanita itu akhirnya menyadari keberadaannya. “Kau, Alinisya Safira?” Alesya tersenyum tipis. “Bukan.” Miranda mengusap sisa air matanya. “Lalu, kenapa kalian sangat mirip?” “Dia, adik kembarku.” Miranda Wijaya yang terkenal dengan perangai dinginnya itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Yang selama ini ia tahu, tidak pernah ada Alesya Safira. Ia tidak pernah menyadari itu. “Astaga, aku tidak tahu itu. Kehadiranmu seolah...” “Tidak pernah ada,” ucap Alesya melanjutkan ucapanMiranda yang ia tahu tidak akan mengenakkan. “Maaf, bukan maksudku seperti itu. Hanya saja, aku tidak menyangka.” Miranda tersenyum tipis. “Apa Kent tahu itu?” tanya Miranda yang membuat Alesya menggeleng. “Aku tidak tahu, ia tahu atau tidak.” Alesya menjelaskan. Miranda tersenyum. Sulit baginya untuk tertarik pada wanita yang dekat dengan Kent, tapi Alesya memiliki daya tariknya sendiri. Terlalu misterius dan tenang. “Kau ingin Kent mengetahuinya?” Alesya mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu.” “Aku tidak akan memberitahunya, jika kau juga tidak tahu.” Miranda tersenyum dan mengusap lengan Alesya dengan lembut. Pintu ruangan itu terbuka, Miranda langsung menghampiri dokter itu, tepat saat Kent kembali menemui mereka. “Bagaimana kondisi anak saya?” tanya Miranda dengan cepat. Dokter itu pun menghela napas. “Masih dalam masa kritis, kami sudah mengusahakan yang terbaik. Dia akan sadar, tapi mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama.” Seketika itu juga dunia Miranda serasa runtuh. Ia terduduk lemas di kursi rumah sakit dan tidak mendengarkan lagi penjelasan dokter. Akhirnya, Kent menyuruh Ibunya pulang dan menenangkan diri, berkata bahwa Clara akan baik – baik saja. Kent kembali duduk yang tersedia di rumah sakit itu. Dirinya benar – benar hancur. Ia sulit menerima kenyataan bahwa adiknya kritis. Alesya segera duduk di samping Kent dan mengusap punggun lelaki itu. “Kau harus bersabar.” Suara lembut Alesya terdengar di telinga Kent. Kent ingin melihat keadaan adiknya. Namun menurut dokter, itu tidak diperkenankan, mengingat kondisinya yang kritis dan masih dalam penanganan tim dokter. Keluarganya baru boleh mejenguknya esok hari. “Kau ingin aku menemanimu dulu?” tanya Alesya, karena jujur saja Alesya sangat ingin pulang, tapi melihat keadaan Kent, ia mengurungkan niatnya. Kent mengangguk. “Ayo, tenangkan dirimu.” Kent hanya bisa mengikuti Alesya ketika wanita itu menarik tangannya menuju taman di rumah sakit itu. Walau hari sudah sore, taman itu masih terlihat ramai. Mereka memilih untuk duduk di bangku taman yang agak sepi. Alesya tahu, seharusnya ia tidak sepeduli ini pada bosnya, tapi hai nalurinya menyuruhnya untuk peduli pada Kent. “Kent?” Pria di sampingnya hanya menengok  Alesya sekilas lalu mengalihkan pandangannya lagi. “Kent, look at me,” Alesya menangkup wajah Kent sehingga membuat Kent melihatnya. “Jika kau seperti ini, siapa yang akan menenangkan ibumu? Tidak ada gunanya jika kau harus termenung seperti ini.” Jujur, Alesya tahu ucapannya tidak menenangkan sama sekali. Apa boleh buat, ia tidak tahu bagaimana cara menenangkan seseorang. Kent memandang mata Alesya. Entah siapa yang memulai, tapi bibir mereka tiba – tiba saja bertemu. Kent menyukainya, dan Alesya tiadka menolaknya.Mereka berciuman. Entah apa yang ada di pikiran Alesya hingga ia ‘nekat’ melakukan hal itu. Membalas ciuman Kent. Ini bukan dirinya, Alesya seharusnya mejadi wanita dingin yang tak peduli pada siapapun. Tak peduli dengan banyak pasang mata yang menyaksikan mereka. Setelah cukup lama mereka melepaskan ciuman mereka. Napas mereka terengah – engah. Ada rasa yang timbul dalam diri mereka, cinta? Tidak! Ini terlalu cepat untuk di sebut cinta. Mereka yakin ini bukan cinta. Tidak mungkin karena menghabiskan malam bersama di Manhattan membuat mereka menyimpulkan jika mereka sudah saling mencintai. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. “Alesya? Are you okay?,” tanya Kent. Kent terkekeh dan mendekatkan wajahnya pada telinga kanan Alesya.“Terimakasih atas ciuman lembutnya, My Girl,” bisik Kent tepat di samping telinga Alesya. Alesya hanya terdiam dengan wajah memerah. Kent semakin ingin menggodanya. Kini rasa cemasnya sudah cukup mereda. Hanya karena ciuman itu? Mungkin saja. Kent mendekatkan kembali wajah mereka, tiba – tiba saja Alesya menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kent tertawa melihat aksi wanita itu. “Ada apa, Safira?” tanya Kent dengan nada geli. “Jangan menciumku lagi,” ujar wanita itu tegas. Kent kembali terbahak. “Siapa yang akan menciummu, Ale? Lagipula, siapa yang memulai?” goda Kent pada Alesya. Benar – benar pria ini, Alesya kira pria ini sangat frustasi. Jika ia tahu akhirnya akan seperti ini, ia tak akan pernah membalas ciuman pria itu dan menurunkan harga dirinya. “Terserah padamu, aku tidak peduli,” jawab Alesya dengan ketus. Dan segera bangkit untuk meninggalkan Kent. Kent yang melihatnya langsung menahan tangan wanita itu dan berdiri. “Kau akan kemana?” Alesya mendelikkan matanya. “Pulang,” jawabnya dengan nada tegas. “Ayo, aku antar,” Kent menarik tangan Alesya dan mengantarnya menuju parkiran mobil. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN