Alesya membuka matanya, merasa ada tangan kokoh yang melingkari perutnya. Sangat berat dan terlalu memeluknya erat. Ia menengok ke belakangnya. Kent! Pria itu memeluknya selama tidur. Posisinya sangat dekat dan Kent terlihat sangat nyaman dan damai.
Dengan sekali gerakan Alesya mendorong Kent dan menyingkirkan lengan kokoh pria itu dari perutnya.
“Aw! Apa yang kau lakukan Alesya?!” teriak Kent kesakitan. Alesya mendorongnya sangat kuat, hingga bokongnya mencium lantai hotel yang dingin. Benar – benar wanita ini!
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Mengapa kau memelukku? Kau pikir aku salah satu jalangmu yang rela disentuh tubuhnya olehmu?” cecar Alesya panjang lebar. Alesya tidak mengerti semua ini. Harusnya hubungan ia dan Kent hanya sebatas sekretaris dan bosnya, tidak lebih. Seharusnya tidak ada ciuman ataupun semalaman tertidur dengan sau ranjang.
“Damn it!” Kent benar – benar tak menyangka bahwa perempuan itu menganggap dirinya seperti itu, for god sake, ia tak pernah mengakui Alesya sebagai ‘jalang’-nya.
“Apa yang kau pikirkan Alesya? Aku hanya tidak sengaja memelukmu, dan, astaga Alesya, hanya memeluk, tidak lebih dari itu, i swear,” jelas Kent panjang lebar dengan nada frustasinya.
Alesya hanya mendelikkan matanya sambil menyibakkan selimut dari tubuhnya. Ia melirik ke arah nakas dan ternyata sudah pukul tiga sore. Ia tertidur cukup lama, dan ia yakin nanti malam ia tidak akan bisa tidur.
Kent segera bangun dan meraih rokoknya ia menyalakan rokok itu di balkon hotel. Itu salah satu kebiasaannya. Merokok. Walau hanya ketika sedang bosan dan frustasi. Dan sekarang ia sedang bosan.
“Kau merokok?” tanya suara di belakang Kent. Alesya menatapnya dengan mata terbelalak. Sementara Kent bingung mengapa Alesya menanyakan hal itu, Alesyapun heran mengapa ia bisa selancang itu menanyakan hal tidak penting pada Kent.
“Ya, memang kenapa?” tanya Kent dengan suara dingin. Ia masih marah karena Alesya dengan seenak jidatnya mendorongnya dari tempat tidur. Kent itu atasannya, jika ia lupa.
“Hmm.. itu racun, baunya membuat sesak napas, dan itu akan membuat paru-paru mu kotor,” ujar Alesya menjelaskan seperti menerangkan sesuatu pada anak TK. Seketika ia kembali termenung, mengingat ia tidak perlu menjelaskan hal itu pada bosnya. Tidak ada gunanya.
“Terserah kau saja.” Kent mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Hening. Di balkon itu hanya semilir angin yang menemani mereka, dan tentunya asap rokok Kent. Alesya benar – benar tidak kuat dengan baunya. Akhirnya ia meninggalkan Kent sendiri. Sebelum benar – benar pergi, suara Kent mengintrupsinya.
“Jam tujuh nanti, kita akan meeting dengan client kita,” seketika Alesya memberhentikan langkahnya.
“Malam ini?” tanya Alesya yang dibahas anggukan kepala Kent.
“Apa hanya malam ini?” Alesya bertanya sekali lagi, dan Kent kembali menganggukan kepalanya.
“Lalu kenapa kau bilang bahwa kita akan berada disini selama seminggu?” Entah sejak kapan Alesya mulai berani mengatakan nama bosnya tanpa embel – embel; Tuan. Tapi yang terpenting, ia tidak peduli.
“Cause i want to,” jawab Kent dengan santainya. Mungkin itu sudah menjadi slogan yang menempel di dirinya. Menginginkannya dan harus mendapatkannya.
“Ingin?” tanya Alesya.
“Ya, aku hanya ingin berada di sini lebih lama.
“Kalau begitu, aku akan pulang besok,” jawab Alesya dan Kent membelalakkan matanya.
“Apa maksudmu? Kau akan pulang seminggu lagi, bersamaku.” Keputusan bodoh jika Alesya nekat pulang sendiri. Bloody hell...ini Manhattan, girl.
“Tidak! Aku tidak mau!” teriak Alesya. Dia benar – benar sudah putus asa, bagaimana pria bodoh yang menyepelekan pekerjaannya ini menjadi CEO? Aneh!
“Kau tak boleh menolak, lagi pula jika kau ingin pulang, kau akan pulang dengan siapa?”
“Aku tak peduli!” Kini yang Alesya inginkan hanya menampar pria ini supaya kewarasannya kembali.
Kent hanya bisa tersenyum. “Sudahlah, kau menyerah saja. Kau akan pulang bersamaku seminggu lagi, dan aku tidak menerima penolakan,” ucap Kent dengan menekankan kalimat terakhirnya melihat mulut Alesya yang ingin kembali menyela ucapannya.
“Persetan, Kent,” gumam Alesya sambil melangkah dengan kesal menuju kamar mandi. Terserah jika Kent akan mengamuk karena mendengarnya.
***
Alesya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Pahanya yang putih mulus terlihat. Kent? Ia hanya bisa menganga tak percaya melihat body ramping Alesya. Sempurna! Benar – benar membangkitkan imajinasi liar Kent.
“Apa yang harus aku pakai?” Suara wanita itu mengintrupsi Kent dan menarik otaknya kembali ke dunia nyata. Di sisi lain, Alesya terlalu polos untuk menyadari jika Kent bisa saja menerjangnya saat itu juga jika tidak mengingat fakta bahwa wanita itu adalah sekretarisnya.
“Aku sudah menyiapkan bajumu.”
Alesya langsung mengalihkan pandangannya. Di atas tempat tidur, terdapat sebuah kotak dengan pita di atasnya. Alesya mengambil kotak itu dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, Alesya keluar. Dan lagi – lagi Kent terpaku pada penampilan Alesya, benar – benar cantik. Sangat!
“Ada apa? Apa penampilanku sangat buruk?” tanya Alesya yang merasa bahwa Kent terlalu memperhatikannya. Itu membuat Alesya benar – benar gugup.
“Kau benar – benar cantik.” Tanpa sadar Kent berucap seperti demikian. Itu sungguhan, Alesya memang benar – benar cantik. Dia sangat sempurna dalam balutan dress itu.
“Ayo kita pergi,” ajak Kent sambil menutup laptopnya dan merapikan jas yang dipakainya dan segera menarik tangan Alesya. Alesya secara tidak langsung membalas genggaman tangan Kent. Entah Kent yang tak menyadari jika ia telah menggenggam tangan Alesya atau Alesya yang tidak mau melepaskan genggaman itu karena sudah kehilangan kewarasannya. Tapi, yang pasti mereka tetap bergandengan tangan.
Mereka sampai di depan lobby dan segera masuk mobilnya. Dan sekali lagi, Kent membukakan pintu untuk Alesya. Gentleman! Kali ini Kent sendiri yang membawa mobilnya.
***
Setelah meeting itu selesai, Alesya dan Kent langsung menuju hotel tempat mereka bermalam, karena jam sudah menunjukan pukul sepuluh. Perjalanan dari tempat meeting dan hotel mereka memang cukup memakan waktu lama, membuat Alesya bisa mai kebosanan di mobil mewah Kent ini.
Drrtt.. drrtt..
Ponsel Alesya bergetar. Alinisya? Untuk apa kembarannya itu menelpon?
“Halo?”
“Kak, kau ada di apartemen sekarang?” tanya Alinisya. Alesya tidak suka dengan ini semua, jika ia boleh berbicara kurang ajar—ia benci jika adik kembarnya terus mengunjungi apartemennya.
“Tidak.”
“Kau dimana?”
“Look, Ali. Dimanapun aku sekarang, itu tidak penting. Aku merasa aku tidak perlu memberi tahu dimana posisiku sekarang—tidak ada gunanya untuk kita berdua.” Peduli setan jika adiknya akan menangis setelah mendengar ucapannya.
Terdengar helaan nafas dari seberang, Alinisya tahu, apa yang terjadi di keluarganya memang permasalahan sederhana. Namun, kesalahpahaman yang membuatnya menjadi tambah sulit.
“Fine. Tapi, berhati – hatilah.”
Dan tanpa mengatakan apapun, Alesya langsung menutup telponnya. Persetan dengan gadis itu!
Alesya menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke jendela mobil. Tanpa ia sadari, pria di sebelahnya memandanginya sedari tadi.
“Siapa?” Alesya mengalihkan pandangannya pada Kent. Pertanyaan yang cukup ambigu, namun Alesya cukup mengerti apa yang dimaksud Kent.
“Adikku,” jawabnya. Ia tak peduli bahwa Kent ingin tahu lebih dalam tentang keluarganya.
“Kau mempunyai adik?” Sudah Alesya duga, pasti Kent akan menanyakan itu.
“Memangnya mengapa jika aku mempunyainya?” ucap Alesya sarkastik. Dan hebatnya, Kent langsung terdiam. Selama ini tak ada yang dapat membuat Kent langsung terdiam dengan pernyataannya. Hebat sekali, Alesya!
Drrt.. drrt..
Sekarang ponsel yang ada di saku Kent bergetar, Kent langsung menjawabnya, tidak peduli jika saat ini ia sedang menyetir sekalipun.
“Ya, Mom?”
“....”
“Apa? Bagaimana bisa?”
“...”
“Apa dia tak apa?”
“...”
“Aku akan ke sana.”
Tutt..
Kent mematikan ponselnya dan wajahnya berubah menjadi gusar. Melihat gelagatnya, bisa Alesya pastikan ada masalah yang terjadi.
“Kenapa—”
“Sepetinya do’a mu terkabul, kita harus kembali sekarang.” Seperti sudah tahu apa yang akan ditanyakan Alesya, Kent langsung memotong perkataannya.
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Adikku kecelakaan, dan kondisinya kritis, ibuku benar – benar panik, dan sekarang semua keluargaku sudah berada di rumah sakit, jadi ia memintaku untuk cepat pulang,” jelas Kent. Gerakannya semakin gusar dan membuat Alesya ikut panik.
Alesya dapat melihat air muka Kent yang berubah menjadi sangat khawatir, dan Kent menambah kecepatan mobilnya. Seketika itu, Alesya termenung. Apa keluarganya akan seperti itu bila ia kritis? Atau bahkan meninggal dunia? Apa Nada akan sepanik ibu Kent? Apa ayahnya akan segusar Kent, ketika tahu kondisi Alesya?Apa adiknya akan menangis sejadi – jadinya ketika Alesya pergi?Apa semua keluarganya akan peduli padanya layaknya keluarga Kent?
Adik Kent benar – benar beruntung, keluarganya mencintainya, memperhatikannya. Terkadang, dirinya juga berharap bahwa ia mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan ia kritis. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan keluarganya. Karena sedingin dan sedatar apapun dirinya pada keluarganya, ia tetap menginginkan perhatian dan kasih sayang yang belum pernah ia dapatkan.
Terutama kasih sayang dari seorang ibu, Alesya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika tangan Nada mengusap kepalanya, mengecup dahinya dengan lembut dan membisikkan kata – kata yang menenangkan.
“Jangan panik, Kent. Kepanikanmu tidak akan merubah apapun,” ucap Alesya, ia tidak ingin terlihat terlalu mencampuri permasalahan bosnya itu. Seketika itu juga Kent memelankan mobilnya, menatap sorot mata Alesya. Dan di saat itu juga ia merasa tenang. Kata – kata Alesya berhasil menenangkannya.
***