Part 6

1127 Kata
Pesawat mereka mendarat pada pukul 8.47 waktu setempat. Alesya segera turun dari pesawat diikuti Kent di belakangnya. Mereka langsung menuju mobil mewah yang sudah disiapkan oleh bodyguard Kent. “Selamat pagi, Tuan Kent,” sapa pria itu dan hanya dibalas anggukan oleh Kent. Sopirnya membukakan pintu untuk ‘sang majikan’ dan perempuan yang disampingnya. Canggung. Rasa itu melingkupi suasana di dalam mobil Kent. Sejak tadi, tidak ada diantara mereka yang berani membuka suaranya. “Kent.” “Alesya.” Oops! Mereka berbicara bersamaan. Rasa canggung itu datang lagi. Kent mencoba menetralkan degup jantungnya. Dan berdeham. “Kau dulu, Alesya.” “Hm.. apa kita masih lama sampainya?” “Sebentar lagi kita akan segera sampai di hotel.” Alesya menganggukkan kepalanya. Tanda mengerti. “Apa yang akan kau tanyakan, Kent?” “Apa kau tidak apa – apa?” tanya Kent. “Aku? Memang aku kenapa? Aku tidak apa – apa, I’m fine.” “Maaf untuk yang tadi,” ucap Kent membuat ambigu. Namun, Alesya langung mengerti apa maksud dari kata maaf itu. Maaf karena saat Alesya terbangun pagi ini, tangan Kent membelit pinggangnya sangat erat dan membuat Alesya hampir menjerit karenanya. Alesya tidak dapat berkutik, hanya menunggu hingga Kent bangun dan alhasil membuat Kent ikut salah tingkah. “Iya, tak apa,” jawabnya diakhiri senyuman yang terukir di wajah cantiknya. Senyum itu, benar – benar indah. Cantik. Kent merasa ia kehilangan akalnya karena mengakui sekretarisnya itu cantik. *** Mobil mereka sudah terparkir di depan hotel mewah itu. The Pierre. Salah satu hotel bintang lima di Manhattan, New York City. Alesya benar – benar terpukau dengan design yang berada di hotel ini. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Manhattan, NYC dan ia akan menginap di hotel mewah bintang lima? Sungguh impian! Sebenarnya Alesya yakin bahwa keluarganya pasti pernah menginjakkan kaki di sini. Walaupun tidak sekaya keluarga Wijaya, Alesya tahu jika Rio Mahendra berasal dari kalangan yang berada. Namun, sedetikpun Alesya tidak pernah merasakan apa dampak yang dihasilkan dari kekayaan keluarganya itu di hidupnya. Alesya masih ingat ketika Alinisya berteriak memasuki kamarnya sambil berucap bahwa mereka akan pergi liburan ke luar negeri, dan memaksa Alesya untuk ikut. Tentu saja Alesya juga tetarik, apalagi saat itu ia masih berusia lima belas tahun. Masih terlalu muda untuk menolak ajakan itu. Ia pun segera mengemasi barang – barang yang akan dibawanya. Ternyata apa yang ia dapat tidak sesuai ekspektasi. Nada yang bingung kenapa anak pertamanya menyeret koper ke ruang keluarga dan Alesya yang bingung kenapa kedua orangtuanya menatapnya seolah ia melakukan kesalahan. “Kita tidak akan membawamu, Alesya. Kau tetap disini dan, bukankah kau akan pergi berlomba?” Sialan. Andai saat itu Alesya sudah cukup dewasa untuk membalas perkataan orangtuanya. Akhirnya, sebagai anak yang tidak pernah dianggap, Alesya kembali ke kamarnya dan mengembalikan baju – bajunya ke lemari. Menangis dan berusaha untuk tidak menyumpah serapahi kedua orangtuanya. Ia dapat melihat sorotan mata bersalah dari Alinisya itu. Tapi ia tak peduli. Ia kesal. Benar – benar kesal. Damn it. “Alesya,” panggil seseorang di hadapannya. Ia terlalu banyak melamun sehingga tidak menyadari keberadaan Kent. “Hm?” Alesya tak berniat menjawab Kent. “Apa yang kau pikirkan?” Teruslah bertanya, Kent. Teruslah bersikap peduli pada wanita ini, you suck, Kent! “Tidak,” jawab Alesya sekenanya. Mereka kemudian langsung menuju kamar yang akan mereka tempati. Karena Kent sudah lebih dulu mem-booking kamarnya. “Ayo, ini kamar kita,” Alesya mengerutkan dahinya. Tidak mengerti maksud kita di perkataan lelaki itu. “Kita? Bukan, Tuan Kent, bukan kita, tapi aku, bukankah kau memesan dua kamar?” “Tidak, aku hanya memesan satu kamar,” jawab Kent dengan nada tenang seolah itu bukan masalah besar. “Kent, are you drunk? Aku tidak mungkin satu kamar denganmu. Kenapa kau hanya memesan satu kamar? Pokoknya, Aku. Tidak. Mau,” ucap Alesya dengan nada setengah tidak percaya. Ia tidak mungkin dan tidak pernah mau berada dalam satu kamar dengan pria itu. “Alesya, aku ingin istirahat sebentar, ayo cepat masuk.” Tanpa memedulikan nada protes Alesya, Kent menjawab dengan suara yang menunjukkan jika ia benar – benar lelah. “Aku akan memesan kamar hotelku sendiri,” ucap Alesya dingin dan segera berbalik meninggalkan Kent. Bohong besar, Alesya yakin ia tidak bisa memesan satu kamar hotel disini tanpa menghabiskan tabungannya. Tapi sebelum Alesya benar – benar pergi, Kent lebih dulu menarik tangannya dan menghimpit tubuhnya ke tembok. Ya Tuhan.. entah ini keberapa kalinya ia dan Kent berada di posisi sedekat ini. benar – benar dekat seperti ini. Kent tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berada di dekat wanita ini. Alesya terlalu memiliki daya tarik yang kuat. “Kenapa kau tidak mau? Aku yakin seluruh wanita akan dengan senang hati berada satu kamar denganku,” jawab Kent dengan suara beratnya. Sialan!Alesya mendorong d**a bidang Kent sekuat tenaga. Ia yakin mukannya sudah seperti udang rebus. Pasti sangat merah. “Maaf mengecewakanmu, Tuan, tapi aku bukan termasuk kategori ‘seluruh wanita’-mu itu. Aku—” Karena kesal akhirnya Kent membungkan Alesya dengan mencium bibir wanita itu dan menghimpit tubuhnya ke tembok. Alesya membelalakan matanya. My first kiss! Kini Alesya tidak tahu harus bagaimana, nalurinya mendorongnya untuk menutup mata. Tapi, seharusnya ia mendorong keras d**a Kent karena ketelaluan menciumnya. Alesya merasakan bibir Kent menyapu lembut bibirnya, berusaha membuka mulut Alesya lebih dalam. Godaan itu membuat Alesya membalas ciuman tersebut. Wajah Alesya kian memerah. Kakinya benar – benar lemas seperti jelly .Kent yang tahu apa yang Alesya rasakan, mengangkat tubuh Alesya. Alesya kembali dibuat terkejut. “Kent turunkan aku! Apa yang kau lakukan?! Aku berat, dasar konyol!” “Kau bahkan terlalu ringan untuk wanita seumuranmu, dan kau harus tidur disini, bersamaku,” jawab Kent tak terbantah. *** Kent menaruh tubuh ramping Alesya di kasur empuk itu. Dan ia duduk di sisi ranjang. Memperhatikan wajah cantik yang memerah itu. Benar – benar menggemaskan! “Aku mandi dulu,” ujar Kent memecah keheningan, namun matanya tetap tertuju pada wanita di depannya. Tanpa menunggu jawaban dari Alesya, ia kemudian bangkit dan menuju kamar mandi. Alesya terdiam. Apa yang telah di lakukannya? No, ini semua salah, gadis dalam dirinya berteriak bahwa pemikirannya itu salah. Kini ia hanya bisa menelungkupkan wajahnya diatas bantal. Mukanya pasti masih memerah. Setelah setengah jam, Kent keluar dari kamar mandi dengan keadaan shirtless. Alesya menelan ludahnya dengan susah payah. Ini kali pertama ia melihat laki – laki dewasa berpenampilan shirtless dihadapannya. Oh, my boy... “Ada apa, Alesya?” sialan! Pasti pria ini tahu apa yang ada dipikirannya. Alesya segera membuang muka ke lain arah. “Kent, pakai bajumu!” Kent yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kecil. “Alesya, aku tak terbiasa tidur memakai baju, jadi kau harus terbiasa akan hal itu.” “Apa maksudmu, Kent? Kenapa kau melakukan ini?!” tanya Alesya tidak bisa menahan kekesalannya. Kent mengerutkan dahinya, seolah bertanya. “Apa maksudmu membawaku kesini? Lalu, kenapa kita harus tidur satu ranjang? Dan, kenapa kau menciumku?!” Kent akhirnya mengerti maksud Alesya. Ia tersenyum miring. “Because i wanted to.” Bisikan itu membuat bulu kuduk Alesya meremang. Ia terdiam ketika melihat Kent berbaring dan bersiap untuk tidur. Alesya  hanya bisa memutar bola matanya kemudian berbalik badan dan memunggungi Kent. Peduli setan dengannya! Apa pun yang akan pria itu lakukan, ia tak akan peduli. Ia memejamkan matanya. Tak berapa lama, ia sudah berada di alam mimpinya. “Aku juga tidak tahu, Alesya. Aku tidak tahu kenapa aku sangat tertarik denganmu.” Kent berbicara pada udara kosong. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN