1 Permulaan
Seorang gadis cantik berperawakan mungil berjalan dengan langkah ringan menuju rumah yang ia huni bersama kedua orangtuanya serta adik perempuan kesayangan nya. Dia baru saja kembali dari kebun tetangga yang meminta nya untuk datang, tapi ketika sampai disana Evelyn malah diminta untuk menemani sang pemilik kebun untuk mengobrol pada awalnya ia bingung namun pada akhirnya Evelyn dengan senang hati dia menemani wanita paruh baya itu. Ketika hampir sore hari Evelyn baru dibiarkan pulang dengan membawa sekeranjang buah apel bersamanya.
Sinar matahari membuat kulit putih sehalus porselen itu kian bercahaya, wajah cantik dengan hidung mancung dan pipi bersemu merah serta bibir tipis berwarna pink membuatnya sangat terlihat memikat. Evelyn menyapa dengan ramah setiap orang yang berpapasan dengan nya di jalan. Selain cantik Evelyn terkenal dengan keramahannya, nilai tambah yang membuat dirinya seringkali mendapat lamaran tak terduga dari banyak pria.
Walau begitu Evelyn selalu menanggapinya dengan sopan serta penolakan halus agar tidak menyakiti hati para pria itu. Tak jarang ia mendapatkan lamaran demi lamaran yang datang ke rumah, ibunya sendiri mulai lelah menghadapi orang-orang yang hampir setiap hari mengetuk pintu rumah nya. Yang mengejutkan adalah bagaimana bangsawan sekelas marquess serta count datang membawa lamaran untuk menjadikan Evelyn sebagai selir atau pun istri sah yang langsung ditolak tanpa berpikir oleh ibunya, bagaimana bisa putrinya ditukar dengan sekarung emas dan omong kosong kasta sosial? Pada akhirnya Ayah Evelyn mengambil inisiatif dengan mengatakan pada setiap pria itu jika Evelyn akan menikah jiak dia menginginkan nya.
Ketika sampai dihalaman rumah, Evelyn menatap bingung pada 2 orang ksatria di depan rumah nya terlihat kedua orangtuanya memohon pada kedua prajurit yang sepertinya utusan dari istana. Evelyn mempercepat langkah nya dan bertanya pada Ibu nya yang menatapnya dengan berkaca-kaca.
"Ibu sebenarnya ada apa ini?" tanya Evelyn khawatir. Tentu saja ia merasa khawatir mereka baru setahun pindah ke tempat ini, bisa dibilang mereka adalah pendatang dan bukan rakyat asli dari kerajaan athanasia.
Merasa tidak akan mendapatkan jawaban dari Ibu nya, Evelyn beralih pada kedua ksatria yang masih setia berdiri tanpa ekspresi.
"Kami hanya menyampaikan perintah pada semua kepala keluarga yang tinggal dibawah kekuasaan yang mulia Raja Albert. Untuk mencalonkan anak gadis mereka yang berusia minimal 15-17 untuk menjadi kandidat calon istri para Pangeran." Ksatria itu membacakan ulang isi dari apa yang tertera pada perkamen.
Wajah Evelyn memucat kembali ia bertanya untuk memastikan sesuatu. Evelyn sempat mendengar hal ini dari bibi pemilik kebun bahwa Ratu Arnetta mengeluarkan ultimatum tentang pernikahan kerajaan. "Dan jika saya menolak perintah tersebut maka apa yang akan terjadi?"
Ksatria itu saling berpandangan tidak menyangka jika gadis ini akan menanyakan hal tersebut, karena beberapa gadis sebelumnya dengan senang hati langsung memasuki kereta kuda.
"Maka keluarga anda dianggap sebagai penghianat kerajaan."
Perkataan singkat itu membuat Evelyn kembali bertambah pucat, jika ia menolak maka bisa dipastikan keluarganya akan menerima hukum gantung dari Raja Albert. "Tetapi bukankah hanya gadis bangsawan yang mengikuti pencalonan ini?"
"Tidak, yang mulia Ratu Arnetta membebaskan semua gadis dari golongan apapun untuk datang ke istana. Tapi jika anda tidak terpilih maka anda bisa kembali pulang pada keluarga anda." lanjut si ksatria ketika melihat wajah Evelyn pucat.
Evelyn menghembuskan nafas lega, jadi masih ada kemungkinan ia tidak akan terpilih oleh para Pangeran dan bisa kembali pada keluarga nya. Evelyn mencoba meyakinkan dirinya jika ia tidak mungkin terpilih banyak gadis sebaya nya yang memiliki kecantikan jauh di atas dirinya. Setelah dapat meyakinkan dirinya sendiri Evelyn memilih untuk memenuhi perintah dari Raja Albert.
"Ibu aku akan pergi bersama mereka." Ibunya terlihat terkejut lalu menggenggam tangan putri nya erat. "Tidak! kau tidak harus pergi! Biar Ibu dan Ayah mendapatkan hukum dari Raja-"
Evelyn memeluk ibunya berusaha menenangkan nya, karena ia mengerti jika ibunya yang paling tahu jika ia tidak mau dipaksa untuk mengikuti apa yang tidak diinginkan nya. "Ibu, aku tidak apa-apa Sungguh. Lagipula kecil kemungkinan untukku terpilih menjadi calon istri Pangeran." ucapan Evelyn tidak membuat Ibu nya merasa tenang karna ia sangat yakin jika putri nya akan terpilih entah oleh Pangeran ataupun putra mahkota.
Setelah perdebatan panjang antara Evelyn dan Ibunya akhirnya sang Ayah menengahi dengan berkata. "Istriku jika itu keinginan Evelyn maka seharusnya kita sebagai orangtua merestui nya. Dan apa yang dikatakan putriku itu ada benarnya masih ada kemungkinan dia tidak akan terpilih."
Perkataan sang Ayah disambut dengan anggukan dari Evelyn.
"Putriku! Aku yang melahirkan nya!" tekan Ibu Evelyn yang tidak terima dengan ucapan suaminya.
Evelyn tertawa melihat kedua orangtuanya berdebat pemadangan yang mungkin akan sangat dirindukan nya nanti. Para ksatria yang sejak awal masih menunggu merasa jika mereka adalah bandit atau pun penjahat terkejam yang memaksa orang lain untuk dibawa ke kandang singa, diam-diam ikut merasa lega karena Evelyn bersedia untuk ikut dan tidak membuat semuanya menjadi semakin rumit.
"Iya Ibu aku putrimu. Jadi tolong izinkan aku untuk memenuhi perintah Raja kita." bujuk Evelyn yang akhirnya membuat Ibunya luluh.
"Baiklah jaga dirimu baik-baik disana." ucap sang Ibu sambil memeluk putri kesayangannya erat.
Setelah bersiap dengan waktu singkat Evelyn naik keatas kereta kuda yang akan membawanya menuju istana. Sekali lagi Evelyn menatap wajah kedua orangtuanya sendu ia melambaikan tangan nya dengan setengah hati, bahkan ia tidak sempat berpamitan dengan adik kecil nya. Dalam hati Evelyn berjanji akan kembali berkumpul bersama keluarganya.
...
Evelyn menoleh kearah jendela, melihat bagimana awan bergerak diatas langit biru yang terlihat cerah hari awan mendung tidak menyelubungi langit dengan warna abu-abu nya.Pemandangan diluar jendela mengaburkan semua pikiran di otak Evelyn. Ia harus memikirkan cara agar dirinya bisa kembali tanpa menarik perhatian para Pangeran.
"Aku harus pulang karena aku sudah berjanji." Gumam Evelyn sambil melepaskan ikatan rambut nya, membiarkan mereka terurai dipunggungnya. ia menyandarkan kepala nya pada dinding kayu, hari ini terasa menguras energi nya hingga ia merasa lelah. ia berharap semua ini segera berkahir sehingga ia dapat kembali menjalani kehidupan normal nya.
Terdengar suara riuh diluar sana ketika mereka mendekati gerbang istana, rakyat melihat kereta-kereta yang mungkin akan menjadi Ratu mereka dimasa depan, bersorak-sorai gembira. ada banyak lampu-lampu yang dipasang dan bunga-bunga yang dibagikan untuk setiap orang untuk menyambut hari bahagia ini.
Semua orang terlihat bahagia kecuali dirinya, Evelyn menghela nafas, pikirkanlah ada begitu banyak gadis dari penjuru negeri terlalu banyak wajah cantik sehingga tidak mungkin akan ada yang memperhatikan nya.