"Aku tidak tertarik dengan semua kemewahan yang ditawarkan ketika aku memiliki sebuah keluarga yang lengkap."
-Queen Evelyn-
_o0o_
Evelyn melangkah keluar dari kereta kuda di bantu oleh seorang pelayan.
Bersamaan dengan itu para gadis lain juga keluar dari kereta kuda yang membawa mereka dari berbagai tempat di seluruh negeri.
Evelyn yang baru datang langsung menjadi sorotan dari para gadis cantik lain diantara mereka mulai merasa terancam dengan keberadaan Evelyn. Evelyn mengacuhkan tatapan penasaran dari para gadis itu dan lebih memilih mengikuti pelayan yang tadi membantunya ke dalam istana. Jika dibandingkan dengan mereka semua yang benar-benar bersiap untuk datang kemari maka sangat wajar untuk Evelyn diperhatikan, ia hanya menggunakan gaun biasa yang tidak mengembang tetapi sangat nyaman untuk nya. Langkah Evelyn sampai pada sebuah ballroom yang sangat luas dan lagi-lagi dirinya harus menjadi pusat perhatian para gadis lain disana.
Dengan langkah tenang Evelyn menyingkir ke sudut ruangan tepat di samping sebuah jendela besar yang menampilkan pemandangan indah yang memanjakan mata. Kebun mawar itu terlihat seperti lautan darah dari atas sini. Evelyn hanya berdiri dengan tenang sembari mengabaikan sekeliling yang menjadikan nya pusat perhatian entah apa yang menarik dari dirinya sampai-sampai harus ditatap sampai sedemikian rupa.
"Hai, siapa namamu? Aku Jeselyn." tanya seorang gadis yang membuat Evelyn mengalihkan pandangan nya kearah gadis yang mengulurkan tangan kearahnya.
"Evelyn." jawab nya ramah sambil menyambut uluran tangan gadis itu.
Gadis bernama Jeselyn itu terlihat terkejut membuat Evelyn merasa sedikit kebingungan.
"Oh astaga! Jadi namamu Evelyn gadis cantik yang terkenal itu bukan ?!" ujar Jeselyn dengan nada kagum yang tersirat jelas. "kau tahu berita tentangmu yang menolak lamaran marquess Eden menyebar dengan luas, kau sangat luar biasa berani menolak tua bangka tidak tahu diri itu!"
"Oh tidak, aku tidak suka itu." Evelyn merendah tidak ingin mendapatkan pujian seperti itu. Ia tidak terbiasa dan tidak akan terbiasa dengan pujian orang-orang terhadap dirinya. Apa lagi jika ini berkaitan tentang lamaran-lamaran itu.
"Kau terlalu merendah. Jadi, Bagaimana menurutmu dengan ... Ini?" Tanya Jeselyn yang sepertinya sudah merasa akrab dengan Evelyn yang ramah dengannya, tidak seperti gadis-gadis lain yang saling menganggap satu sama lain adalah musuh yang harus dijatuhkan untuk mendapatkan perhatian dari para Pangeran.
"Apa nya?" tanya Evelyn yang tidak mengerti arah pembicaraan gadis manis disampingnya kini.
Jeslyn manatap wajah cantik Evelyn dengan raut tidak percaya, entah Evelyn benar-benar tidak peduli atau apa tapi sejak awal gadis ini memang telah bersikap acuh.
"Maksudku apa kau percaya jika kita akan terpilih menjadi kandidat calon istri pangeran!"
Evelyn terdiam di tempatnya. Perlahan ia menggelengkan kepala nya, kedua mata nya melihat sekelilingnya yang berdandan cantik. Jauh berbeda dengan Evelyn yang berpenampilan sederhana karena langsung dibawa pergi oleh para prajurit istana.
"Aku sama sekali tidak berminat menjadi seorang putri." ucap Evelyn pelan ia benar-benar tidak tertarik dengan apapun yang berkaitan dengan kekuasaan.
Mendengar itu kedua mata Jeselyn terbelak tak percaya sama sekali tidak menyangka jika gadis tercantik di kota Primavera sama sekali tidak berminat menjadi seorang calon istri dari seorang pangeran. Ku ulangi Pangeran!
Di mata nya kini Evelyn serupa dengan jarum emas diantara tumpukan jerami. sangat sulit ditemukan hingga terasa membingungkan.
"Kau pasti bercanda Evelyn." ujar Jeselyn tidak percaya.
Mendengar itu Evelyn hanya mengangkat bahu tanda jika ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu.
"Aku hanya ingin berkumpul kembali dengan keluargaku, itu saja. Lagi pula aku sama sekali tidak tertarik dengan tahta atau gelar apapun dari kerajaan ini." Jelas Evelyn memandang kosong ke arah jendela. Ini bahkan belum lewat tengah hari tetapi ia sudah merasa merindukan keluarga nya.
"Jadi begitu, padahal aku sudah sangat yakin jika kau akan terpilih menjadi istri dari salah satu Pangeran Evelyn." Ujar Jeselyn sambil menghembuskan nafas berat.
Evelyn tertawa ringan dengan gerakan pelan ia menutup mulutnya mencoba menghentikan tawa. Perkataan Jeselyn terasa begitu menggelitik karena sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya. Mengapa semua orang sangat yakin jika ia akan terpilih? sementra Evelyn sendiri sama seklai tidak berambisi untuk bersaing dengan siapapun. Bahkan jika perlu ia kan langsung mengundurkan diri dari pencalonan ini.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Jeselyn? Belum tentu aku akan terpilih bahkan aku lebih menyakini jika malah kaulah yang akan lolos."
Jeselyn bisa menggelengkan kepala nya saat Evelyn mengatakan kalimat 'penghibur' untuk nya, dan dengan mudah nya gadis cantik ini malah tertawa karena merasa apa yang dikatakan sangat konyol. Oh tentu saja tidak! Lihat saja cara gadis itu tertawa sangat anggun dan berkelas.
Jeselyn sama sekali tidak akan pernah meragukan jika ternyata Evelyn adalah seorang putri yang menyamar dengan gaun sederhana. Lihat begitu banyak gadis dari ruangan ini yang iri melihat Evelyn, tutur kata dan gerakan tubuh yang begitu tertata serta dengan cantik nya wajah Evelyn benar-benar perwujudan seorang Putri maupun Ratu yang sempurna untuk kerajaan manapun!
"Aku tidak begitu yakin dengan apa yang kau katakan. Karena aku lebih percaya jika para Pangeran melihatmu, mereka akan langsung terpesona padamu pada saat itu juga dan melupakan kami semua yang ada disini." ujar Jeselyn yakin.
Evelyn tersenyum tipis memberikan tatapan pengertian pada Jeselyn. "Jeselyn apa tujuanmu hingga pergi sejauh ini?"
Jeselyn diam karna jawaban nya sudah sangat jelas yaitu menikah dengan salah satu Pangeran dan menjadi bagian dari keluarga kerajaan.
Evelyn tahu jawaban nya itu sebabnya ia tersenyum.
"Sama sepertimu aku juga memiliki tujuan, tapi mungkin kita berbeda karena aku kemari hanya untuk 'menghadiri' bukan 'menjadi' dan satu-satunya tujuanku adalah pulang." Evelyn berkata pelan. "Aku tidak tertarik dengan skemua kemewahan yang ditawarkan ketika aku memiliki sebuah keluarga yang lengkap."
"Ah, aku mengerti Evelyn." Jeselyn tersentak dan langsung tersenyum kikuk.
"Aku minta maaf karena berkata sedikit kasar padamu." Evelyn membungkuk sedikit mengisyaratkan jika dirinya merasa bersalah dan menghargai Jeselyn sebagai teman bicaranya.
Jeselyn buru-buru menahan tubuh Evelyn, gadis itu berkata dengan senyuman yang merekah. "Tidak perlu aku juga bersalah karena tidak mengerti posisimu." Jeselyn melepaskan pita rambutnya lalu memberikan nya pada Evelyn, "aku menyukaimu, aku rasa kita bisa bersahabat."
"Aku harap begitu." Kata Evelyn akhirnya.
Evelyn menerima benda itu menatapnya lalu bergumam terimakasih. Di Athanasia jika kau memberikan benda milikmu pada seseorang yaitu kau adalah orang yang spesial untuk nya. Evelyn melepaskan gelang nya yang terbuat dari mutiara putih, Evelyn memiliki banyak mutiara itu setelah diberikan banyak oleh seorang pelaut yang menjadi tetangga mereka sebelum pindah ke athanasia.
Evelyn memberikan benda itu pada Jeselyn, sampai gadis itu menganga karena melihat hadiah yang begitu berharga dari evelyn. ia semakin curiga dengan identitas asli Evelyn karena gadis itu terlihat santai seolah-olah mutiara ini sama sekali tidak bernilai. "kau yakin bukan bangsawan yang menyamar?"
"apa yang kau bicarakan?"