3 Sambutan

1002 Kata
Perbincangan antara Evelyn dan Jeselyn harus terhenti saat sebuah suara berwibawa penuh kharisma menginstrupsi, Evelyn menoleh mencari asal suara yang ternyata berasal dari Raja Albert yang datang bersama istrinya Ratu Arnetta. Kharisma pempin negri itu membuat semua orang yang ada disana menghormati mereka. "Selamat siang, ku ucapkan selamat datang untuk para gadis yang datang ke kerajaan Athanasía Semoga kalian merasa nyaman di sini..." Tanpa menunggu Raja Albert menyelesaikan sambutan-sambutan nya dengan tidak sabar Evelyn mengangkat tangan nya, membuat Raja albert melihat kearahnya. "Yang mulia jika saya tidak terpilih menjadi kandidat calon istri Pangeran. apakah saya bisa langsung pulang ke rumah?" tanya Evelyn meminta kepastian walaupun ia harus mengabaikan raut terkejut dari semua orang yang berada di ballroom tersebut, terutama sang Raja yang terlihat tertarik dengan gadis yang malah terlihat tidak ingin menjadi calon istri dari para Pangeran. mungkinkah gadis ini yang disebutkan oleh ksatria yang melaporkan pada nya jika anda seorang kandidat yang pada awalnya berniat untuk menolak perintah tersebut dan datang dengan ekspresi keberatan yang sama sekali tidak ditutupi. Raja Albert mengangkat tangan nya pada prajurit yang siap menangkap Evelyn yang lancang perintah perkataan Raja mereka. "Tentu saja, kau bisa pulang jika saat seleksi pertama kau gagal." ujar Raja Albert penuh wibawa. "Siapa nama dan berasal dari mana dirimu nona?" Tanya Raja Albert tertarik untuk melihat nama gadis itu. "Nama saya Evelyn, saya berasal dari kota primavera bagian barat kerajaan Athanasía. Yang mulia." Jawab Evelyn singkat. Raja Albert dan Ratu Arnetta terlihat tersenyum penuh makna tersirat lalu kembali melanjutkan sambutan-sambutan nya. .... Setelah sambutan yang panjang akhirnya para gadis itu digiring menuju kamar masing-masing untuk beristirahat sebelum makan malam dimulai. Evelyn mengikuti langkah seorang pelayan yang sopan membukakan pintu untuk nya lalu membungkuk hormat dan pergi tanpa kata. Sejujurnya merasa risih karena di perlakukan seperti seorang Putri, ia tidak terbiasa untuk dilayani dan tak akan pernah terbiasa. karena peraturan kerajaan lah yang mewajibkan semua orang untuk menghormati calon Putri yang mungkin akan terpilih menjadi Ratu selanjutanya di kerajaan Athanasía, membuat Evelyn harus menahan diri dan berdoa pada Tuhan semoga ia dapat segera keluar dari kerajaan ini. Evelyn melangkah masuk dan menemukan Jeselyn sedang duduk di salah satu dari dua ranjang di kamar itu. Jeselyn yang melihat kedatangan Evelyn langsung menghambur kearahnya senang. "Ternyata kau akan menjadi teman sekamar ku Evelyn." Ujar Jeselyn yang terlihat sangat senang bertemu kembali dengan teman baru nya. "Ah ya." Sahut Evelyn kalem, sejujurnya ia juga kaget jika ia dipasangkan dengan Jeselyn mengingat gadis-gadis lain yang berusaha menjaga jarak dari nya evelyn kira 10 hari ini akan diisi dengan kecangungan. Evelyn duduk dipinggir ranjang mengistirahatkan kedua kaki nya yang pegal setelah berdiri lama di ballroom. Jeselyn mengekori nya dan tidak bisa berhenti untuk tidak menatap nya dengan penasaran. "Kau pendiam sekali ya?" Tanya Jeselyn yang melihat sikap Evelyn yang tenang tidak seperti dirinya yang tidak bisa diam. Mendengar itu Evelyn hanya tersenyum tipis. "Aku hanya belum terbiasa dengan semua ini Jeselyn." Jeselyn mengerti jika Evelyn datang kemari dengan terpaksa berbeda dengan nya datang datang kemari dengan sukarela. "Kalau begitu ayo kita bersiap-siap untuk makan malam nanti." Jeselyn menarik tangan dan mendudukan nya di pinggir ranjang selagi ia memilihkan pakaian untuk gadis itu. dia berusaha membuat hubungan mereka lebih erat, jarang ada orang seperti Evelyn tidak tamak dengan kekuasaan. "Sejujurnya aku lebih memilih untuk berdiam diri disini." Evelyn berkata jujur, ia tidak mau bertemu dengan keluarga kerajaan atau gadis-gadis yang akan melirik sinis kearahnya nanti. Mendengar itu Jeselyn mendelik. "kalau kau tidak ikut lalu bagimana denganku? Kau pun tahu jika gadis-gadis disana tidak menyukaiku, hanya kau yang mau berteman denganku disini." Ungkap Jeselyn hanya memelas, saat di ballroom gadis-gadis itu tidak mau berteman dengan nya karena di anggap sebagai rival dalam memperebutkan hati para Pangeran. Hanya Evelyn yang terlihat tidak perduli pada itu semua dan itu membuat Jeselyn nyaman dengan keberadaan nya. Melihat sorot memelas itu, Evelyn menjadi tidak tega untuk berkata tidak akhirnya dengan berat ia mengangguk kan setuju setuju untuk datang saat jamuan makan malam. Ia tiba-tiba mengingat adik perempuan nya sering bertingkah laku sama hingga merasa tidak tega. Jeselyn langsung bersorak girang dan berhambur kearah lemari besar yang berisi gaun cantik di dalam nya. "Evelyn lihat kedua gaun ini begitu cantik hanya modelnya saja yang berbeda." Belum cepat dapat mencerna apa yang Jeselyn katakan padanya tubuh nya telah lebih dahulu di tarik ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Setengah jam kemudian Evelyn telah siap berkat kelihaian Jeselyn mendandani nya. Dengan gaun yang menunjukan kedua bahu, serta panjang yang menjuntai hingga telapak kaki berwarna maroon. "Lihat lah kau terlihat begitu cantik dengan gaun itu Evelyn!" Jeselyn berucap dengan nada bangga, jika dia adalah perancang gaun ini ia akan sangat terharu karena telah menciptakan masterpieace. Gaun itu benar-benar cocok bahkan tanpa bantuan perhiasan telah menonjolkan aura mewah dari si pemakai. Evelyn menoleh kearah Jeselyn yang masih belum berdandan karena sibuk merias nya. Ia bangkit dari duduk nya dan mendorong Jeselyn untuk segera berganti pakaian dengan sengaja ia menunjuk jam. "Terimakasih Jeselyn tapi sebaiknya kau berhias sekarang atau kau akan terlambat." "Kau benar!" Evelyn tertawa kecil saat melihat betapa panik nya Jeselyn saat melihat ke arah arah jam yang terletak di sudut ruangan. "Biar kubantu ..." ucap Evelyn membantu merapihkan rambut Jeselyn yang pirang bergelombang. "Sekilas kita terlihat sama dengan dandan ini, yang berbeda hanyalah rambutmu yang berwarna hitam pekat." Ucap Jeselyn memandangi rupa Evelyn melalui cermin. "Aku sangat iri melihat nya. Bagaimana kau bisa memiliki nya?" "Entahlah, mungkin karena Ibuku memiliki warna rambut serupa?" Sahut Evelyn sambil menggulung rambut Jeselyn dan memberikan nya jepit dengan hiasan mutiara. Hasil tangan Evelyn sangat terampil membuatnya terlihat anggun karena menunjukan leher jenjang nya. "kau tidak ingin rambutmu ku rapikan juga? aku cukup pandai melakukan walaupun tidak secantik hasil tanganmu." Jeselyn menawarkan diri ketika Evelyn tidak melakukan apapun pada rambut nya dan hanya membiarkan nya tergerai di punggung nya. Akan sangat cantik jika Jeselyn memberikan beberapa perhiasaan mengantung pada rambut Evelyn. Evelyn menolak dengan halus. "Tidak perlu, terimakasih. Aku lebih suka membiarkan nya tergerai." *** athanasía: B. Yunani yang artinya keabadian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN