4 Tes pertama

1033 Kata
Evelyn masih duduk diatas ranjang, hampir 10 menit sejak Jeselyn telah lebih dulu pergi ke ke ruang jamuan bersama madam lisel setelah merasa sia-sia membujuknya. Ia sungguh-sungguh tidak ingin datang tapi Jeselyn telah membuat nya berjanji untuk menyusul, lagi pula ini bukan suatu acara membuat nya harus datang tidak ada guna nya pergi ketempat yang tidak membuat nya nyaman. "Aku akan datang kesana sebentar lagi, kau pergilah lebih dulu." Ucap Evelyn saat itu. "Sepertinya sudah dimulai" Gumam Evelyn bangkit dari duduknya dan melangkah pelan kearah pintu. Disepanjang lorong Evelyn merasa tersesat ia mencoba kembali kelorong sebelumnya tapi seolah-olah ia berada di dalam labirin semakin Evelyn mencari jalan keluar semakin ia tersesat di dalam nya. Evelyn merasa ia sudah kali melewati tempat yang sama, sampai kedua kaki nya terasa lelah. Lorong ini benar-benar sangat sepi dari keberadaan pelayan ataupun ksatria sehingga ia tidak dapat bertanya kemana jalan keluar yang tepat. Hingga tanpa sadar pundak Evelyn ditabrak dari arah berlawanan oleh seseorang hingga terjatuh. "Maaf." ucap Evelyn mencoba bangkit ia sadar jika dirinya lah yang salah karena melamun ditengah jalan. "Nona Evelyn! Tuan muda maafkan kami." pekikan dari madam Lisel yang buru-buru menariknya pergi membuat Evelyn tidak sempat untuk melihat wajah pria yang menabrak nya tadi. "Madam Lisel ada apa?" tanya Evelyn saat Lisel buru-buru menarik nya pergi. Lisel melambatkan kakinya saat hampir sampai di ruang jamuan. "Nona tadi tersesat di istana para Pangeran, gadis-gadis disini dilarang untuk datang kesana." jelas Madam Lisel sembari memperbaiki tataan rambut Evelyn yang berantakan. "Ah! Maaf aku tidak tahu." ucap Evelyn menyesal, lalu ia tersadar akan sesuatu "tadi aku menabarak seseorang-" "Lebih baik Anda masuk kedalam nona." Madam Lisel mendorong tubuh Evelyn masuk seketika ruangan jamuan yang ramai ramai langsung sepi. Menyadari jika pusat perhatian teralih padanya hanya berjalan lurus kearah Jeselyn yang melambaikan tangan kearahnya. Padahal ia sengaja datang agak terlambat agar orang-orang tidak terfokus pada nya karena semarak makan malam. "Kemana saja kau sedari tadi?" tanya Jeselyn saat Evelyn telah duduk dikursi. "Aku sedikit tersesat tadi." Jawab Evelyn. Tanpa disadari oleh semua gadis disana ada lima orang Pangeran yang memperhatikan gadis-gadis itu dari atas balkon. Mereka terlalu sibuk, hingga tidak menyadari keberadaan pria tampan yang memperhatikan gerak-gerik mereka dalam diam. Kelima pangeran itu terfokus pada dua gadis yang sibuk dengan kudapan mereka sesekali dua gadis cantik itu berbincang. Terlihat sangat anggun sekaligus menyilaukan membuat gadis-gadis disekitar mereka menjadi abu-abu. "Kedua gadis itu bernama Evelyn dan Jeselyn bukan?" Tanya Pangeran Harry memastikan. "Bukankah Evelyn adalah gadis yang menarik perhatian yang mulia Raja dan Ratu saat penyambutan." sahut Pangeran Louis penuh ketertarikan. "Mereka memang menarik kuakui itu." Pangeran Edward. "Hei kenapa kau hanya diam Damian?" tanya Pangeran William pada saudara nya yang berstatus sebagai Pangeran mahkota. "Tidak ada." Jawab Damian fokus pada gadis bernama Evelyn yang disadari oleh saudaranya yang lain. *** Pagi-pagi sekali Evelyn terbangun karena Jeselyn yang menyeret nya keluar dari kamar masih menggunakan gaun tidur. Semua gadis dikumpulkan di halaman istana saat udara masih sangat dingin membekukan. keluhan mereka berhenti saat sebuah suara terdengar. "Maaf karena kalian harus berkumpul disaat udara masih begitu dingin tapi saat ini juga akan tes untuk menyisakan beberapa puluh orang gadis yang layak untuk tes berikutnya." Yang Mulia Ratu Arnetta muncul di atas tangga seorang teratas dengan mantel tebal. "Jangan khawatir tak ada lelaki pun yang akan melihat atau datang kemari jadi kalian bisa tenang." Evelyn mendengarkan perkataan Ratu Arnetta dengan tenang, ia khawatir dengan Jeselyn yang mulai menggigil kedinginan. Ketika mentel-mantel dibagikan dengan jumlah terbatas para gadis yang langsung berebut untuk mendapatkan nya. Evelyn mendapatkan satu saat tanpa sengaja mantel itu terjatuh dibawah kakinya, lalu Evelyn memberikan mantel itu pada Jeselyn tetapi gadis itu langsung menolak. "Tes masih panjang kau saja yang pakai, aku baik-baik saja," ujar jeselyn menolak menolak dengan halus. "Tapi kau menggigil!" Evelyn bersikeras memaksa. "Kalau tidak begini saja kita sama-sama menggunakan nya." Evelyn menyelimuti tubuh mereka berdua dengan mantel yang lumayan besar untuk membungkus tubuh mereka yang mungil. Tanpa sempat menolak akhirnya Jeselyn pasrah, sifat keras kepala Evelyn yang baru ia ketahui terlalu sulit untuk ditaklukkan. Salah satu pelayan melihat tingkah Evelyn dan Jeselyn langsung membawa masuk kedalam. Membuat mereka sempat kebingungan. "Ah jadi kalian yang pertama kali lolos dalam seleksi?" Ujar Ratu Arnetta senang mengetahui jika dua orang yang diperhatikan nya dari awal lolos. "Kalian tidak perlu bingung, aku hanya memberikan tes sederhana tapi cukup berguna. Calon putri yang baik pasti akan mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, tapi bisa kalian lihat mereka berebut tanpa memikirkan kondisi teman mereka sendiri." Ratu Arnetta menujuk gadis-gadis diluar sana yang mulai saling cakar berebut mantel kala udara semakin mendingin. Jeselyn menggerenyit merasa ada yang salah disini. "Yang Mulia Ratu." Ucapnya sopan, "Evelyn lah yang memberikan mantel ini, seharusnya saya didiskualifikasi." Perkataan Jeselyn membuat Evelyn terkejut. "Aku tahu tapi kau juga menolaknya karna penilaian Anda kan? Karna itu juga kau lolos." Sahut Ratu Arnetta memperhatikan satu persatu para gadis yang masuk kedalam ruangan. "Aku tidak menyangka jika hanya 30 orang gadis yang tidak ada egois dari mereka yang tadi berjumlah ratusan." Evelyn yang tadi sudah dilihat oleh seorang pelayan hanya termangu. "Jadi aku gagal pulang." ucapnya penuh penyesalan. "Uhm. Evelyn ayo kita kembali ke kamar." ajak jeselyn menuntun Evelyn yang terguncang. ketika mereka telah berada di dalam kamar Evelyn mulai membuka suara nya setalah pintu di tutup oleh Jeselyn. "Aku tak percaya kalau aku gagal untuk pulang." gumam Evelyn. "Aku merasa jika tes ini benar-benar sebuah jebakan." Jeselyn menangguki perkataan Evelyn yang menurutnya benar, tes yang sangat sederhana tapi menjebak. Walau sejujurnya lebih dari senang jika Evelyn tetap tinggal di istana menjadi teman nya. "Aku sendiri belum pernah mendengar tes seperti ini, mungkin ini baru diberlakukan sekarang." Menggenggam tangan Evelyn erat, "aku yakin kau akan bertemu dengan keluargamu suatu saat nanti Evelyn." ucapnya walau tidak yakin, Yang Mulia Ratu Arnetta sudah pasti tidak akan melepaskan Evelyn dengan mudah sebagai calon istri untuk para Pangeran mengingat potensi nya sebagi seorang calon Ratu masa depan. lagi pula siapa yang mau melepaskan berlian ini dengan sia-sia, bahkan jika Jeselyn berada di posisi Ratu Arnetta. ia akan langsung mengangkat Evelyn sebagai tunangan putra mahkota, mengabaikan seluruh peraturan yang berlaku. Akhirnya Evelyn mengangguk optimis. "Ya setelah ini pasti aku akan pulang!" Semoga saja ..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN