Pada tengah harinya para gadis yang tersisa melakukan tes berikut nya, Tes kesehatan atau lebih tepatnya fisik mereka harus sesuai dengan kriteria para Pangeran. pihak istana yang akan mengetes para gadis itu adalah orang kepercayaan milik Ratu Arnetta yang telah mencatat dengan jelas selera para Pangeran dalam sebuah buku.
Terkadang Evelyn masih bertanya-tanya jika tes ini dilakukan berdasarkan kriteria pangeran lantas mengapa Ratu Arnetta tidak membiarkan anak-anak nya menemukan sendiri pasangan hidup nya? dibandingkan harus membuat sayembara yang melelahkan ini. Dia pikir pangeran-pangeran itu tak kekurangan sumberdaya apapun untuk mendaptkan gadis yang mereka inginkan.
Evelyn dibawa ke sebuah ruangan, disana terdapat Madam Lisel yang tengah tersenyum kearahnya. Evelyn membiarkan Madam Lisel mengukur lingkar pinggang. Mencatat warna bola mata. Warna Rambut. Semua itu harus sesuai dengan kriteria yang para pangeran telah tetapkan dalam catatan pribadi mereka.
Tepat saat pemeriksaan penyakit dalam, Evelyn secara langsung memutar otak mencari alasan yang tepat agar dia tidak lolos dalam seleksi kali ini. Walaupun ada dokter yang memeriksa nya ia masih ditanya apakah ada gejala-gejala tertentu pada tubuh nya.
"Aku memiliki sakit perut parah beberapa tahun ini." Bohong Evelyn agar tes nya gagal.
Tapi Lisel hanya tertawa dan berkata. "koki kerajaan akan menyiapkan makanan berkualitas untuk nona agar lekas sembuh." katanya enteng.
"Anda lolos secara fisik dan penyakit Anda hanya dengan sakit perut parah dan mental yang belum siap, tapi nona lolos."Madam Lisel terkekeh geli saat Evelyn menganga kaget, Menyadari jika dirinya kembali gagal untuk pergi.
Evelyn keluar dari ruangan itu bersama dengan Jeselyn yang ternyata juga lolos seleksi. Gadis itu menahan tawa atas ekspresi kesal dan bingung dari Evelyn, karena saat pemeriksaan gadis sebelumnya itu dilakukan dengan cermat tanpa cela tapi ketika bagian nya tiba mereka seolah-olah hanya menanyakan sesuatu yang mudah.
"Bagaimana seleksi nya apa kali ini kau gagal?" tanya Jeselyn sumringah karena tahu jawaban nya yang menanti nya.
"Tidak, aku lolos." Suara Evelyn terdengar sangat nelangsa, ia sudah kehabisan energik untuk berbincang atau pun beralasan. semua yang ia katakan dipatahkan oleh beberapa kata oleh orang-orang, tidak membiarkan nya membuat kesalahan seperti semua telah dirancang agar ia lolos begitu saja.
Jeselyn menyadari nya, kedua sudut bibir nya tertarik membentuk senyum geli. Ia menepuk pundak Evelyn bertingkah seolah-olah ia prihatin pada gadis itu padahal pada kenyatan nya ia adalah orang yang paling senang atas kegagalan Evelyn selain Madam Lisel. Ini adalah kegagalan yang baik sehingga Jeselyn merasa harus merayakan nya.
"Bukanya kau sudah merancang kebohongan agar gagal? Memang alasan apa yang kau berikan?"
"Sakit perut parah." jawab Evelyn pelan membuat Jeselyn terbahak.
Dan benar saja jeselyn bersorak girang "siapa yang tidak akan meloloskan gadis sepertimu." Ujar Jeselyn sambil menyeret Evelyn yang seolah-olah kehilangan jiwa untuk kedua kalinya. "Kau itu diibaratkan dengan berlian di antara tumpukan emas, sangat berharga dan diperebutkan oleh semua orang. Jadi wajar saja jika mereka melakukan pengeculian atas kebohongan kecilmu itu."
Evelyn mendesah pasrah, pikirannya bercabang apalagi setelah mendengar penuturan Jeselyn. "Perumpamaanmu itu terlalu berlebihan untukku Jeselyn, kau lebih pantas menjadi bagian dari anggota kerajaan. Aku ini hanyalah gadis dari kalangan rakyat biasa tak cocok dengan kehidupan kerajaan." ujar Evelyn lagi-lagi merendahakan dirinya sendiri.
"Berhentilah merendah Evelyn, kau membuatku semakin rendah diri. Jika kau tidak pantas maka aku dan gadis lainnya akan lebih tidak pantas lagi." gerutu Jeselyn yang kesal jika teman barunya merendahkan dirinya sendiri, sesuai kenyataan Evelyn memang memiliki aura seorang Putri yang membuatnya tampak bercahaya diantara wanita lainnya.
Pada hari kedua Jumlah gadis semakin berkurang menjadi 25 orang, lebih sedikit dari yang diharapkan oleh semua orang. Sepertinya mereka tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan 5 orang terbaik, ternyata jangka waktu yang diperkirakan membutuhkan waktu 10 hari hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 hari.
Para pengurus istana saling berpendapat jika seleksi kali ini sangat sulit, mengingat standar yang ditetapkan para pangeran terlalu tinggi untuk para gadis dari golongan biasa itu. Bahkan mungkin gadis dari golongan bangsawan pun akan kewalahan mengikuti standar dari para Pangeran, yang menginginkan gadis yang mirip dengan Ibu mereka wanita nomor satu di kerajaan athanasía, Ratu Arnetta.
Mereka hanya berharap jika masih ada yang tersisa 5 gadis terbaik untuk menjadi istri sah dari Pangeran, menjadi lambang dari wanita kerajaan Athanasía yang bermartabat.
***
Evelyn menghembuskan nafas lelah. semua ini membuat nya merasa tertekan, menjadi seorang Putri bukanlah mimpinya tapi seolah-olah takdir sedang mempermainkan nya.
akhirnya ia duduk di sebuah taman bunga dengan tenang. Jeselyn sendiri telah menghilang entah kemana setelah Madam Lisel menghampiri nya.
"Ayah, Ibu. sepertinya ini akan berlalu dengan sangat lama." Gumam Evelyn melihat awan yang menggulung.
Bruk..
Suara berdebam dari pohon yang berada di dekatnya membuat Evelyn bangkit dan mencari asal suara. Seorang pria dengan pakaian ala bangsawan nya terjatuh dari atas pohon.
Evelyn menghampiri nya sedang mengusap tangan nya yang terluka, mungkin tergores oleh ranting-ranting pohon. Menunduk untuk melihat luka itu tanpa sadar Evelyn bisa meraih tangan nya. "Kau harus membersihkan luka ini." ucap Evelyn tidak menyadari jika pria itu terlihat terkejut dengan perlakuan nya.
Mungkin saja karna selama ini tidak pernah ada orang lain yang berani menyentuh nya selain anggota kerajaan.
Evelyn melihat kearah sumur langsung berdiri dan menimba air dengan ember, setelah merasa cukup Evelyn kembali.
Ia berjongkok di depan pria yang tidak dikenalnya itu lalu menyobek lapisan terluar gaun nya sedikit, membuat pria itu terkejut. "Maaf jika aku lancang." gumam Evelyn, mencelupkan kain itu ke dalam ember dan membersihkan luka.
Setelahnya, Evelyn kembali menyobek lapisan luar gaun agak lebar, lalu membebatkan nya pada lengan pria itu. Membuat simpul yang kuat namun tidak menyakitkan agar tidak lepas.
"Setidaknya dengan begini lukamu tidak akan terinfeksi. Aku permisi."
Evelyn menundukan tubuhnya sebelum pergi, namun cekalan ditangan nya membuat Evelyn berhenti. "Ya?"
"Kau tidak ingin tahu siapa aku?"
Evelyn menatap mata berwarna hijau itu heran, dilihat dari segi manapun bukankah sudah jelas jika pria ini seorang bangsawan? Tentu saja Evelyn tahu tapi ia tidak tertarik untuk bertanya.
Merasa tidak mendapatkan sahutan pria itu cekalan tangan nya, sembari berdeham lalu bangkit membuat tingginya menjulang jika dibandingkan denga Evelyn. "Aku Pangeran Louis, terimakasih untuk pertolonganmu."
Setelah mengatakan itu Pangeran Louis langsung berlalu, Evelyn masih terdiam ditempatnya. "Aku merasa ini tidak akan baik-baik saja."