Hari berlalu hingga Evelyn telah 4 hari berada di kerajaan athanasía untuk mengikuti seleksi calon istri para Pangeran. Dan seperti yang di duga Evelyn selalu gagal untuk untuk pulang, ia mulai patah semangat dan berencana untuk kabur jika kali ini ia lolos kembali.
"Madam Lisel beritahukan aku tes apa yang selanjutnya akan dilakukan?!" Tanya Evelyn setengah memohon, ia benar-benar harus gagal pada tes terakhir ini atau semuanya akan sia-sia.
"Tes Etiket kebangsawanan serta keanggunan tapi itu dimulai saat sore hari." Madam Lisel terlihat menahan tawa dengan batuk-batuk kecil, namun Evelyn sama sekali tidak menaruh curiga pada sikap madam Lisel. Pada tes kali ini Evelyn merasa beruntung karena ia bukan seseorang yang terlahir menjadi bangsawan ia tidak mendapatkan ajaran tentang etiket ataupun keangunan.
Ketika proses pengajaran dimulai, Evelyn makan dengan anggun seperti putri kerajaan yang terdidik, tata berjalan, postur tubuh yang sempurna. Evelyn mengingat semua itu agar saat tes sore hari nanti ia akan gagal. Untuk kali ini ekspresi nya terlihat cerah karena merasa akan langsung pulang begitu tes selesai.
Tapi seolah kenyataan menipunya, Madam Lisel benar-benar membohongi nya saat mengatakan tes akan dilaksanakan pada sore hari padahal kenyataan nya tes itu diberlakukan pada saat proses pengajaran! Yang artinya Evelyn melalui semua itu dengan sempurna hingga ia lolos diantara 10 gadis lain.
Evelyn mengurung diri di dalam kamar mandi sama sekali tidak mau keluar walau Jeselyn sudah berkali-kali berteriak bahkan mengedor-ngedor pintu karena khawatir, sampai akhirnya madam Lisel memanggil seorang ksatria yang bertugas menjaga kamar calon putri untuk mendobrak kamar mandi. Yang mengejutkan ternyata Evelyn tengah tertidur di dalam bak mandi yang kosong dengan tumpukan handuk, hal itu membuat Jeselyn marah-marah hingga matahari tenggelam.
"Kau jangan marah-marah terus padaku Jeselyn, kau itu calon istri Pangeran." Ucap Evelyn asal, telinga nya sudah cukup berdenging mendengar kecerewetan dari teman nya itu. Sangat mirip dengan ibunya di rumah dan itu membuat Evelyn kembali merindukan keluarga nya.
Jeselyn menatap Evelyn seakan-akan gadis itu tengah bermain-main dengan nya. "Kau juga calon istri Pangeran Evelyn! Astaga tak tahu kah kau betapa khawatirnya aku? Kukira kau pingsan atau ... atau kau mengakhiri hidupmu dikamar mandi."
Evelyn mendengarkan setiap ucapan Jeselyn dan tertawa saat Jeselyn mengatakan ia bunuh diri di kamar mandi. Namun Jeselyn malah terlihat murka "kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu dalam perkataan ku."
"Kau, kau yang lucu membuatku tertawa. Caramu mencerewetiku sangat mirip dengan Ibuku." jelas Evelyn tersenyum manis meski terselip sendu dalam nada bicaranya. "lagi pula siapa yang ingin mati? dunia terlalu indah untuk diakhiri sedini ini."
"Kau benar-benar ingin kembali ya?"
"Tentu saja."
"Apa? Bukankah lebih menyenangkan berada disini? Kau akan dihormati dan dikagumi? Bahkan kau tidak harus berkerja keras saat musim dingin tiba?" tanya Jeselyn berusaha mengatakan hal-hal yang mungkin bisa membuat Evelyn bertahan dikekaisaran ini.
Evelyn tersenyum maklum. Memang semua wanita menginginkan itu semua, tapi ia bukanlah salah satu dari wanita itu. "Apa gunanya tahta dan harta jika tidak ada cinta didalamnya? Bagiku keluarga adalah tempat ku untuk pulang dan berkumpul meski dalam kesederhanaan, cinta mereka lebih berarti dibandingkan rasa hormat para bangsawan dikekaisaran ini. Meskipun aku harus berkerja keras saat musim dingin tiba aku senang melakukan nya, karena saat aku lelah senyum keluarga ku adalah penghapus dari semua rasa lelah itu. " Ujar Evelyn panjang, tanpa sadar setiap membahas tentang keluarga, maka air muka Evelyn akan berubah melembut. Seakan-akan kehidupan nya dilingkupi dengan kasih sayang tiada batas.
"Kau membuatku iri." ucap Jeselyn akhirnya, "kau sudah dikagumi oleh semua orang tanpa harus menjadi seorang Putri dan hidupmu pasti sangat menyenangkan karena diberikan cinta sebesar itu dari keluargamu." lagi-lagi Jeselyn dibuat iri dengan kesempurnaan hidup Evelyn, tapi Jeselyn sama sekali tidak merasa marah yang ada dia makin menaruh kagum pada teman baru nya ini. Andaikan Evelyn bisa menjadi putri dari athanasía pasti sangat menyenangkan menjadi satu keluarga dengan nya.
Evelyn tersenyum lembut, menggenggam tangan Jeselyn erat. "Aku yakin salah satu dari pangeran itu akan memilihmu, dan Pangeran itu akan mencintaimu. Kau adalah tipe orang yang udah untuk dicintai Jeselyn percayalah jika kau mempertahankan sikap baik ini, maka jangan ragu dan merasa jika orang lain tidak akan menyukaimu."
" Akupun juga yakin kau akan begitu.." Jeselyn menunduk dalam kedua mata nya basah, besok adalah hari terakhir mereka di istana ini karena besok adlah hari penentuan. Dibandingkan merasa takut tidak terpilih Jeselyn lebih merasatakut jika tidak bisa lagi berhubungan dengan Evelyn dan kontak mereka terputus, "kau harus berjanju padaku bahwa setelah ini kita tetap akan berteman."
"Jangan menangis... Kau temanku Jeselyn dan akan tetap seperti itu meskipun kau menjadi putri dan aku tetap rakyat biasa." Evelyn sedikit bercandaia juga terbawa oleh suasana, banyak nya waktu yang dihabiskan membuat banyak kenangan untuk nya.
"kau masih saja bersikeras tidak akan terpilih ya." keduanya tertawa dan terus mengobrol sambil bergengaman tangan menghargai waktu yang ada.
***
Ditempat lain Ratu Arnetta menyesap minuman nya sambil menatap cahaya bulan. Malam yang sama yang merenggut seseorang yang sangat berarti untuk nya hingga jasad pun tak dapat ditemukan. "Banyak waktu yang berlalu aku masih tidak dapat menemukan keberadaanmu, sebenarnya kau dimana Elleanore?" Ratu Arnetta menghela napas panjang.
Sementara pangeran damian memandangi ibunya yang terus bersikap seperti ini setiap tahun saat bulan purnama, menderita oleh rasa bersalah. "Ibu kau telah berjanji padaku untuk berhenti minum." Damian mengambil alih gelas anggur dari ibunya dan langsung menjatuhkan seluruh isinya kearah bunga dibawah sana.
Ratu arnetta tersenyum pada putra nya, satu-satunya anak dari 21 tahun pernikahan nya dengan suami nya sedangkan 4 pangeran lain adalah anak dari selir di istana dalam yang ia besarkan dengan kasih sayang yang sama besar. Karena ia tidak pernah pilih kasih semua putrnya sangat bergantung pada nya dan tidak ada perpecahan untuk berebut tahta.
"Ibu ingkar janji ya? maafkan ibu, ini yang terakhir." katanya dengan ringan membelai wajah putranya yang telah dewasa.
"Apa yang membuat ibu gelisah hingga minum seperti ini?" ratu arnetta tak juga menjawab, akhirnya damian berkata lagi. "apa karena ayah mengambil beberpa orang selir lagi atau karena?"
"Salah satunya karena ayahmu, tapi tidak apa-apa ibu hanya cemburu tidak ada hubungan nya dengan dia." tidak ada seorang wanita yang tidak merasa cemburu jika suaminya berada dipelukan wanita lain. "jangan dipikirkan, ibu baik-baik saja sebaiknya kau fokus pada hari esok. temukan yang yang terbaik, yang ketika kau melihatnya kau akan merasa jatuh cinta setiap saat."