7 Pulang

1001 Kata
Hari ini adalah hari yang penting untuk semua orang karena pada hari ini para Pangeran akan memilih calon istri mereka. masing-masing gadis telah didandani sejak dini hari dibantu oleh para pelayan yang tak berhenti hilir mudik membawa barang-barang di tangan mereka. tak terkecuali Evelyn yang harus merasakan tubuh nya diseret-seret kesana kemari, mencoba gaun demi gaun. belum berakhir disana ia masih harus berendam dengan air s**u dan kembali harus didandani. Ia sangat ingin menolak tetapi Jeselyn dengan sigap membungkam mulut nya buah-buahan agar diam. Madam Lisel pun berada di kubu yang sama dengan Jeselyn jadi sama sekali tidak ada yang membela nya disini. Akhirnya Evelyn memilih diam dan membiarkan orang-orang mendandani tubuh nya, sesuka hati mereka tanpa banyak protes. Evelyn menggunakan gaun sederhana berwarna putih tulang yang menunjukan kedua bahu dan leher jenjang nya, model gaun sangat sederhana jika dibandingkan dengan kesembilan calon kandidat lain, yang dihiasi oleh bunga-bunga segar serta permata. Riasan wajah nya terlihat natural dengan kepangan rambut besar yang juga terlihat sederhana tanpa hiasan. Ia berhasil menolak semua perhiasan menjuntai untuk menyentuh leher nya selain sebuah pita sutra dirambutnya. Setelah semua gadis telah siap mereka dibawa kearah ballroom oleh didampingi oleh para ksatria yang mengiringi langkah mereka. Suara seseorang terdengar keras mengumumkan kedatangan para kandidat. Semua orang terlihat terpana pada setiap gadis yang satu persatu masuk kedalam ballroom. Evelyn hanya menundukan kepalanya tidak melihat kearah pangeran yang dikerubungi para gadis. Para tamu undangan dari kalangan bangsawan yang memenuhi ballroom itu terlihat terpesona pada kehadiran 10 gadis terbaik yang 5 di antaranya akan bersanding menjadi istri seorang Pangeran. Evelyn berdiri sejajar bersama kesembilan gadis lain, yang membungkuk pada kelima pangeran. Perlahan saat kondisi mulai tidak terfokus pada mereka, Evelyn berjalan mundur pergi ke pintu belakang ballroom yang terdapat taman mawar putih. Melihat sekelilingnya yang sepi Evelyn duduk di bangku yang mengarah langsung ke danau. Cahaya bulan terlihat memantul membuat suasana terasa damai dan tenteram. tempat itu jauh dari kesan bising seperti di dalam ballroom yang penuh dengan musik dan tawa para bangsawan. Ini adalah saat yang tepat untuk menyendiri dan kabur dari keramaian, jujur saja setiap kali Evelyn terjebak dalam kerumunan yang menjadikan sebgai pusat perhatian ia akan selalu merasa lebih cepat lelah dari biasanya. Sepertinya disini Evelyn dapat bernapas dengan lega tanpa harus menjaga sikap seperti saat berada di dalam sana. tidak akan ada yang menatap dengan pandangan menilai seakan-akan dia adalah benda yang nilai jual nya tergantung paada bentuk fisik. ia muak dengan semua itu, lantas jika suatu saat benda itu rusak apakah dia bukan lagi manusia yang berhak untuk dihargai? Ketika seseorang duduk disebelahnya Evelyn hanya melirik namun tidak berkata apa-apa. Suara lonceng terdengar tanda jika pesta dansa akan dimulai dan para pangeran akan mencari pasangan mereka, ya Evelyn sengaja untuk menghindar. "Lonceng sudah berbunyi kenapa kau tidak masuk ke dalam sana?" Ucap pria itu sebagai sapaan pertama. Dari cara berpakaian dan sikap Evelyn yakin jika pria ini adalah seorang bangsawan tinggi. Jika pria itu tak melakukan hal aneh maka Evelyn tidak akan menghindar tempat ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Evelyn menggeleng, "Aku lebih suka disini. Kau sendiri kenapa berada disini?" Evelyn bertanya balik, pada pria yang kini menyenderkan tubuhnya sambil menatap datar. "Karena aku lebih suka disini?" jawab pria itu meniru kata-kata-kata Evelyn sebelumnya. "Bukankah kau salah satu kandidat calon istri Pangeran? sepertinya para Pangeran sedang memilih saat ini, kau tidak takut terlewati?" "Biarkan saja, aku tidak ingin dipamerkan lalu dipilih sebagai penghias kamar." Jawab Evelyn sedikit pedas membuat pria itu terkekeh pelan. Pria itu terlihat sangat tertarik dengan isi pikiran Evelyn. "Cara berpikirmu lumayan unik. Pasti ada alasan lain selain itu?" "Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin pulang kerumahku." Jawaban Evelyn membuat pria itu terdiam cukup lama seolah-olah sedang menyikapi inti pembicaraan mereka. Cukup lama mereka diliputi oleh keheningan sampai lonceng kedua terdengar bergema sekali lagi, seketika Evelyn sadar jika semua Pangeran telah memilih para gadis itu, ia menghembuskan nafas lega karena dapat berkumpul kembali dengan keluarga nya. "Aku pergi, senang berbicara denganmu. Selamat tinggal." Ucap Evelyn sambil membungkukan tubuh nya sedikit lalu melangkah masuk ke dalam ballroom kali ini ia tidak peduli dengan mata yang menatap nya, fokus nya hanya tertuju untuk menemukan jeselyn diantara kerumunan orang, ia harus mengucapkan selamat tinggal sebelum kembali. Evelyn terharu ketika Jeselyn berlari kearahnya hampir menangis, Evelyn membentangkan tangan nya untuk memeluk sahabat nya dan memberikan selamat atas terpilihnya gadis itu. “Selamat ya, impianmu menjadi seorang putri akhirnya terwujud karena itu berbahagialah.” Ucap Evelyn tulus. Jeselyn melepaskan pelukan nya tapi kedua tangan gadis itu masih menggengam tangan Evelyn erat. Ia terlihat marah, sedih sekaligus kesal karena tidak dapat membaca rencana Evelyn untuk kabur. seharusnya ia tidak melaspakan pandangan nya sedikit pun dari gadis pemberontak ini. "Kemana saja kau tadi? Aku sampai mencarimu kemana-mana." Jeselyn menyusut air matanya. "aku tidak mau berpisah denganmu! Andai kau tadi tidak tiba-tiba menghilang pasti kau akan terpilih!" Jeselyn merengek karena tidak ingin berpisah dengan sahabat nya, hal itu membuat Evelyn merasa bersalah karena menghancurkan salah satu mimpi gadis itu yang ingin tinggal bersama sebagai kakak adik. "Aku tadi ke taman untuk menenangkan diri karna gugup hingga aku tidak sadar jika lonceng telah berbunyi. Maafkan aku." Terang Evelyn sedikit dia mendengar suara lonceng tadi sangat jelas namun ia enggan untuk kembali hingga acara usai. ia bahkan tidak merasa bersalah setelah berbohong seperti dan tampaknya Jeselyn menyadari kebahgiaan pada nada bicara sehingga gadis itu terlihat berniat untuk mengomeli Evelyn sekali lagi. "Para calon putri yang tidak terpilih dipersilahkan untuk pulang menemui keluarga anda, kereta kuda telah dipersiapkan untuk anda sekalian." Seseorang membacakan pengumuman yang ditunggu-tunggu oleh Evelyn. "saat kita bertemu lagi suatu saat nanti, kau bisa melanjutkan omelanmu Jeselyn." katanya membuat jeselyn mencubit sedikit punggung tangan nya karena kesal. Pemberitahuan itu membuat Evelyn memeluk tubuh Jeselyn sekali dengan erat. Pelukan perpisahan, mereka sadar jika setelah ini merasa tidak akan pernah bertemu kembali. "Aku harus pergi." Ucap Evelyn melihat empat gadis lain telah keluar dari ballroom. "Selamat tinggal Jeselyn." Evelyn melambaikan tangan nya perlahan, senyum terukir ketika akan melangkah keluar dari istana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN