Evelyn melangkah mengikuti empat gadis lain di depan tapi ketika ia akan keluar dua penjaga langsung yang menghalangi langkahnya. Mereka tak membiarkan Evelyn untuk lewat membuat semua orang terkesiap menanti-nanti kesalahan apa yang akan segera diumumkan oleh pihak istana.
"Ada apa?" tanya Evelyn heran. ia merasakan perasaan nya tidak enak ketika kedua penjaga itu hanya diam dan menunduk hormat saat berbicara pada Evelyn hingga gadis itu tidak merasa nyaman.
"Anda tidak boleh pergi nona karena anda dipilih langsung oleh Pangeran mahkota." kata penjaga itu membuat Evelyn terkejut. ia tidak terima dengan kata-kata itu dan menganggap bahwa ada kesalahpahaman disini. Jelas-jelas ia tidak mengikuti pesta bahkan wajah pangeran mahkota saja ia tidak tahu seperti apa rupanya. Padahal ia merasa tidak pernah bertemu ataupun berpapaasan dengan pangeran dan hanya menempel dengan Jeselyn.
"Apa?! Tapi seharusnya aku pergi bersama empat gadis itu!" Evelyn menunjuk empat gadis di depan nya yang ikut menghentikan langkah mereka karena mendengar keributan yang tiba-tiba. Tapi ternyata dugaan Evelyn salah seorang gadis muncul dari pintu lain dan bergabung bersama ke-empat gadis itu.
Seketika ballroom itu menjadi sangat sunyi bahkan helaan nafas terasa sangat keras diruangan luas itu. Mereka menanti-nanti kejutan apa lagi yang akan mereka lihat.
Tiba-tiba kesunyian itu dirobek oleh seseorang yang berjalan naik keatas tangga. Seorang pria yang sebelumnya tidak sengaja bertemu dengan Evelyn di taman tapi Evelyn sama sekali tidak menyadari jika pria itu mengenakan mahkota dikepalanya. Sungguh!
"Aku memilihmu untuk menjadi istriku, Evelyn." Perkataan nya bagaikan vonis mati untuk Evelyn.
Evelyn terhenyak, ia memundurkan langkahnya tidak percaya. Panik Evelyn langsung berbalik pergi sebelum para penjaga dan prajurit kerajaan sempat mengejarnya. Ia menuruni tangga dengan cepat, tidak ia tidak ingin terjebak menjadi anggota keluarga kerajaan.
Seorang Ksatria yang lewat menunggangi kuda langsung turun untuk mencegatnya namun Evelyn dengan sigap langsung menjegal kaki prajurit itu dan melompat naik keatas kuda. Selama perlarian itu Evelyn dibuat cemas jika ada prajurit dari kerajaan athanasía yang dikirim untuk menangkapnya. Tiba-tiba setitik benda berwarna putih turun membuat Evelyn mendongak.
"Salju?" gumam Evelyn, pantas saja udara sangat dingin membekukan bagian tubuh nya yang tidak dibaluti dengan kain ternyata turun salju.
Semua titik salju itu berubah seperti hujan dengan hembusan angin yang kuat, Evelyn tetap nekat menembus kabut serta angin dingin yang seolah-olah akan membekukannya. Jika ibu nya tahu jika ia menembus badai dan melarikan diri dari istana Evelyn tidak tahu akan semarah apa dia karena Evelyn membahayakan dirinya sendiri unruk menepati janji bahwa ia akan pulang.
Ketika ia melihat sebuah rumah yang dikenalinya, Evelyn membawa kuda nya mendekat. Lalu turun dari atas kuda membiarkan kuda itu pergi entah kemana, ia mengetuk pintu dengan ujung jari yang telah membiru karena kedinginan. Tak lama Evelyn Mendengar kegaduhan dari dalam dan tersenyum saat Ibunya membuka pintu dengan mata sembab.
"Ibu aku pulang." sapa Evelyn sebelum jatuh pingsan dalam pelukan Ibunya yang panik.
***
Udara hangat yang mendekapnya membuat Evelyn terbangun, ia melihat langit-langit berwarna putih kusam yang sangat fasih dimatanya. Lalu pandangan nya teralih pada seorang wanita yang tertidur samping ranjang mungilnya. menggenggam erat tangan nya.
"Ibu." Panggil Evelyn dengan suara serak, Ibunya terbangun dan langsung menyorot dengan cemas sekaligus lega.
"Kau sudah sadar nak? Ibu sangat cemas saat kau tiba-tiba datang dan pingsan! Apa tubuhmu terasa sakit? Katakan pada ibu!" tanya Ibu Evelyn dengan bertubi-tubi membuat Evelyn tertawa karena kecerewetan Ibunya adalah salah satu hal yang sangat dirindukan oleh Evelyn.
"Selain rasa panas ditubuhku dan mati rasa di kedua kaki dan tanganku, aku tidak merasakan apapun." Jawab Evelyn. ia menggerakan kedua tangan nya yang kaku, ia tertawa keecil karena ibunya terlihat sangat ingin menangis tapi menahan nya agar Evelyn tidak menggoda nya.
"Tentu saja kau kemari saat badai salju! Dan sekarang kau demam! Udara dingin membuat kaki dan tanganmu membeku. Ibu sangat khawatir saat melihat nya membiru." Ibu terlihat sangat marah dan kesal dengan tingkah Evelyn yang bisa membahayakan nyawa nya.
Senyum Evelyn yang tadi merekah perlahan surut, kedua mata itu terlihat menahan tangis.
"Ibu aku terpilih." Ungkap Evelyn walaupun sepertinya Ibunya sama sekali tidak terkejut saat mendengar nya. Evelyn melanjutkan, "Pangeran mahkota yang memilihku menjadi istri nya, aku tidak mau Ibu. Aku tidak ingin menjadi bagian dari keluarga kerajaan."
Ibu memeluk Evelyn mencoba menenangkan, ia telah menduga jika putri sulung nya ini pasti akan terpilih. Keluarga kerajaan tidak akan membiarkan putri cantik nya ini lepas begitu saja.
"Ibu mengerti, tidak apa-apa nak. Semua akan baik-baik saja."
tak butuh waktu lama hingga kamar kecilnya disesaki oleh tiga orang yang kini menceramahinya untuk mengurangi sedikit saja sifat keras kepala nya. Ayah nya juga tidak berhenti menggosok kaki Evelyn hanya karena ia berkata tidak dapat merasakan kaki nya. Mereka baru berbelaskasih untuk melepaskan nya setelah Evelyn mengerang karena sakit dan sesak di d**a nya.
Tanpa banyak bicara ayah nya langsung mendatangkan dokter kerumah, pria paruh baya memeriksa pernapasan Evelyn berdecak. "Paru-paru adalah hal terpenting selain jantung untuk menunjang hidup, kau harus lebih berhati-hati pada tubuhmu nona ... kau beruntung tidak terkena pneumonia dan hanya terkena gejala nya saja."
"Pneumonia?"
"Ya itu adalah infeksi pernapasan dimana terdapat cairan di satu atau kedua paru-paru. kau harus waspada dengan udara dingin disekitarmu kaarena itu dapat menganggu kesehatan. Setelah mungkin kau akan terus merasa kedinginan dan mengalami masalah pernapasan, aku akan memberikan antibiotik lalu kau juga harus lebih banyak minum air putih.” Dokter itu menjelaskan dan diangguki dengan patuh oleh Evelyn dan keluarga nya.
Ketika Mairen adik perempuan Evelyn mengantar dokter itu keluar, ibu langsung membuatkan nya sup agar ia bisa minum obat setelah makan selain itu Ayah nya menyuruh Evelyn untuk lebih banyak minum.
“kakak kenapa kau sangat nekat?” Tanya mairen saat Evelyn disuapi sup oleh Ibunya, sinar mata nya redup dan terihat sangat mengantuk. “nekat dan keras kepala adalah nama tengah nya, jadi jangan terkejut jika kau meilhat kakakmu bertingkah diluar nalar.” Bukan Evelyn menyahut melainkan ibu nya yang telah berisap-siap kembali mengomel.
Evelyn hanya pasrah menenggelamkan setengah wajah nya pada selimbut bulu, nafas nya terdengar cepat dan jelas ia tidak nyaman. Ibunya mengurungkan niat untuk memarahi nya karena dia terlihat kasihan. Saat Mairen menyentuh kakak nya rasanya sangat panas hingga ia berpikir dapat memasak disana. “kakak kau mulai demam!”
“Aku tahu, aku bisa merasakan isi kepalaku yang berputar.” Sahut Evelyn lirih.
“Mairen kembali ke kamarku ingat untuk memakai pakaian hangat, biarkan kakakmu istirahat.” Evelyn terkantuk-kantuk setelah meminum obat tidur dan ia benar-benar nyaman untuk sesaat ia tidak perlu merasakan nyeri di d**a nya.