9 penguntit

1107 Kata
Evelyn mengenakan mantel bulu milik nya, tubuh nya masih mengigil kedinginan meski telah duduk di dekat perapian dan mandi air panas. "Kau sangat nekat nak." Ucap Ayah Evelyn sembari mengusap kaki Evelyn yang mati rasa dan terasa dingin. Evelyn tersenyum kelu, tatapan nya melembut meski terdapat kekhawatiran jika prajurit kerajaan tiba-tiba datang dan menghukum orangtuanya. "Ayah jika aku tidak bersikap nekat maka aku tidak akan pernah bisa bertemu kalian." Evelyn berkata pelan. Ayah menepuk kepala Evelyn lembut, sikap sang Ayah yang sangat dirindukan oleh Evelyn ketika berada dikerajaan athanasía. "Tapi tidak dengan membahayakan nyawamu Evelyn, sewaktu-waktu kami bisa mengunjungimu jika kau merindukan kami." Evelyn mencebik ia menatap Ayah nya dengan tatapan tidak setuju. "Ayah juga tahu jika kau pasti terpilih, tidak ada pria yang bisa menolak kecantikan putriku ini termasuk seorang Pangeran sekalipun." lanjut Ayah Evelyn dengan mata berkaca-kaca yang berusaha disembunyikan. Perasaan sesak yang dirasakan oleh semua Ayah ketika akan melepas Putri nya menikah dengan pria lain. Evelyn tergugu, menangkup wajah sang Ayah. "Ayah jangan sedih, aku tidak akan menikah! Aku tidak mau menjadi bagian dari keluarga kerajaan." ucap Evelyn sungguh-sungguh, perasaan nya hancur saat melihat Ayah yang sangat dihormatinya bersedih. "Atau, atau kita bisa kabur dari kerajaan ini! Kita akan memulai kehidupan baru di tempat lain bersama Ibu, Ayah, aku dan Mairen." Ayah mengusap air mata Evelyn yang entah sejak kapan mengalir. "Pergi kemanapun orang-orang kerajaan akan tetap menemukan kita nak, karena kau adalah calon putri mahkota sekarang." Jelas Ayah Evelyn memeluk Putri nya yang sekarang telah bertumbuh dewasa, rasanya dulu Evelyn nya masih sangat kecil menyambut nya dengan senyum secerah matahari setelah lelah berkerja. "Ayah kumohon, kita belum mencobanya." isak Evelyn menarik tangan sang Ayah. Ibu yang melihat itu semua hanya terdiam cepat atau lembat semua ini akan terjadi, mereka akan kembali berhubungan dengan keluarga kerajaan walau telah melarikan diri sejauh mungkin. "Kita tidak bisa terus bersembunyi sayang." Ucap sang Ibu, ikut bersimpuh dan memeluk Putri nya. "Kita akan pergi jika Pangeran mahkota menyakitimu, pergi sejauh mungkin dari kerajaan ini." **** Kondisi Evelyn masih belum bisa dikatakan baik namun ia nekat pergi ke hutan seperti kebiasaan nya dulu untuk mencari kayu bakar ketika musim dingin tiba. Adik perempuan nya Mairen sudah berusaha mencenggahnya untuk pergi, namun sifat keras kepala Evelyn tetap membuatnya pergi. Ia tidak bisa diam saja dirumah disaat yang lain sibuk bekerja sementara ia tidak melakukan apapun. Jejak kaki terbentuk setiap kali ia melangkah diatas timbunan salju, padahal ini baru dua hari semenjak musim dingin tiba. namun salju ini telah menumpuk hingga semata kaki Evelyn. Matahari tak lagi terlihat dibalik kabut yang membatasi pandangan nya. Evelyn tahu setelah ini kehidupan tenang nya akan sirna, semenjak hari dimana ia terpilih menjadi istri seorang Pangeran. haruskah ia merasa senang? tidak, Evelyn sama sekali tidak senang dengan kenyataan itu. para tetangga dan orang-orang di kota telah mendengar kabar tentang nya, membuat mereka segan untuk menyapa. padahal Evelyn sama sekali tidak mengharapkan rasa hormat apapun, ia hanya ingin berbaur seperti biasa seperti kehidupan normal nya. Ia jadi teringat dengan Jeselyn, gadis itu sempat terlihat panik ketika ia dikejar-kejar oleh ksatria. bahkan gadis itu berteriak memanggil nya dengan khawatir. "Maaf Jeselyn tapi aku benar-benar harus pergi." Uap putih keluar dari sela bibir Evelyn sanking dingin nya, duduk di atas pohon yang tumbang Evelyn melihat siluet seseorang yang tengah memperhatikan nya dari kejauhan. pada awalnya Evelyn tidak terlalu peduli karena bisa saja itu adalah kebetulan, tetapi semakin lama orang-orang itu bertambah banyak bahkan ada yang menaiki kuda, terlihat berniat mendekat kearahnya. Buru-buru Evelyn mengambil kayu bakar yang telah dikumpulkan nya tadi. Berlari keluar dari hutan dengan nafas terengah membuatnya sesak. "Bandit hutan?" gumam Evelyn melirik kebelakang dimana orang-orang itu berhenti mengikuti nya saat ia telah keluar dari hutan. Orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan nya hanya Evelyn balas dengan senyuman. Sampai di rumah Evelyn menjatuhkan tubuh nya hingga sang Ibu yang melihatnya langsung khawatir. "Evelyn ada apa, apa yang terjadi? kenapa kau ketakutan seperti itu katakan pada ibu." Ucap sang Ibu, mengusap pipi Evelyn. "Ibu, aku merasa ada yang mengikuti ku." "Dimana?" tanya Ibu bertambah khawatir takut jika putrinya kembali menjadi sasaran perdagangan manusia. "Di hutan, mereka mengikuti hingga keluar dari dalam hutan." Sudah dimulai? Apa orang-orang kerajaan akan segera menjemput putrinya, apa setelah ini kehidupan tenang yang baru mereka rasakan akan hilang dan terenggut paksa? "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja." Ya semua akan baik-baik saja.. *** Evelyn kembali terserang demam malam itu dan bermimpi buruk, mimpi yang terasa kabur tetapi terasa menakutkan untuknya. Di dalam mimpi itu ia dikejar oleh sekelompok orang sampai memasuki hutan, lesatan panah seperti hujan, suara teriakan dan ia menangis karena sesuatu yang tidak ia ketahui mengapa? Evelyn terbangun ditengah malam, seluruh tubuhnya berkeringat dingin ia merasakan serangan rasa bersalah yang menjalari hati nya. Menutup wajah nya dengan telapak tangan Evelyn baru menydari ada sebuah kompres yang menempel dikeningnya. Disebelah ranjang nya Ayah Evelyn terkantuk-kantuk dikursi sepertinya sepanjang malam sang ayah tetap berada disamping nya untuk mengompres kening nya. Tidak tega Evelyn menguncang bahu sang ayah berusah untuk membangunkan nya. “Ayah bangun jangan tidur disini nanti seluruh tubuhmu kaku.” Katanya. Ayah Evelyn terbangun membuka matanya lalu tersenyum lebar ketika melihat putrinya. Ada rasa cemas disepasang mata coklat itu ketika melihat bahwa wajah putrinya masih terlihat pucat. Dia memeriksa kening nya dan bersyukur jika panas sebelumnya telah turun. “syukurlah panas nya turun. Lain kali jangan keluar rumah lagi kau membuat kami khawatir nak.” Ayah mengetuk pelan kepala Evelyn, dia mengantikan istrinya sepanjang malam untuk beristirahat. “kau habis bermimpi buruk?” “Ya, aku bermimpi sekelompok orang mengejarku setelah itu aku lupa.” Ayah terlihat kaget selama ini sejak kejadian itu bertahun-tahun ia membiarkan Evelyn melupakan nya, siapa sangka jika kejadian itu kembali datang dalam wujud mimpi. “Itu bukan mimpi, tetapi 4 tahun yang lalu kau pernah hampir diculik untuk dijual keperdagangan manusia.” “Aku tidak begitu ingat.” “Itu wajar karena kau sangat trauma dengan kejadian itu,” Ayah membuka laci disamping tempat tidur menemukan sebuah kotak dan memberikan nya kepada Evelyn. “bukalah.” Evelyn menuruti ketika ia membuka kotak iyu terdapat kalung permata, ia menatap ayah nya meminta penjelasan. “itu adalah lambang keluarga bangsawaan. Saat kejadian itu Ayah juga tidak begitu tahu karena kau tiba-tiba pulang dengan kedua kaki berdarah-darah sambil menggendong laki-laki yang tidak sadarkan diri. Kejadian itu begitu mengejutkan, setelah itu kita pindah ke desa lain dan kau mengalami demam tinggi efek dari trauma itu. Ayah menemukan kalung ini berada di kantung jubahmu sepertinya tersangkut saat kau menggendong nya.” Evelyn diam memandangi kalung itu dan tidak mengatakan apapun lagi hingga sang ayah kembali ke kamar nya dan meminta untuk beristirahat,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN