10 Dijemput kembali

1023 Kata
3 hari berlalu tidak ada tanda-tanda prajurit athanasía yang datang kerumah mereka, hal itu membuat Evelyn merasa lega. Mungkin saja raja Albert dan Ratu Arnetta telah menggantikan posisinya dengan gadis lain. Namun Evelyn juga merasa cemas jika pelarian nya akan membuat keluarga nya dihukum. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu membuat Evelyn melangkah keluar dari kamarnya, membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumah mungil mereka. Mungkin ada tetangga yang datang bertamu seperti kemarin. Hal pertama yang Evelyn lihat adalah wajah tampan dengan pakaian kerajaan yang menyatakan gelarnya. Pangeran mahkota. Spontan saja Evelyn langsung menutup pintu dengan membantingnya keras. Jantung nya berdebar keras, kemunculan pangeran mahkota secara tiba-tiba membuat nya panik. "Siapa yang datang bertamu?" tanya Ibu yang heran melihat sikap Evelyn tiba-tiba. Evelyn menggeleng dan tersenyum kecut. "Bukan siapa-siapa Ibu." jawab Evelyn gugup tanda jika ia sama sekali tidak dapat berbohong di depan orangtuanya. Dan sialnya ketukan pintu kembali terdengar bergema, membuat Ibu mendekat dan mencoba menggeser tubuh Evelyn. "I-Ibu itu hanya orang asing-" "Sudah jangan main-main lagi." ucap Ibu membuat Evelyn menggeser tubuhnya perlahan. Ketika pintu dibuka Pangeran mahkota tersenyum tipis, seolah tak menyadari ekspresi shok dari tuan rumah. "Aku datang untuk menjemput calon istriku, ibu mertua." Katanya membuat orang lain diluar rumah yang menonton kejadian ini membuat nafas terkesiap. Memang terkadang banyak bangsawan yang datang untuk melamar Evelyn, tetapi hanya bangsawan berpangkat rendah seperti count, baron, ataupun marquess. Tetapi ini adalah Pangeran mahkota yang secara langsung datang untuk menjemput Evelyn. Evelyn menghela napas panjang, ia memejamkan mata nya. Tiba-tiba saja kepala nya terasa pusing karena kunjungan mendadak ini. Ia kira yang akan mendatangi nya adalah prajurit Athanasía tetapi ternyata yang datang malah putra mahkota langsung. "Ibu mengapa ada banyak orang berpakaian hitam di pintu belakang?" Teriak Mairen dari arah belakang, adik nya terlihat kebingungan. Evelyn membuka mata nya lagi ketika mendengar perkataan adik perempuan nya, ada prajurit di pintu belakang yang artinya Pangeran telah memblokir semua akses nya untuk melarikan diri. Seolah-olah mengetahui apa yang ada di pikiran Evelyn, kedua sudut bibir Pangeran membentuk senyum miring. 'menjengkelkan' untuk pertama kali Evelyn mengutuk seseorang di dalam hati. Dan disinilah mereka, dimana Ayah, Ibu serta pangeran berkumpul di ruang tamu. Pangeran memperkenalkan dirinya sebagai Damian. Berniat menjemput Evelyn yang kini telah tercatat sebagai tunangan nya meskipun belum ada pesta perayaan karena Evelyn yang dahulu kabur. Evelyn hanya diam mendengar mereka bicara sementara ia ada dikamar bersama Mairen. Adik nya membantunya berpakaian alih-alih menenangkan kakak nya yang terkena serangan panik. "Dia tidak kelihatan buruk." Komentar Mairen yang duduk di ranjang Evelyn. "Aku tidak bilang apa-apa." Sahut Evelyn yang menggulung rambutnya. "Aku tahu, aku sebelumnya hanya berpikir jika dia adalah pria tua berperut buncit yang pemarah sampai kakak lari darinya." Entah mengapa bayangan Mairen tentang Pangeran Damian membuat Evelyn hampir tertawa. Ia tidak menyangka jika adik nya akan berpikir sejauh itu. "Kakak jangan tertawa, siapapun akan berpikiran sama karena kakakku yang cantik sampai melarikan diri dari istana." Wajah Mairen merah padam. "Namun, walaupun dia ternyata sangat tampan. Aku tidak mau kau pergi, pasti akan sulit untuk bertemu denganmu lagi setelah kau menikah." Evelyn memperhatikan perubahan ekspresi Mairen melalui cermin, ia menghampiri sang adik dan duduk disebelahnya. "Mairen, jika kau merindukan kakak kau tinggal mengirimkan surat padaku. Lalu aku pasti akan datang menghampirimu." Evelyn memeluk adik nya erat, "tidak akan ada yang berubah hanya karena aku menikah. Kau, Ibu dan Ayah adalah hal terpenting yang aku miliki. Jadi jangan khawatir." Ada jejak basah pundak Evelyn, adik nya menangis tanpa suara. Jarang-jarang Mairen mau menunjukan perasaan nya seperti ini, membuat Evelyn merasa bersalah. Di depan pintu kamar nya orangtua Evelyn melihat pemandangan itu dengan perasaan teriris, Evelyn dan Mairen tidak pernah dipisahkan jadi jarak yang tiba-tiba terbentang pasti akan membuat kedua kakak beradik itu saling merindukan. *** Evelyn yang mengunakan gaun biru yang dibawakan oleh damian, gaun itu memiliki jubah bulu yang membuat nya tenggelam setidaknya ini terasa agak hangat. Ia duduk berhadapan dengan Pangeran Damian, berusaha untuk tidak berinteraksi dengan nya. Udara masih terasa dingin akibat salju, mungkin menyadari tubuh Evelyn yang menggigil Damian mengeluarkan sebuah selimut tebal dari bwah kursi nya yang langsung diselimutinya ke tubuh Evelyn. "Terimakasih." ucap Evelyn pelan tanpa melihat wajah Pangeran mahkota. Perkataan Evelyn disahuti dengan dehaman singkat, selanjutnya kereta kuda itu hanya di isi dengan keheningan panjang yang menyesakan. Mungkin siapapun yang berada disana akan mereka tertekan dengan pandangan mata tajam dari pangeran mahkota pada Evelyn. "Kenapa anda menatapku begitu?" tanya Evelyn saat merasa risih dengan pandang mata pangeran mahkota. "Hanya memperhatikan wajah gadis yang melarikan diri saat badai salju, hanya karena menolak menikah denganku. Apa wajahku seburuk itu?" Damian berbalik bertanya dengan terang-terangan, membuat pipi Evelyn bersemu merah. Ia malu karena kata-kata ini mirip dengan apa yang di ucapkan oleh adiknya, mungkinkah semua orang saat itu berpikir jika Evelyn kabur karena alasan bahwa pangeran tidak cukup tampan untuknya? Jika dinilai sebenarnya wajah Damian sangat tampan, mirip dengan patung-patung dewa yunani saat pemujaan. Yang artinya damian seperti dewa yang hidup, "Anda sendirilah yang dapat menilai diri anda tampan atau tidak. Aku tidak berani untuk membuat kesimpulan." jawab Evelyn seadanya. Kembali hening, bahkan saat kereta kuda mereka telah memasuki kerajaan athanasía yang diselimuti salju putih. Evelyn turun dari kereta kuda sambil menundukkan kepala nya, tak berani melihat wajah-wajah kecewa atas perilaku nya tempo hari. Saat ia telah menginjakan kaki ditanah kerajaan athanasía. Tiba-tiba sebuah pelukan erat dari Jeselyn yang sudah menangis langsung mengejutkan nya. Ternyata ketika mendengar kabar nya yang akan segera dibawa kembali Jeselyn menunggu dengan sabar di depan istana, tida peduli dengan cuaca ia tetap menanti dilaur dengan sabar sampai para pelayan mencari-cari mantel paling tebal untuk mencegah nya kedinginan. "Syukurlah ... Syukurlah kau baik-baik saja." isak Jeselyn ketakutan seminggu ini ia selalu dilanda kegelisahan atas kondisi Evelyn yang kabur di tengah badai salju. Pelukan erat dari Jeselyn semakin menambah rasa bersalahnya, Evelyn membalas pelukan itu sama erat sekaligus mencoba menenangkan jeselyn. "Maafkan aku ... Maaf." 3 calon putri lain bersama dengan ratu arnetta juga menatapnya dengan lega, memikirkan calon ratu masa depan berkeliaran diluar sana membuat mereka ketakutan. Ratu Arnetta melambaikan tangan pada ajudan nya yang langsung mendekat dan berbisik. "Perketat penjagaan pada putri mahkota." katanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN