11 Putri mahkota

1028 Kata
Salju membuat keadaan sekitarnya berwarna putih nyaris tidak ada warna sama sekali. Evelyn kini terjebak di dalam perpustakaan, membulak-balik halaman buku tebal yang sama sekali tidak diperhatikan nya. Menghela nafas panjang, sekarang sudah tepat seminggu ia terpenjara di dalam istana Ruby, istana khusus untuk calon putri yang akan segera menikah dengan Pangeran. Khusus untuk Evelyn yang menjadi putri mahkota, istana nya ditempatkan dekat dengan istana utama yang dekat dengan istana Ratu Arnetta dan Raja Albert. Alasan nya agar Ratu Arnetta lebih dekat saat berkunjung ke istana calon menantu nya. Calon istri dan Ratu Pangeran Damian. Alasan yang aneh menurut Evelyn, bahkan dengan penjagaan berlapis ini membuat Evelyn merasa kalau ia adalah tahanan di kerajaan Athanasía. Teman bicaranya hanya Jeselyn yang kini tengah sibuk dengan gaun-gaun yang akan dipakainya nanti. ya pernikahan kerajaan akan berlangsung sekitar seminggu lagi, karena itu semua anggota kerajaan dibuat sibuk. Pernikahan nya sendiri? Katanya akan dilangsungkan saat musim semi nanti, kesehatan Evelyn juga sedikit terganggu karena pelarian nya saat itu, mengakibatkan diundurnya pernikahan putra mahkota. Selalu ada seorang dokter dan beberapa pelayan yang menyertainya kemanapun, dan jangan lupakan beberapa ksatria yang mengekor. Hal itu membuat Evelyn risih dan lebih memilih untuk berdiam diri di dalam istana nya. Bangkit dari duduknya Evelyn berniat menjelajahi perpustakaan istana, dimana setiap rak nya menyentuh langit-langit tinggi. Sebuah buku berjudul The Lost Princess membuat Evelyn tertarik. Evelyn membaca halaman pertama buku itu, "Putri kerajaan Serenità yang tiba-tiba menghilang 17 tahun lalu..." "Evelyn." Panggilan itu membuat Evelyn menoleh menemukan Jeselyn yang menghampirinya dengan senyum cerah, kedua pipi Jeselyn merona karena suhu di luar yang teramat dingin. semenjak pernikahan nya kian dekat gadis itu terlihat sangat bahagia dan juga keberadaan evelyn sebagai teman nya membuat nya lebih cerah. "The Lost Princess? Aku benar dengar cerita itu." kata Jeselyn saat mengintip judul buku yang Evelyn baca, kedua mata nya terlihat antusias. "Oh ya? Apa itu kisah nyata?" tanya Evelyn sembari menarik Jeselyn untuk duduk di dekat perapian untuk menghangatkan tubuh mereka. Jeselyn mengangguk, gadis itu menunjuk sampul buku yang Evelyn letakan di atas karpet. "Tentu! Kabarnya Putri kerajaan Serenità menghilang secara misterius saat pesta kerajaan diadakan untuk nya. Putri itu sangat cantik, hingga siapapun yang melihatnya sekali akan langsung jatuh hati." ujar Jeselyn semangat, "namun sayang sekali sampai saat ini dia tidak dapat ditemukan, ada yang bilang kalau putri itu diculik dan dibunuh tapi entah itu benar atau tidak. Kau tahu? Kerajaan serenità adalah kerajaan termakmur dan terkuat setelah kerajaan Athanasía." Evelyn mendengarkan penjelasan Jeselyn, sepertinya ia juga pernah dengar tentang kerajaan itu saat masih menetap di tempat tinggal nya dulu. "Sangat misterius." Gumam Evelyn. "aku penasaran apa yang telah terjadi oleh sang putri." Jeselyn mengangguk menyetujui. "Aku juga penasaran karena sampai sekarang kerajaan serenita tak memiliki pewaris lain untuk diturunkan tahta kerajaan, akan sangat disayangkan jika tahta itu dipegang oleh orang lain." "Nona waktunya anda kembali dan bersiap untuk makan malam." ucap pelayan yang mengurusi semua keperluan Evelyn semenjak ia menginjakan kaki di istana. Jeselyn memberengut kesal, padahal ia baru saja dapat bertemu dengan Evelyn, menyadari itu Evelyn menepuk pundak Jeselyn ringan. "Nanti kita bertemu lagi saat makan malam, saat itu kita bisa berbincang lagi." Setelah itu Evelyn melangkah pergi diikuti oleh para pelayan dan prajurit dibelakang nya. Sedari tadi ia merasa ada yang mengganjal di hati nya saat mendengar cerita dari Jeselyn, entah karena apa. ... Setelah mandi dan berhias Evelyn dipakaikan gaun berwarna coklat pudar tanpa hiasan apapun, satu-satunya gaun sederhana yang ada didalam lemarinya. Rambut Evelyn dibiarkan tergerai lepas satu-satunya hiasan yang tersemat dikepalanya hanya lah jepit berbentuk bunga dengan taburan batu berharga. Setelah itu Evelyn dituntun menuju ballroom dimana keluarga kerajaan telah duduk di kursi masing-masing, menunggu makan malam dimulai sembari berbincang hangat. Sedikit banyak Evelyn merindukan suasana rumah yang hangat dan diselingi dengan candaan, rasanya walau dikelilingi banyak orang Evelyn tetap merasa kesepian. Saat Evelyn melangkah masuk para calon putri dan Pangeran berdiri dan bersikap hormat saat menyambut nya, indentitas nya sebagai putri mahkota membuat Evelyn dihormati oleh semua orang termasuk para Pangeran. Evelyn balas menunduk dan duduk dengan tenang, disebelah nya Jeselyn tengah tersenyum malu-malu pada pangeran Edward yang berada diseberang mereka. Maklum saja pangeran Edward ternyata memilih Jeselyn sebagai calon istrinya, kebetulan dari awal Jeselyn juga menaruh perhatian lebih pada Pangeran Edward. Ting.. Bunyi itu membuat semua orang yang berada di ballroom menoleh, Raja albert bersama Ratu Arnetta telah duduk ditempat mereka. "Selamat malam, jamuan makan malam ini diperuntukan untuk para Putri yang akan menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Terkhusus untuk Putri mahkota kita Evelyn." ucap yang mulia Raja Albert mengangkat gelas nya kearah Evelyn yang menunduk hormat padanya. Semua orang bertepuk tangan merayakan calon anggota keluarga baru. Ratu Arnetta yang sedari tadi memperhatikan Evelyn akhirnya bertanya. "Kau baik-baik saja Putri mahkota?" Wajah Evelyn sedikit pucat, tubuhnya memang masih kurang sehat apalagi cuaca dingin makin memperburuk kesehatan nya. "Ya yang mulia Ratu." jawab Evelyn. Ratu Arnetta terlihat tidak puas dengan jawab Evelyn, menolehkan kepalanya kearah pangeran mahkota. Damian. "Putra mahkota sebaiknya kau antar putri mahkota ke kamar nya biarkan dia makan disana, lalu beristirahat." titah Ratu disetujui oleh Raja Albert yang mengangguk. "Ya putri mahkota terlihat masih pucat, jangan sampai kita mengundur pernikahan kalian lagi." katanya. "Akan saya lakukan." sahut Pangeran Damian bangkit dari duduknya dan menarik Evelyn keluar dari ballroom. "Aku baik-baik saja, sungguh." kata Evelyn namun pangeran Damian sama sekali tidak menggubris perkataan Evelyn. *** Duduk diatas ranjang setelah memakan makanan yang diantarkan pelayan bersama pangeran, suasana canggung begitu terasa membuat Evelyn merasa tidak nyaman. "Tidurlah." kata pangeran Damian yang bersandar ditepi jendela, tatapan nya datar tak terbaca. "Tidak bisa, anda masih-" Evelyn tidak menyukai suasana canggung ini, bagaimana bisa ia tidur sedangkan ada orang lain di dalam kamar nya? "Aku hanya akan berada disini sebentar lalu pergi, anggap saja aku tidak ada disini." ucap Pangeran Damian sambil bersidekap. Suara nya terdengar tenang dibalik bayang-bayang sinar bulan yang membelakangi nya. Akhirnya Evelyn menyerah dan memilih untuk memejamkan mata, mungkin karena efek obat tidur yang Pangeran Damian bubuhkan tanpa sepengetahuan nya Evelyn jatuh tertidur dengan cepat. Melihat Evelyn yang sudah terlelap, Pangeran Damian mendekat menyentuh surai Evelyn pelan. "Mungkinkah kau adalah dia yang selama ini kucari? Kenapa aku baru sekarang aku menemukanmu?" .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN