12 Serenita

1005 Kata
Evelyn terbangun pada tengah malam, ia berjalan kearah jendela dimana bulan bersinar dengan terang. Semenjak tinggal disini Evelyn selalu mengalami gangguan tidur sehingga kesehatan nya tidak kunjung membaik. Mungkin ia sama dengan bulan, indah namun selalu kesepian dalam kesendirian. "Aku merindukan kalian." Evelyn menyentuh kaca, berharap jika suatu saat ia bisa keluar dari istana yang mengekang kebebasan nya. Disaat para wanita lain datang ke istana berharap dapat menarik perhatian para Pangeran, menikah lalu memiliki kekuasaan dan kekayaan luar biasa. Evelyn malah berpikir sebaliknya harta hanya simbol kosong tak berarti namun keluarga adalah sesuatu hal yang tak ternilai dalam segi materi. Harta tanpa keluarga sama hal nya dengan Raja tanpa mahkota, kau memiliki kekuasaan namun disaat yang sama kau tidak memiliki mahkota untuk dihormati semua orang. "Aku tak bisa hidup seperti ini Ibu, aku ingin pulang." air mata yang selama ini Evelyn tahan akhirnya menghancurkan dinding pertahanan nya. Seorang Raja tidak mungkin hanya memiliki seorang Ratu di dalam hidup nya, pastilah Raja akan mengangkat beberapa selir untuk mengisi harem nya. Entah untuk keturunan ataupun ego pribadinya. Walaupun Raja Albert terlihat setia pada Ratu Arnetta, bukan rahasia umum jika Raja albert memiliki beberapa selir yang tersimpan di dalam harem nya. Suatu saat ia akan dilupakan, hadirnya hanya sebagai Ratu yang tak dianggap. Kehidupan mengerikan tanpa cinta dan dicintai, seumur hidup merasakan kesepian. Hidup seperti itu adalah hal terakhir yang dia inginkan. "Aku harus pergi. Benar, aku tak tidak bisa tinggal seumur hidup disini." Evelyn melangkah kearah lemari mencari pakaian yang cocok untuk nya, malam ini salju tidak terlalu banyak. Melepaskan satu persatu perhiasan nya hadiah dari Ratu Arnetta dan meletakkan nya di atas meja. Membuka sedikit pintunya, Evelyn menemukan ksatria kerajaan yang bertugas menjaganya mengantuk. Perlahan Evelyn melangkah keluar, berjalan di tengah lorong gelap sesaat Evelyn terdiam dibalik pilar saat Pangeran Edward dan Damian lewat. "Kau menyukai Putri Evelyn Damian?" pertanyaan pangeran Edward membuat Evelyn menahan nafas. "Tidak." Pertanyaan itu dijawab dengan begitu dingin tanpa perasaan. "Wah kau benar-benar kejam. Lalu kenapa kau malah menjemputnya?" "Karena dia membuatku penasaran" "Tunggu! Dengan kata lain kau akan membuang nya ketika rasa penasaran mu hilang? Kau memang iblis." Pada saat itu juga Evelyn merasa begitu dipermainkan oleh kerajaan ini dan berlari pergi sebelum seseorang menyadari keberadaan nya. Tanpa diketahui oleh Evelyn Damian memukul wajah saudara nya tanpa ekspresi. "Jangan membuat kesimpulan seenaknya. Aku tidak akan pernah membuang gadis yang kelak akan menjadi istriku sialan!" "Kau merasa ada seseorang disini?" tanya Pangeran Edward yang samar-samar mendengar suara langkah kaki. Damian juga merasakan nya dan hanya berkata singkat. "Ya." "Bagaimana kalau dia mendengar perbincangan kita tadi dan salah paham?" "Maka jagalah mulutmu sebelum berkata-kata." *** Evelyn telah berhasil keluar dari istana dan bersembunyi di dalam hutan, langkah nya membawa Evelyn ke sebuah sungai dengan aliran tenang. "Mungkinkah ini perbatasan kerajaan athanasía dan kerjaan serenità?" Evelyn tidak bisa kembali kerumahnya, Pangeran Damian pasti akan kembali menjemput nya jika ia kesana. Maka Evelyn akan bersembunyi di sebuah tempat dan berusaha untuk menghubungi orangtuanya tanpa diketahui oleh pihak istana. Mengikuti sungai itu Evelyn sampai di hulu dan menemukan sebuah rumah mungil. Mengetuk pintu Evelyn menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Terdengar suara dari dalam rumah itu, seorang wanita paruh baya membuka kan pintu. Untuk sesaat dia terlihat tercengang dan terpaku melihat Evelyn, seakan-akan bertemu dengan hantu. "Permisi boleh aku-" "Putri Elleanore?" perkataan Evelyn terpotong saat wanita paruh baya didepannya kini mengguncang tubuhnya. "Putri anda masih hidup? Syukurlah!" Lalu datang pria paruh baya yang juga terlihat shok saat melihat nya. "Putri anda kembali? Istana sangat merindukan anda putri!" Evelyn mundur perlahan, merasa ada yang salah. "Tunggu aku bukan putri Elleanore yang kalian maksud, aku Evelyn dan bukan seorang Putri." "Tidak mungkin! Hanya keluarga kerajaan serenità yang memiliki tanda lahir seperti itu! Anda sudah pasti putri Eleanor! Saya masih mengingat wajah anda dengan jelas." wanita paruh baya itu menunjuk luka yang berbatasan dengan leher dan juga pundak. Evelyn menyentuh luka itu, "ini bukan tanda lahir tapi sebuah luka, aku mendapatkan nya sejak masih kecil." "Tidak ada luka yang menyerupai uliran mahkota Putri." kini pria paruh baya itu yang angkat bicara. "Tapi anda sama sekali tidak terlihat menua masih persis seperti 17 tahun lalu." "Tapi umurku memang masih masih 17 tahun bibi." Evelyn mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini dan ingin melarikan diri. "17 tahun?! Nona tolong sebutkan namamu dan umurmu sekali lagi." wanita paruh baya itu seakan-akan ingin menangis. "Namaku Evelyn dan umurku 17 tahun." Dan benar saja setelah mengatakan itu wanita dan pria paruh baya itu terlihat menangis. "Kita menemukannya alex, tuhan benar-benar memberkati kita." "Kau benar Anne tak kusangka akan melihat kembali penerus kerajaan serenità saat masih hidup." Pasangan suami istri itu terlihat sangat bahagia sekaligus sedih saat menatapnya. "Kau sudah sebesar ini rupanya putri Evelyn, kau sama cantiknya dengan Ibumu." **** Sedangkan dikerajaan athanasía diliputi dengan kegemparan dikarnakan calon putri mahkota yang tiba-tiba menghilang, diperkirakan Evelyn kabur saat tengah malam. Raja Albert dan Ratu Arnetta terlihat mengamuk, bagaimana bisa para ksatria yang berjaga lengah begitu saja. "Aku tidak mau tahu! Cari putri mahkota sekarang juga! Dan jangan kembali hingga kalian menemukan nya." perintah Ratu Arnetta yang biasanya terlihat lembut kini terasa sangat mengerikan karena murka. "Ratu sebaiknya kau beristirahat." Raja Albert menenangkan istrinya yang terlihat sangat stress karena kepergian calon menantu nya. "Tidak bisa kita harus menemukan Evelyn sekarang juga, kondisi tubuhnya tidak baik." Ratu Arnetta bersikeras untuk menemukan Evelyn, ia tidak bisa membiarkan nya berkeliaran diluar sana tanpa penjagaan apapun. Adapun kesehatan nya sama sekali tidak baik di malam yang bersalju ini. Raja seolah mengerti mengapa Ratu Arnetta sampai sepanik ini, jadi ia menenangkan istri nya. "Aku tahu lagi pula putra mahkota sudah berusaha mencari nya." Disisi lain Pangeran Edward dan Damian yang berkuda untuk mencari jejak Evelyn yang telah hilang karena tertimbun salju terlihat gelisah. "Menurutmu apakah orang yang tadi malam itu adalah Putri Evelyn?" pangeran Edward bertanya dengan nada tidak enak hati, apalagi saat saudara seayahnya ini menatapnya dingin. "Menurutmu?" "Aku minta maaf." "Aku akan membunuhmu lebih dulu jika terjadi apa-apa padanya." desis Pangeran Damian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN