Hot 16 - Tes DNA

1607 Kata
Felix sedang berada di ruang tunggu rumah sakit. Setelah Darren, sang dokter sekaligus kawannya itu menyarankan untuk tes DNA pada Samuel, Felix segera menurutinya. Dengan pikiran jika benar Samuel adalah anaknya, Felix akan dengan senang hati membeberkannya pada Felly dan mengajaknya untuk menikah. Tentu saja, setelah 2 bulan yang akan mereka lewati sebentar lagi. Ini adalah salah satu cara mengikat Felly tanpa pemaksaan lainnya. Felly pasti akan bersedia untuk menikahi Felix demi anak. Dan mereka akan hidup bahagia selamanya. Felix senyum-senyum sendiri memikirkannya. "Sir, saya memiliki perasaan tidak bagus tentang ini." Felix berjengit kaget mendengar suara Karl yang tiba-tiba terdengar di sampingnya. Felix melotot pada Karl. "Kau! Sejak kapan di sini?!!" Bentaknya karena kaget. Karl yang tadinya menatapi pintu ruang tes darah yang ada Samuel di dalamnya, kini menghadap pada Felix. "Saya sudah ada sedari tadi. Anda saja yang tidak menyadari karena sibuk melamun sambil tersenyum." "Kapan aku melakukannya?!!! Kau saja yang tiba-tiba muncul seperti setan!!" "Bukannya Anda yang setan, Sir? Saya mana punya kekuatan tiba-tiba muncul seperti yang Anda katakan barusan." "Enak saja!! Aku ini iblis, tahu?!!" "Saya tahu, Sir." "Kau!!!" Kesal Felix sambil mendelik kesal. "Sudahlah! Aku tidak akan memberikan tugas ini padamu. Aku bisa menyelesaikannya. Bukankah kau senang jika aku tidak memberikanmu tugas?" "Tapi kasus yang ini terasa lain untukku, Sir. Anak itu memiliki identitas, yang artinya dia sudah memiliki akta kelahiran. Dan akta kelahiran itu didapatkan jika ada buku nikah dari pihak laki-laki maupun perempuan." Kata Karl panjang lebar. Terlihat sekali wajahnya sangat khawatir pada bos yang selama ini selalu menyusahkannya itu. Felix mengerjapkan matanya dan berpikir sejenak. "Kau benar juga. Baiklah, cari tahu tentang itu." Karl menundukkan kepalanya sejenak. "Baik, Sir," katanya, dan buru-buru pergi dari sana, meninggalkan Felix yang melongo. "Tumben sekali dia semangat mengemban tugas dariku. Biasanya harus kuancam dengan surat pengunduran diri." Komentar Felix sambil menggelengkan kepalanya dengan takjub. Pintu di depan Felix kemudian terbuka, dan menampakkan Samuel yang berjalan keluar dari dalam sana dengan dokter yang mengikutinya. Felix segera menghampiri dokter tersebut. "Sudah selesai? Berapa hari aku akan dapat hasilnya?" Dokter tersebut tersenyum pada Felix. "Karena Tuan Alarick sendiri yang memerintahkan agar mempercepat proses, saya usahakan hasilnya akan keluar 3 hari lagi." Felix tersenyum lebar. "Baik. Aturlah sesukamu. Kalau bisa, lebih cepat lebih baik." "Baik. Kalau begitu, saya permisi, Tuan." Kata Dokter tersebut sambil menunduk dan berlalu dari sana. Felix hanya nyengir senang di tempatnya. "Kau sungguh melakukan tes DNA padaku?" Tanya Samuel dengan kesal, Felix menatapnya. "Kenapa kau yakin sekali aku ada hubungannya denganmu?!" "Tentu saja karena kau anak Felly!" "Aku bukan anaknya!! Aku calon suaminya!" "Mulutmu itu perlu dijahit!! Kurang ajar sekali pada ayahmu!" "Kenapa kau sangat yakin jika kau adalah ayahku?!!" "Karena aku sudah pernah meniduri ibumu!! Dan itu sangat sering!!" Kata Felix sambil tersenyum bangga saat Samuel membuka lebar mulutnya dengan mata yang melotot. Samuel cemberut maksimal setelahnya. Dia melirik lengan Felix yang masih tertempel kapas yang melekat dengan bantuan plester. "Kau berdarah? Sudah tua masih saja takut pada jarum suntik!" Kata Samuel, mencari penghinaan untuk Felix. Felix melotot. "Kau ini!! Memangnya kau tidak berdarah, hah?! Aku yakin kau menangis di sana!" Samuel berkacak pinggang menantang Felix. "Oh ya? Apakah kau buta? Kau tidak lihat mataku baik-baik saja dan lenganku juga tidak diperban sepertimu?" "Kau!! Beri penghormatan pada ayahmu!" "Mati dulu, baru nanti aku beri penghormatan terakhir." "Kau!!!" Felix tidak dapat berkata-kata lagi. Anak ini sangat pintar membalas ucapan seperti ketika Felix berdebat dengan Makiel. Apakah jangan-jangan anak ini benar-benar anak Makiel?! *** Felly memeluk bantal guling sambil duduk melamun di atas kasur. Rumah yang sepi dan kasur yang seempuk kapas itu membuat Felly langsung terhanyut dalam lamunannya. Felly menggigit bibir bawahnya kuat saat ucapan David menghantuinya terus menerus. Ucapan David mengenai Felix yang mau tidak mau membuat Felly berdiri di antara percaya atau tidak percaya. Pasalnya, sifat yang David katakan mengenai Felix benar-benar tidak terpikirkan sedikit pun di benak Felly. Felix baik-baik saja dan normal-normal saja saat bersama Felly. Tidak ada sifat yang mencurigakan dan juga sifat jahat yang Felix tunjukkan pada Felly. Memikirkannya, Felly menghela napas pelan bersamaan dengan pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka dari luar. Felly menoleh, dan mendapati Felix yang nampak berbinar menatapnya. "Hai!" Sapa Felix sambil menutup pintu kamar. Felly membalas dengan senyuman singkat. "Hey. Sudah pulang? Sam mana?" Felix masih nyengir ketika membuka dasi yang mencekik lehernya. "Dia tidur di mobil, lalu kubawa ke kamarnya. Aku baik, kan?" Mau tidak mau, Felly terkekeh mendengarnya. "Ya. Baik sekali. Kau tidak mengajarkannya yang aneh-aneh, kan? Kau tidak membiarkannya bersama Kiel, kan?" "Tentu saja tidak. Aku masih waras untuk membiarkan Sam belajar cara bercinta dari Kiel." Jawab Felix sambil melempar jasnya ke kursi rias. Felix kemudian melompat ke atas tubuh Felly dan merangkak mendekati wajah Felly. Felly mengerjap kaget. Tangannya refleks menahan bahu Felix. "Hey, apa yang kau lakukan?!" Wajah Felix sudah sangat dekat dengan wajah Felly. Napas keduanya saling bersahutan. Felix yang senang, dan Felly yang gugup sekaligus panik. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan? Sedari tadi menggigit bibir bawahmu sendiri." Bisiknya tepat di depan bibir Felly. Felly menelan ludahnya dengan susah payah. Tangannya mencengkram erat bahu Felix. "A-aku hanya..." Felix menatap Felly tepat di manik mata. Bibirnya mengulas senyum. "Aku tidak peduli dengan alasanmu. Aku hanya ingin menciummu." "Tap—hmph!!" Ucapan Felly terhenti saat Felix mendorong tengkuknya dan mencium bibir Felly dengan keras, penuh tekanan, dan rakus. Melahap bibir Felly dengan penuh seolah kehausan. Menciumnya dengan tegas, keras tapi pasti. Felly kewalahan. Napasnya tersendat dan wajahnya terasa memanas merasakan benda lembab dan kenyal itu menyentuh bibirnya dengan kuat. Sampai akhirnya Felly menutup matanya dan mengikuti gerakan bibir Felix. Saling melumat dengan kehausan dan menginginkan. Kepala Felly turun ke bawah saat merasakan Felix memeluk pinggangnya dan menindih tubuhnya seutuhnya. Lidah basah nan kenyal milik Felix memasuki mulut Felly. Saliva keduanya yang tercampur, tertelan oleh Felly. Ciuman mereka makin dalam dan panas. Felly sudah kehabisan napasnya, namun Felix masih asik memainkan bibir Felly. "Ah..." Desah Felly saat bibir Felix beralih menjilati telinganya hingga basah. Felly meremas bahu Felix dengan kuat saat lidah Felix masuk ke dalam lubang telinga Felly. "Henti-ahhhkan." Tubuh Felly mengejang merasakan k3wanitaannya berdenyut menginginkan Felix. Lidah Felix masih asik bermain di telinga Felly, lalu turun ke leher dan mengecup beberapa kali di sana. Menjilatinya dengan perlahan dan meninggalkan sisa basah kemerahan di sana. "Felix—Ah!!" Felly berteriak secara tidak sadar saat merasakan tangan Felix sudah berada di balik celana dalam yang Felly gunakan, memasukkan 2 jarinya di sana, memenuhi Felly dengan sesak. "Berhenti! Ahhh..." Felly menggeliat, merasa tersiksa dengan jari Felix yang ada di dalamnya, lidah Felix yang menjilat lehernya, dan tangan Felix yang satunya lagi sudah mengelusi perutnya. "Felix—hahhh berhentihh!" Desah Felly lemah dengan tubuhnya yang menggeliat dan punggungnya yang naik ke atas akibat sodokan dari Felix di bawahnya. "Ssttt, nikmatilah, Sayang," bisik Felix tepat di telinganya, menjilati cuping telinga Felly dengan sensual dan menghadapkan wajahnya kembali dengan Felly. Mata keduanya sudah menggelap, pakaian Felix masih terpakai dengan sempurna sedangkan baju tidur Felly sudah awut-awutan. Felix mengecup kedua mata Felly dengan lamat, sedangkan tangannya tetap bermain di bawah Felly. "Tutup matamu, rasakan jariku di dalammu. Memuaskanmu. Membuatmu nikmat." Kata-kata Felix sukses membuat Felly mendesah. Jari jemari Felix yang ada di bawahnya makin terasa oleh Felly dan makin terasa nikmat. Felly sudah menggoyangkan pinggulnya dengan tak karuan. Bisa dia rasakan celana dalam yang digunakannya kini sudah terlepas dari tempatnya. Felly masih memejamkan matanya saat jari Felix yang tadinya mengaduk k3wanitaannya kini keluar masuk dengan cepat. "A-ah!!" Felly mencengkram seprei kasurnya saat merasakan mulut Felix mengulum klitorisnya. Mulut Felly terbuka lebar, matanya kini terbuka dan menatap Felix yang masih menjilati k3wanitaannya. "Ahhh, Felix. Aku tidak kuat!" Felix makin mempercepat jarinya di sana, membuat tubuh Felly menegang dan bergetar hebat akibat ulahnya. Dan saat lidah Felix turun dan bergabung dengan jarinya di dalam k3wanitaan Felly, ledakan itu datang dan membuat tubuh Felly gemetar hebat. "AH!!" Teriaknya kuat. Tubuh Felly tersungkur di atas kasur. Tubuhnya melemas seketika setelah merasakan ledakan itu. Pandangannya mengabur namun telinganya dapat mendengar suara sabuk yang jatuh ke lantai. Felly mencoba menajamkan pandangannya untuk menatap Felix. Dapat ia rasakan Felix membuka lebar kedua kaki Felly. Felly panik seketika. "Felix! Kupikir tidak seharusnya—AH!" "Terlambat," Felix menyeringai saat wajahnya sudah sejajar di hadapan wajah Felly dan k3jantanannya sudah masuk setengahnya ke dalam k3wanitaan Felly. Felly mengejang saat Felix memajukan kedua lututnya, dan k3jantanannya masuk sepenuhnya ke dalam diri Felly. Keduanya mendesah nikmat. Felix memejamkan matanya, menikmati. "Kau masih sangat sempit dan nikmat." Felly sudah terengah-engah. Tangannya kini mencengkram bahu Felix. "Terlalu besar... hahhh kita tidak boleh melakukan ini, Lix!" Felix malah menyeringai. Dia menegapkan tubuhnya menjadi duduk di atas kasur dengan k3jantanannya yang masih berada di dalam k3wanitaan Felly. "Sudah terlanjur." Srek!! Daster yang digunakan Felly seketika, robek tak berbentuk. Felly melongo melihatnya. "Ah!" Desahan Felly kembali datang saat Felix mengulum p****g p4yudaranya dengan kuat. Felly mengejang, mencengkram seprei dengan kuat sedangkan Felix sibuk mengulum p****g p4yudara Felly sambil melepaskan kemejanya sendiri. Felix membuang kemejanya ke segala arah. Memeluk Felly yang ada di bawahnya, merasakan dadanya yang menempel pada p4yudara milik Felly. "Ah!! Ah!! Ah!" Felly mendesah kuat saat Felix tiba-tiba bergerak dengan cepat dan tak terkendali. Tangan Felly mencengkram semua yang dapat diraihnya. Rambut Felix, seprai, bantal dan apapun yang dapat digapainya. Felix bergerak kesetanan, terlalu dalam. Keras, cepat dan kuat yang membuat Felly bahkan hanya dapat membuka mulutnya lebar-lebar merasakan sentakan kuat dan dalam-dalam di k3wanitaannya. Menyentuh titik terdalamnya. Mengeluarkan spermanya di dalam Felly saat ledakan itu datang. Akhirnya Felly melakukannya lagi. Dengan sadar dan menerima saat Felix menikmatinya. Bahkan berkali-kali Felix menyemburkan spermanya di dalam Felly. Kembali, Felly membuat dosa dengan Felix. Pria yang Felly pikir adalah kakak kandungnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN