"Jadi... dia anakmu?"
Pertanyaan dari Alarick sukses membuat Felix menggetok kepalanya dengan kencang. Saat ini, Felix dan keempat temannya sedang berada di private room salah satu restoran terkenal di LA. Mereka hanya memesan beberapa makanan, sedangkan Sam yang berada di samping mereka sedang memakan banyak makanan yang tersaji di meja tersebut.
"Aw! Apa aku salah?! Dia sangat mirip denganmu!!" Gerutu Alarick sebal.
Felix melotot. "Aku tidak sudi punya anak sepertinya!!"
"Aku juga tidak sudi punya ayah sepertimu!!" Balas Sam sambil tetap memakan makanannya dengan rakus.
Makiel yang masih melongo melihat anak kecil di sekitar mereka, segera berdeham pelan. "Hey, kid. Kau anak siapa? Kenapa kau bersama Felix?"
Sam mengedikan bahunya. "Felly mengajakku jalan-jalan bersama dengan temannya. Namun Manusia Sinting ini tidak membolehkanku dan malah mengajukan diri untuk membawaku jalan-jalan."
Makiel beralih menatap Felix. "Kau bodoh atau apa?!! Malam ini kita akan ke kelab malam!! Mana mungkin kita membawanya?!!!"
"Kenapa tidak mungkin? Tinggal bawa saja. Kita sogok penjaganya pakai uang."
"Oh ya, kau benar juga."
"Dua manusia bodoh ini," Darren akhirnya berkomentar. Dia menggelengkan kepalanya dengan prihatin. "Aku tidak ikut ke kelab malam."
"Kalau begitu, kau mengasuh anak ini," kata Felix cepat sambil nyengir lebar. "Anna pasti senang melihat anak kecil."
"Ya! Anna senang tapi aku tidak! Aku ada pengalaman buruk dengan anak kecil," kata Darren sambil menggelengkan kepalanya cepat, tidak ingin ikut andil dalam kegiatan yang Felix sarankan. "Alarick saja yang mengasuhnya."
"Baiklah, aku akan mengajarkannya kasino," kata Alarick sambil meminum minumannya dengan sedotan. Mata ketiga orang dewasa di sana menatapnya dengan datar. "Kenapa? Tidak boleh aku ajarkan judi? Baiklah, berikan pada Kiel saja."
"Jika Kiel yang mengasuhnya, dia akan mengajarkan threesome, Bodoh!!" Sentak Felix kesal.
"Ya tidak apa-apa. Pengetahuan reproduksi manusia sejak dini." Kata Alarick sambil terkekeh.
"Kau ternyata lebih tidak waras dari aku," kata Makiel dengan prihatin. "Hidup terpisah dengan Valerie membuat otakmu korslet, ya?"
Alarick menggaruk lubang telinganya dengan santai dan melipat tangannya di depan d**a. "Lebih dari itu. Tidak melihat Valerie sudah hampir membuat otakku meledak. Aku sangat merindukannya tiap detik. Tapi Kakek Syalan itu masih memberikan jam besuk padaku. Benar-benar minta dibuatkan peti mati."
"Kau sudah pernah membuatnya, jika kau lupa. Dan Kakek Dami memberikanmu tanah kuburan yang sangat luas." Kata Makiel mengingatkan.
Alarick melotot seolah mengingat hal tersebut. "Oh ya! Kau benar sekali, Kiel. Sepertinya, kali ini aku harus membeli tanah kuburan juga untuknya."
"Dan batu nisan, jangan lupa."
"Batu nisan! Kau cerdas sekali."
"Dan setelah itu, surat cerai yang ditandatangani Valerie dikirim Kakek Dami padamu." Kata Darren menusuk pada Alarick.
Wajah Alarick pucat seketika. "Dan saat itu terjadi, akulah yang mengubur diriku sendiri di tanah kuburan."
Darren menggeleng prihatin melihatnya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Samuel yang sedari tadi asyik makan makanan enak. "Hey, kid. Siapa namamu?" Tanyanya pada Sam.
Sam menelan makanannya dengan susah payah. "Sam. Samuel Christine."
"Samuel?!!" Pekik ketiga orang di sana.
Makiel segera menatap Felix. "Hey, kau tinggal dengannya tapi kau tidak tahu namanya?"
Felix menggeleng. "Aku hanya tahu namanya Sam." Ucapnya syok.
Apalagi Alarick yang sudah duduk tegap dengan tangan yang mengepal di atas meja. "Apakah Felly serius?!! Kenapa dia mengukut manusia dengan nama menjijikan itu?!!"
"Alarick," Darren mengingatkan, ketika melihat ekspresi Sam yang kaget mendengarnya. Alarick memang manusia bermulut pedas. Dia langsung mengucapkan perkataan yang ada di pikirannya walaupun tahu jika orang lain akan tersakiti karena ucapannya. Darren kembali menatap Sam ketika Alarick sudah mendesah pasrah. "Kau dibesarkan oleh Felly?"
Sam mengangguk. "Ya. Dia ibuku di dalam kartu keluarga."
Keempat orang itu kemudian saling tatap. Darren berdeham. "Kau tahu apa maksudnya, kan? Felly berarti bukan ibu kandungmu?"
"Tentu saja Felly ibu kandungku! Tapi Justin mengatakan jika Felly hanya ibu di kartu keluarga. Dan aku boleh menikahinya."
"Kau!!" Felix kembali emosi mendengarnya. Sam mengabaikan dan kembali makan makanannya.
Darren segera meraih tangan Felix dan mendekatkan wajah mereka. "Felix, ini serius. Kau bercerita pada kita waktu itu tentang kau yang meniduri Felly. Jika Sam berumur 8 tahun, itu sangat pas dengan Felly yang kabur 9 tahun lalu. Kemungkinan, dia hamil saat kabur dan Sam adalah anakmu." Bisiknya.
"Tapi kenapa dia ingin menikahi ibu kandungnya sendiri?!!"
"Ck, bodoh!! Kenapa kau hanya fokus pada hal itu saja?!! Jika benar Sam adalah anakmu, apa kau tidak berpikir tentang apa yang Felly alami selama 9 tahun ini? Hah?!"
Felix terlihat berpikir. Wajahnya yang tadi masih mengeras karena emosi, kini menjadi wajah serius.
"Lebih baik, kau tes DNA dulu, Lix," kata Alarick menengahi. "Siapa tahu Felly benar-benar melahirkan anakmu."
Felix saling tatap dengan Alarick dan Darren, kemudian menghela napas panjang. "Walaupun aku belum siap punya anak, apalagi semenyebalkan Sam, aku harus tahu apakah Felly menyembunyikan sebuah rahasia dariku."
"Ngomong-ngomong, ke mana Felly?" Tanya Alarick.
Felix mengedikan bahunya sekilas. "Dia berkata jika ia bertemu temannya hari ini. Aku tidak tahu siapa, tapi ada banyak penjagaku yang akan mengintainya."
"Permisi, Tuan-tuan. Apakah kita jadi ke kelab malam hari ini?" Tanya Makiel yang kini sedang ikut makan bersama Sam. "Kid, tadinya aku heran kenapa kau bisa pintar bahasa Inggris, dan ternyata kau belajar langsung dari Felly. Kau adalah makhluk Indonesia yang beruntung."
"Kau berkata seolah negaraku adalah planet dan orang-orang di sana adalah alien. Padahal kau juga tidak bisa bahasa Indonesia. Tidak sepertiku yang menguasai 5 bahasa."
Ucapan Sam membuat 3 orang teman Felix segera menatap Felix dengan ngeri. Sam benar-benar mirip dengan Felix.
***
"Felly!"
Panggilan itu membuat Felly yang asik menatap seisi mall, segera menoleh ke arah suara dan mendapati sepupunya, David di sana. Salah satu keturunan keluarga Phillips yang merupakan anak bungsu dari adiknya kakek Felly. Melihat wajah tampan yang sangat maskulin siang ini membuat Felly tersenyum lebar dan berlari pada David. Mereka berpelukan sambil tertawa di tengah-tengah mall tersebut, membuat orang-orang yang berada di mall sukses menjadikan mereka perhatian sesaat.
David melepaskan pelukannya dan mencubit hidung Felly dengan gemas. "Lihat ibu satu anak ini. Kenapa masih cantik saja?" Gemas David.
Felly manyun dengan tangan yang masih melingkar di pinggang David. "Tentu saja. Sampai tua nanti pun aku tetap cantik!"
David tersenyum mendengar nada semangat dari wanita itu. "Ah ya, mana Sam? Dia tidak ikut?"
Felly menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak. Dia tidak ikut."
"Kenapa? Aku ingin melihatnya. Terakhir bertemu, dia sudah lancar berbicara. Aku penasaran apa dia melupakanku atau tidak. Sudah... sekitar 5 tahun kita tidak bertemu?" Kata David panjang lebar sambil berpikir.
Felly menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Dia menatap David dengan ragu. "Dia... sedang bersama Felix." Katanya jujur.
"Apa?!" David melotot kaget mendengarnya. Dia melepaskan pelukan Felly dan menjauh 1 langkah dari Felly. Matanya berbinar tidak percaya. "Felly... kau serius?"
Felly kali ini terlihat bingung untuk berkata-kata. Dia makin menggigit bibir bawahnya dengan gugup. "I-ini alasan kenapa aku ingin bertemu denganmu. Semuanya di luar kendaliku. Aku bukannya sengaja ingin kembali ke LA atau bertemu Felix. Aku—"
"Kalau kau kembali padanya, untuk apa aku membantumu waktu itu?!!!" Bentak David. "Apakah Sam bersamanya?! Apakah dia tahu jika Sam adalah darah dagingnya?!"
Felly terlihat enggan untuk menjawab. Dia menatap David penuh permohonan, namun David balas menatapnya dengan penuh tuntutan. Felly menghela napasnya, lalu menunduk. "Ya, dan tidak. Ya, untuk pertanyaan tentang Sam bersama Felix. Dan tidak, untuk pertanyaan yang kedua."
David memejamkan matanya dan memijat pelipisnya dengan lamat. "Berikan Sam padaku."
Felly melotot. "Dave!! Apa yang kau katakan?!"
"Biarkan Sam tinggal bersamaku sementara waktu. Felly, Felix lebih berbahaya daripada yang kau tahu!!!" Bentak David. "Dia jelmaan dari iblis. Aku sudah mencaritahu segala tentangnya dan ambisinya sungguh membahayakan orang lain!!"
"Dave..."
"Jika kau ingin Sam selamat dan masih hidup, berikan Sam padaku. Aku ayah baptisnya! Aku yang berkontribusi memberikan akta kelahiran dan juga kartu keluarga untuknya! Dia akan aman bersamaku."
"Lalu kenapa kau menganggap dia tidak aman bersama Felix? Felix ayah kandungnya!!" Felly balas membentak.
"Kau tidak mengerti, Felly. Aku—"
"Kalau begitu, buat aku mengerti, Dave!! Sam juga anakku!!"
David terdiam sejenak. Mereka saling tatap dengan keteguhan masing-masing. David kemudian menghela napas pelan. "Semuanya sangat rumit, Fel. Intinya, Felix sangat tergila-gila padamu. Dan kalau dia tahu Sam adalah salah satu halangan untuknya memilikimu, dia akan memisahkanmu dengan Sam. Dan yang paling buruk, dia mungkin akan menyakiti Sam untuk mendapatkanmu."
Felly menggeleng tidak percaya. "Tidak mungkin! Felix tidak akan sekejam itu!"
David menatap sekitaran mall untuk melihat situasi. Dia kemudian meraih tangan Felly, menariknya agar mengikuti langkahnya yang tergesa. Mereka sampai di tangga darurat. David melihat ke tangga bawah dan juga tangga menuju ke atas, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada Felly.
David mengubah ekspresinya menjadi serius. "Kau tidak tahu apapun, Fel. Kau pikir, menjadi lulusan terbaik saat di HS, JHS, SHS, dan di Universitas itu adalah sesuatu yang mudah? Apakah ada manusia se-sempurna itu di matamu? Banyak yang Felix lakukan untuk mendapatkannya. Memanipulasi temannya satu sama lain, mencurangi orang lain dengan rapi. Felix tidak sepintar Darren, tapi kenapa dia bisa memenangkan banyak kompetisi dan juga juara terbaik?" David menjelaskan.
"Karena dia belaj—"
"Kau tidak mungkin se-naif ini, kan?" Kata David memotong. Felly terlihat terguncang mendengarnya. David memegang bahu Felly, menatap mata Felly dengan dalam dan lamat. "Felly, dia terobsesi denganmu. Dengan keluargamu."
Felly mengerutkan alisnya dengan bingung. "Apa maksudmu? Felix mencintai wanita lain!"
David menggelengkan kepalanya. "Dari kecil, dia sangat tergila-gila padamu, Fel!"
"Tapi sekarang dia mencintai Valerie!"
David menatap kedua mata Felly bergantian, kemudian menggeleng kembali. "Aku tidak tahu bagaimana Felix menyakinkanmu, tapi dia hanya mencintaimu dari dulu hingga sekarang."
Felly terdiam dengan tidak percaya kala mendengarnya. Jika benar Felix masih mencintai Felly, untuk apa Felix menyuruh Felly untuk berpura-pura sebagai Felicia demi mendapatkan Valerie?
"Dengar, Felly," David memanggil namanya, membuat Felly kembali tersadar dari lamunannya. "Felix memiliki hobi menguji seseorang. Dari dulu hingga sekarang, dia menguji seseorang untuk mendapatkan sebuah jawaban atau posisi. Dia senang bermain-main walaupun itu menyakiti orang yang dia uji. The Devils tahu ini dan bahkan mereka tahu hubunganmu dengan Felix."
"Apa?" Bisik Felly tidak percaya. Matanya melotot menatap David. "Maksudnya... teman-teman Felix selama ini tahu jika dahulu kami saling mencintai?"
David menganggukkan kepalanya.
Felly makin terguncang. Matanya berkaca-kaca menatap David. Jika benar teman-teman Felix tahu tentang hal tersebut, Felly sudah tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan mereka. Felly sangat malu. Bagaimana bisa hubungan mereka terbongkar dan Felix tenang-tenang saja saat bersama dengan The Devils?
"Felly, kau harus tenang dulu sekarang." Kata David.
Felly kembali menatap David. "Bagaimana aku bisa tenang, Dave?! Mereka tahu! Bagaimana jika mereka mengatakan pada orangtuaku?"
"Felly! Tempat teraman bagimu sekarang adalah rumah orangtuamu!" Kata David sambil mengguncang bahu Felly. "Lebih baik, kau ke rumah orangtuamu. Minta bantuan mereka. The Devils adalah orang-orang yang sangat berkuasa! Kau tidak akan pernah lepas dari mereka."
"Jadi, aku harus kembali ke rumah orangtuaku? Lalu bagaimana dengan Sam? Mereka pasti tidak akan mudah menerima Sam!"
David memajukan wajahnya, menatap serius pada manik mata Felly. "Percaya padaku, Fel. Aku akan membantumu. Tempat teraman bagimu adalah mereka."
Felly menatap David dengan ragu. Dia kemudian mundur dan melepaskan tangan David dari bahunya. "Bagaimana bisa aku mempercayaimu? Bisa saja kau berbohong. Kau dan Felix sekarang adalah musuh."
David membuka mulutnya dengan tidak percaya mendengar kalimat yang keluar dari mulut Felly. "Setelah apa yang kulakukan selama ini untuk membantumu, kau tidak percaya padaku sekarang?"
Felly tersentak, tersadar dari ucapan dan sikapnya barusan pada David. "Dave, maaf... aku tidak—"
"Sekarang terserah padamu. Aku hanya bisa membantumu sampai sini."
"Dave—"
"Aku kecewa padamu, Fel." Kata David, kemudian membuka pintu tangga darurat dan pergi dari sana.
"Dave!" Seru Felly sambil mengejar keluar. Dia menemukan punggung sosok yang dicarinya itu menjauh dari tempat Felly berdiri. Felly terdiam melamun di tempatnya. Mengingat ada 2 pria yang keluar meninggalkan Felly dari tempat yang sama.
Sepertinya, Felly tidak bisa berteman baik dengan tangga darurat.